RSS

Angin Dari Gunung

Cerpen AA Navis

Sejauh mataku memandang, sejauh aku memikir, tak sebuah jua pun mengada. Semuanya mengabur, seperti semua tak pernah ada. Tapi angin dari gunung itu berembus juga. Dan seperti angin itu juga semuanya lewat tiada berkesan. Dan aku merasa diriku tiada.

Dan dia berkata lagi. Lebih lemah kini, “Kau punya istri sekarang, anak juga. Kau berbahagia tentu.”

“Aku sendiri sedang bertanya.”

“Tentu. Karena tiap orang tak tahu kebahagiaannya. Orang cuma tahu kesukarannya saja.”

Dan dia diam lagi. Kami diam. Angin dari gunung datang lagi menerpa mukaku. Dan kemudian dia berkata lagi. “Sudah lima tahun, ya? Ya. Lima tahun kawin dan punya anak.”
Aku masih tinggal dalam diamku. Aku kira dia bicara lagi.

“Kau cinta pada istrimu tentu.”

“Anakku sudah dua.”

“Ya. Sudah dua. Kau tentu sayang pada mereka. Mereka juga tentunya. Dan kau tentu bahagia.”

Dia berhenti lagi. Lalang yang ditiup angin bergelombang menuju kami. Lalu angin menerpa mukaku lagi. Dan aku merasa ketiadaanku pula. Angin pergi.

“Kau ingat, Har?”

“Apa?” kutanya dia dengan gaya suaranya.

“Sembilan tahun yang lalu.”

“Ya. Aku masih ingat. Tapi itu sudah lama lampaunya.”

“Ya. Sudah lama. Aku tak pernah mau mengingatnya. Tapi kini aku ingat lagi.” Dia diam lagi. Dan memandang jauh ke arah gunung itu. “Ketika itu seperti macam sekarang. Kita duduk seperti ini juga. Tapi tempatnya bukan di sini. Aku masih ingat, sekali kau menggenggam jariku erat sekali. Aku biarkan dia tergenggam. Dan dalam tekanan genggamanmu, aku tahu kau mau bicara. Dan aku menunggunya. Tapi kau tak berkata apa-apa.”

“Masa itu, masa kanak-kanak kita,” kataku. Tapi cepat kemudian aku jadi menyesal telah mengatakannya.

“Ya,” katanya dengan suara tak acuh. “Jari-jariku itu sudah tak ada lagi kini. Kedua tanganku ini, kaulihat? Buntung karena perang. Dan aku tak lagi dapat merasa bahagia seperti dulu. Biar kau menggenggamnya kembali. Mulanya aku suka menangis. Menangisi segala yang sudah hilang. Tapi kini aku tak menangis lagi. Tak ada gunanya menangisi masa lampau. Buat apa?”

Aku jadi sentimental dan hatiku berteriak, meneriakkan seribu kenangan yang datang mengharu biru. Kucoba membuang segala kesenduan, tapi aku menjadi tambah tenggelam olehnya. Dan angin meniup lebih syahdu terasa. Serasa ada nyanyian iba besertanya.

“Tak ada gunanya,” katanya lama kemudian. Dan aku menunggu dia bicara lagi. Tapi itu saja yang dikatakannya. Tak diteruskannya. Kedua tangannya yang buntung itu diacungkannya ke depan, disilangkan, lalu digesek-gesekannya. Melihat itu, aku mau tersedu. Tersedu seperti ketika pusara Ibu mau ditimbuni.

“Kau punya anak, punya istri. Dari itu kau punya pegangan hidup, punya tujuan minimal. Tapi yang terpenting kau punya tangan. Hingga kau dapat mencapai apa saja yang kaumaui. Sebagai suami, sebagai ayah, sebagai laki-laki, sebagai manusia juga, seperti yang kita omongkan dulu, kau dapat mencapai sesuatu yang kauinginkan. Alangkah indahnya hidup ini, kalau kita mampu berbuat apa yang kita inginkan. Tapi kini aku tentu saja tak dapat berbuat apa yang kuinginkan. Masa mudaku habis sudah ditelan kebuntungan ini.”

Dan tangan itu diturunkannya lagi. Dia memandang lebih jauh melampaui balik gunung dari mana angin meniup. Kala itu aku ingin mengatakan sesuatu kepadanya. Sebuah ucapan yang indah dan memberi semangat seperti dulu sering kuucapkan untuk anak buahku di front Barat. Tapi bagaimana aku dapat mengatakan, kalau semangat itu sendiri telah kulemparkan jauh-jauh pada suatu ketika.

“Dulu aku cantik juga, bukan?” katanya pula. “Bahkan tercantik di front Barat itu. Aku tahu semua orang mau menarik perhatianku. Semuanya mau mati-matian dan bekerja berat di depanku. Semuanya mau berjuang membunuh musuh demi mendekatiku. Tapi keitika musuh datang, aku kebetulan tak ada disana, mereka habis lari kehilangan keberanian.

Kalau pemimpin yang datang di front, di waktu tak ada perempuan, aku menjadi sibuk. Aku diminta mengatur tempat tidur mereka. Dan ketika mereka mau pergi, dicarinya aku dulu. Dijabatnya tanganku erat-erat. Dan di ucapkannya kata-kata yang indah berisi keharuan. ‘Kami atas nama pemerintah dan seluruh pemimpin perjuangan revolusi kemerdekaan mengucapkan terima kasih kepada Saudari. Kami sangat merasa bangga dengan adanya patriot wanita seperti Saudari, yang selamanya menyediakan waktu untuk memberi semangat kepada prajurit kita. Kami juga yakin, kalau Saudari tak di sini, tentu front ini sudah lama di duduki musuh.’

Begitulah. Kalau ada orang sakit, aku juga yang merawatnya. Dan di waktu malam-malam yang damai, mereka minta hiburan. Aku bernyanyi. Mereka memetik gitar. Dan mereka dapat melupakan segala hal-hal yang menekan. Dan waktu itu, aku sering merasa jumlah tanganku yang masih kurang. Aku mau tanganku lebih banyak lagi. Kalau boleh sebanyak jari ini.

Tapi sekali pernah juga aku berpikir-pikir, bahwa hidup seperti itu tidaklah akan selamanya berlangsung. Suatu masa kelak akan berakhir juga. Dan kalau perang sudah selesai, aku ingin bersekolah lagi. Sekolah apa? aku tak tahu. Yang aku tahu Cuma, tambah banyak ilmu, tambah banyak yang dapat diperbuat. Ya, itulah semua.”

Satu demi satu ucapannya bercekauan dalam hatiku. Dan kini kumandangnya lebih menyayat terasa, lebih menusuk. Aku jadi tak berani mengangkat kepalaku. Makin lama kian terkulai keseluruhan adaku di dekatnya.

Matahari ketika itu sangat cerahnya. Bayangan pohon manggis bertelau-telau pada rumput hijau. Dan di kiriku dia duduk mengunjurkan kakinya. Kaki itu kaki yang dulu juga. Kaki yang pernah menggodaku. Sekarang kaki itu terhampar begitu saja. Dan aku tak dapat memandangnya lama-lama, karena kaki itu tidak berbicara apa-apa lagi bagiku kini. Dan perasaanku tidak seperti dulu lagi. Justru itulah yang menyebabkan aku merasa dipilukan perasaanku sendiri. Hendak kuelus hatinya, hendak kuceritakan sejarah hidup Helen Keller. Bahkan hendak kukatakan juga, bahwa aku mau memeliharanya. Memelihara dia? Tidak. Dan aku sudah punya dua anak. Agus dan Hafni. Ketika aku sadar jalan itu buntu, aku menyesali diriku sendiri. Juga menyesali segala yang sudah terjadi. Dan aku tak bisa berdoa untuknya. Doa serasa tak berharga kini. Tiap-tiap orang punya doa. Dan doa sekadar doa, tak ada gunanya. Maka aku merasa segalanya jadi terbang.

“Apa yang kaupikirkan?” tanyanya tiba-tiba.

Aku jadi gugup dan tersentak dari keterbanan perasaanku. Dan aku katakan, bahwa aku sedang memikirkannya.

“Masa dipikirkan lagi,” katanya. “Apa perlunya? Semua sudah sewajarnya, bukan?”

“Apa?” tanyaku ragu-ragu.

“Kau memikirkan aku, kan?”

“Tidak setepat itu benar. Aku sedang memikirkan apa yang hendak kulakukan.”

“Untuk apa?”

“Untukmu.”

“Sia-sia saja.”

Tiba-tiba kuingat pada pusat rehabilitasi di Solo. Dan lalu kukatakan kepadanya. Lama ia terdiam, dan matanya seperti melangkaui segala apa yang dapat dilihatnya.

“Bagaimana? Setuju? Kalau kau setuju jangan kaupikir apa-apa. Aku yang uruskan semua.”

Tapi dia masih tiada memberi reaksi. Dan aku mendesak lagi.

“Kalau perlu …Ah, tidak, Aku sendiri yang akan mengantarkan kau. Barangkali tidak lama kau di sana, kau sudah bisa pulang lagi. Dan selanjutnya kau sudah bisa berbuat sesuatu lagi, seperti dulu.”

Lalu ia memandang padaku. Dan tersenyum. Tapi senyumnya ini menusuk hatiku. Aku jadi gugup.

“Mengapa kau tersenyum?” tanyaku dalam kehilangan keseimbangan diriku.

“Mungkinkah orang seperti aku ini dapat berbuat sesuatu?” tanyanya dengan suara yang lain sekali bunyinya. Begitu pahit.

Dan aku jadi ragu-ragu untuk meyakinkannya lagi. Lalu aku pura-pura tak mendengarkan apa katanya. Aku beri dia semangat yang bernyala-nyala, yang aku sendiri pada dasarnya sudah tak percaya akan semangatku sendiri. Dan dia tahu itu rupanya. “Kau sendiri tak yakin dengan ucapanmu. Bagaimana mungkin aku meyakinkannya?” katanya.

“Tapi sedikitnya, kau lebih bisa berbuat banyak nantinya.”

“Ya. Tentu saja. Seperti juga dulu, kan? Seperti dulu, seolah-olah kalau tidak ada aku, semuanya seperti tidak akan sempurna, semua pekerjaan seolah takkan selesai. Semua orang memerlukan tenagaku. Semua orang jatuh cinta padaku. Semua orang haus akan segala yang ada padaku. Tapi setelah itu, setelah itu apa lagi?”

Aku tak merasa terpaan angin dari gunung itu lagi. Yang kurasakan terpaan ucapannya pada mukaku, karena terasa sebagai umpatan yang pahit tapi dicelup dengan tengguli.

“Kau kasihan padaku, bukan?”

“Kenapa tidak?”

“Ya. Tentu saja kau kasihan padaku. Karena kau merasa berdiri di tempat yang sangat tinggi, sedang aku jauh di bawahmu. Lalu dari tempat yang itu, kau memandang kepadaku, ‘Oh, alangkah kecilnya kau, Nun, katamu’.”

Aku mau membantah. Tapi sebelum aku dapat memilih kata, dia berkata lagi. “Seperti tadi saja. Kalau bukan aku yang menyapamu, kau takkan tahu siapa aku, bukan? Sedang mata pertamamu melihat aku tadi, kau seolah melihat pengemis yang dijijiki. Alangkah cepatnya segalanya berubah. Dan lebih cepat lagi seseorang melupakan seseorang lainnya, meski pernah orang itu dicintanya.”

Aku ingin memandangnya tepat, hendak mencoba menyatakan bahwa segalanya mempunyai alasan-alasan tertentu. Ingin aku menentang matanya, hendak meyakinkannya, seperti pernah kulakukan dulu kepadanya.

“Meski bagaimana, aku tahu kau baik,” katanya lagi.

“Ni Nun, Uni Nuuun,” tiba-tiba seorang gadis kecil memanggil-manggil. Dan panggilan yang tiba-tiba itu mencairkan impitan yang memberat antara kami.

“Ke mana Uni Nun? Melalar saja. Tidak tahu dibuntung awak,” gadis kecil berkata lagi sambil memandang padaku dengan curiga dan kebencian. Aku jadi kaget, kalau gadis kecil semanis ini bisa bertingkah begitu terhadap Nun. Inikah lingkungan hidup Nun, pikirku. Di mana sedari kecil anak-anak telah memandang Nun sebagai manusia tak berguna, manusia yang sial. Kupandang wajah Nun yang berubah-ubah. Tapi cepat-cepat disembunyikannya wajahnya itu dari pandanganku.

“Nenek memanggil. Cepatlah!” gadis itu memamer lagi.

“Tolong tegakkan aku. Aku mau ke Nenek,” Nun berkata padaku dengan suara dalam lehernya. Dan kutolong dia berdiri. Tapi waktu itu aku jadi sentimental lagi, melebihi tadi.

“Nenek sudah tua benar. Sudah lupa segalanya. Selain aku. Dan kalau aku tak di dekatnya, Nenek merasa kehilangan nyawa,” katanya pula dan lalu pergi meninggalkan aku yang tercenung. Ketika ia mau membelok ke arah jalan raya, dia membalikkan badannya lagi ke arahku dan berkata pula. “Nenek tak bisa berpisah denganku. Antara kami berdua ada perpaduan nasib. Dan Nenek ingin hidup lebih lama, karena dia tak hendak membiarkan aku hidup sendirian.”

Dia melangkah lagi. Tapi sebentar kemudian dia memaling lagi dan berkata, “Tapi kalau Nenek sudah tak ada lagi, aku juga tidak memerlukan apa-apa pula.”

Lalu dia melangkah. Tapi sebelum dia hilang di balik belukar yang bergoyang ria ditiup angin dari gunung itu, kukatakan kepadanya, “Besok aku datang lagi ke sini, Nun.”

Tapi dia tidak menoleh lagi. Hilang di balik belukar itu. Dan belukar itu bertambah ria menari ditiup angin dari gunung. Angin dari gunung yang meniup belukar hingga bergoyang dan menari ria itu, angin itu juga yang meniup aku, meniup Nun, dan meniup gadis kecil itu.

 
1 Comment

Posted by dina 1 42011pUTC07bUTCThu, 07 Jul 2011 13:40:20 +0000 in Bahasa, Bahasa dan sastra

 

Bapa

Meunang perlop ti kantor téh dua minggu. Ngahaja dimanfaatkeun mulang ka Indonesia, hayang nyacapkeun kasono ka lembur, ka babaturan, ka dulur, jeung utamana mah ka kolot, nu geus aya kana dalapan bulanna teu panggih. Éta ogé mindeng ari komunikasi mah boh ngaliwatan telepon atawa SMS, ngan keukeuh béda rasana, antara ngobrol dina telepon jeung pangih langsung jeung jinisna mah.
Mang Udin geus surti. Mun aya kuring, manehna ngan saukur ngaluarkeun mobil ti garasi jeung ngahaneutan wungkul. Tara wani nanyakeun deui, da geus pada apal yén lamun kuring keur aya di lembur, nu nyupiran bapa jeung nganteur ka ditu ka dieu téh éstu kudu kuring. Ngahaja kitu téh, salianti hayang namplokeun kasono indit babarengan, ogé deuih hayang apal aktifitasna, ngarasakeun kumaha capéna pagawéanna.
Cara ti sasari mun bapa rék indit, sok dijajap ku ema kana mobil, malah sok ditempokeun sagala nepika ngilesna mobil di péngkolan. Kitu deui bapa ku anjeun, barang rék jung sok naros heula ka ema, mulangna hayang pangnyandakeun naon atawa nitip naon. Katénjo gedéna kanyaah ema ka bapa, boh bapa ka ema. Rék teu kitu kumaha, ka jalma nu salila leuwih ti opat puluh taun satia ngabaturan sapapait samamanis imah-imahan. Babarengan ngaliwatan jalan kahirupan nu garintul. Malah lain gan saukur salaki pamajikan, tapi jadi indung bapa ti dua budak lalaki hasil buah cintana. Nya éta kuring jeung Kang Tatang téa.
Pangna pantes, nalika ema gering parna tilu taun ka tukang bapa setrés pisan. Adatna ngadak-ngadak jadi robah. Teu kaop kasinggung meueusan, kaluar amarahna. Kitu téh meureun pedah hariwang, sieun ema kumaonam. Mangkaning geringna parna, nepika diopname sagala di rumah sakit. Keur deuih harita téh Bu Eni, garwana Pa Gaga anyar ngantunkeun. Meureun bapa sok mindeng ningal Pa Gaga jadi hulang-huleng bangun nu nunggeulis pisan ditingalkeun pamajikan. Éta oge hariwang sieun kitu tayohna mah, bapa can siap mu téa kudu ditingalkeun ema.
Bulan Februari kamari umur bapa nincak tujuh puluh tilu taun, tapi fisikna masih tetep seger buger, ajeg jeung tetep gagah. Teu némbongkeun boga umur kolot. Ngan meureun palebah rambutna geus mimiti pinuh ku silalatu. Béda jeung sobat-sobatna, boh nu saumur, saluhureun atawa sahandapeun, saperti Pa Apud, Pa Kurdi, Pa Gaga jeung Pa Engkos. Nu teu walakaya digorogotan umur. Malah ningan Pa Engkos mah najan umurna kakara genep puluh lima gé geus bungkuk leumpangna. Na atuh ari bapa mah katempona masih tetep jagjag jeung séhat, komo deuih jajauheun pisan kana boga panyakit pikun. Lamu téa dijajarkeun tur dibading-banding jeung sobatna, nu katempo pang ngorana téh sigana mah bapa. Padahal, rarasaan mah kana olahragana jarang, paling meureun sok mindeng leumpang. Éta oge mun ka kampus pedah jarakna kurang leuwih sakilo ti imah. Kitu deui kana dahareun sagala brek, teu apik rujit siga nu séjén.
“Rahasiana mah loba aktifitas, loba kagiatan. Gerak kaditu kadieu…” walonna mun aya nu nanya masalah éta.
Memang bener bapa mah loba pisan aktifitasna, najan geus pangsiun gé. Malah aktifitasna téh asa loba keneh sanggeus pangsiun, jadi dosén undangan. Ampir unggal minggu ber kaditu ber kadieu, ngadosénan di ditu, ngadosénan di dieu. Tayohna ampir sakabéh universitas geus kungsi ka ubek ku bapa mah. Euweuh ka capé. Padahal ceuk kasarna dunya geus nyampak sagala aya, budak geus jaradi jelema, kitu deuih gajih pangsiun rarasan mah leuwih ti cukup jang nutupan pangabutuh sapopoé. Lamun téa kurang atuh tinggal ménta ka kuring atawa ka Kang Tatang.
Lain teu atoh boga kolot kitu, dipikabutuh ku sasaha. Tapi bapa téh geus waktuna istirahat, tinggal senangna, diuk dina korsi goyang. Geus teu pantes mikiran balangsakna dunya komo deui ngarasa capé ku gawé. Matak Kang Tatang mah sok hémeng nempo bapa kitu téh, teuing naon cenah nu ditéangana. Da ningan lamun dicaram sok kalah bendu.
“Nu kieu mah lain gé pagawéaen, tapi pangaresep.” saurna bari baeud.
Kuring jeung Kang Tatang sok hariwang nempo kagiatan bapa nu sakitu lobana. Komo éta mun bagéan jadi dosen undangan di luar kota, kacida hariwangna téh. Sieun kuma onam. Euweuh nu nalingakeun. Katambah mawa mobil sorangan, da embung atuh dianteur ku supir téh, kajeun teuing bedo sigana.
“Bapa gé masih bisa mawa mobil mah. Keun waé Mang Udin mah sina di dieu, nganteur Ema. Bisi butuh keur nganteur ka ditu ka dieu,” cenah. Lain, lain teu percaya ka bapa nu masih bisa mawa mobil, tapi bapa téh geus kolot… na’udzubilah sok sieun aya hal nu teu dipiharep di jalan pangpangna mah.
Kakara kamari-kamari meureun bapa daék di supiran ku Mang Udin téh. Éta ogé pedah saméméhna meunang musibah, nabrak mobil batur nalika mulang ti Cianjur. Untung teu kunanaon, ngan meureun mobil wungkul nu ringsek téh. Trauma tayohna mah, jadi wé daék ayeuna mah disupiran téh.
Nalika bulan Agustus ngahaja bapa jeung ema téh diajak ka Australia, éta gé meunang ngabadamikeun heula jeung Kang Tatang. Bapa dibawa ka ditu téh sangkan reureuh, istirahat. Sakalian sukuran, kuring tas meuli imah anyar hayang katincak ku kolot, alesan utramana mah.
Meunang sabulan leuwih di Australia téh. Ngahaja maké nyewa touris guide sagala sangkan bapa jeung ema bisa jalan-jalan ngadatangan tempat-tempat pariwisata nepi ka suklak ka siklukna. Sina refresihing, reresepan jeung nu utamana mah sangkan pohoeun kana aktifitasna di lembur.
Minggu-minggu munggaran, stratégi téh aya hasilna. Bangun nu resep bisa jalan-jalan di negri kanguru téh. Katambah unggal poéna sok aya wa tamu nu datang ka imah manggihan bapa, ngadon silaturahmi. Nu daratang téh kurut mahasiswana baheula, boh nu ayeuna geus gawé di Australia boh nu keur naruluykeun kuliah.
Beuki béh dieu, beuki bosen meureun. Katempo sok hulang-huleng seorangan. “Bapa mah hayang mulang, inget ka barudak di kampus, tada teuing kuciwana meureun euweuh dosénna,” saurna. “Karunya, hanas malayar iuran kuliah, ari diajarna heunteu”.
Alus ari dina kituana mah bapa téh, inget kana kawajiban. Inget ka mahasiswana nu mayar iuran kuliah, padahal diajarna mah heunteu. Gede perhatianna mah. Jeung da memang bapa mah perhatian jeung nyaah pisan ka sasaha gé. Lain ka kuring jeung Kang Tatang wungkul atawa kadulur-dulurna kituna téh, tapi ka sasaha. Ningan Si Agus, budakna Mang Udin ogé ku bapa mah di sakolakeun jeung dikuliahkeun sagala. Malah ayeuna téh geus boga gawe sorangan. Kitu deui bapa mah jalmana tara itungan.
Inget keur leutik, mun pareng aya acara wisudaan di kampus, geus pasti saentosna aya nu datang ka imah. Cenah mahasiswana nu kakara lulus. Daratangna téh tara lengoh, rarébo ku rupa-rupa babawaaan jang bapa.. Tuluy nalika rék marulangna bari sasaliman téh sok ngarusiwelkeun amplop kana panangan bapa. Tapi tara ditarima, ku bapa ditampik. Najan sakumaha didedet-dedet ogé ku jalmana. Kuring mah jeung Kang Tatang sok sareuseurian di kamer bari noong narempokeun. Sabab lamun si tamu geus marulang, pasti ema nu bagean murukusunu ka bapa.
“Mun tarima! padahal katempona kandel, lumayan jang di dapur,” bari manyun.
Ari bapa, meni nyantey jeung tenang ngawalerna téh. “Keun waé, éta mah lain milik urang. Karunya ka jalmana. Milik urang mah loba ieuh, lain ti dinya wungkul.”
Ku sabab éta meureun, loba jalma nu raresepeun jeung hormat ka bapa. Matak mun Idul fitri atawa Idul adha sok loba parsél ngaleut ka imah. Boh ti koléga-kolégana atawa ti para mahasiswana. Malah kungsi, basa keur kuring kelas dua SMA mun teu salah mah, bapa téh gering. Teu sabaraha ari geringna mah, pedah sampéanna misalah tijalikeuh nalika badminton. Tapi, na atuh éta mah loba pisan jalma nu datang, ngabring ngalalongok bari garinding. Tatangga ogé ni arolohok, disangkana di imah keur aya raraméan.
Harita, bapa jeung ema téh teu diidinan ieuh mulang. Da kuring keur riweuh di kantor loba gawéan, hésé meunang perlop alésanna mah.
Teu burung terus dibébénjokeun bapa téh, ku sagala rupa améh poho ka lembur. Tapi euweuh hasilna, kalah gering nu aya. Dibawa ka dokter geus sabaraha balikan, cenah mah panyakit darah tingina karugrag deui. Harita kénéh nalika chek up nu terahir téh langsung dirawat inap sagala di rumah sakit. Tapi beuki lila téh lain kalah beuki cageur, beuki parna nu aya. Bari keukeuh ngaéh teu poho kana paméntana, hayang balik!
Lain teu nyaah ka kolot pedah teu nurut kana paménta jeung paréntahna, tapi masalahna mun bapa mulang ka lembur geus pasti bakal balik deui kana aktifitasna. Katambah kondisina can séhat jeung deuih lamun perawatanana dituluykeun di Indonesia apan kabéh ogé geus apal kumaha kaayaan rumasakit-rumasakitna, teu kumplit jeung teu sacanggih di luar negeri jaba pelayanana kurang.
Beuki lila mah hate téh lééh nempo bapa nu teu daék répéh hayang mulang, watir jeung deuih kétang diidinan sotéh pedah harita bapa maké ngancam sagala. Cénah lamun teu diidinan kajeun kabur, mulang sorangan ka Bandung. Nya atuh harita kénéh oge gura-giru nelepon Kang Tatang sangkan mapagkeun, da kuring teu bisa nganteur. Nalika mulang téh na pesawatna ogé bari diopnamé jeung dibaturan perawat husus, da sieun kuma onam.
Heuleut saminggu, meunang kabar ti Kang Tatang cénah bapa téh geus jagjag belejag, malahan tilu poé ti barang nepi ka Bandung geus indit ngadosenan ka Purwakarta. Teu beunang dicarék ku sasaha. Basa chek up ka dokter, geus séhat, darahna normal. Malah canah geus euweuh deui nu kudu dipikahariwang. Aya ku aneh, kabeh gé nepi ka gogodeg.
Bener ceuk Kang Ahmad, teuing naon atuh nu ditéangan Bapa. Saperti ayeuna, anjeunna keur anteng ngajar. Keun waé disebut anteng ogé, da bonganna cenah éta mah lain pagawéan sur bapa ku anjeun, tapi pangaresep. Di hareupeun kélas katénjo bapa masih kénéh parigel maparin kuliah ka mahasiswaana. Paromana adem, taya pisan beban atawa paksaan. Duka rék nepi ka iraha bapa kitu téh. Taya pisan tanda-tanda capé jeung jemu dina nyanghareupan aktifitasna. Tapi nu katempo téh malah cahya ka ikhlasan jeung katentreman tina batinna. Mugia bapa dipaparin panjang yuswa.
Cihideung 26/09/09
kungsi dimuat dina Tribun Jabar

 
Leave a comment

Posted by dina 1 12011pUTC05bUTCMon, 16 May 2011 18:25:24 +0000 in Bahasa dan sastra, Carpon, sastra sunda, Urang Sunda

 

Keindahan Alam Queenstown

Film trilogi “The Lord of the Rings”, yang meraih 17 Oscar, menjadikan Selandia Baru sebagai salah satu tujuan berlibur dunia yang wajib dikunjungi. Selandia Baru memiliki segudang pemandangan dan tempat wisata lainnya yang mampu memanjakan mata Anda, seperti ditulis oleh Express on Sunday asal Inggris: “Jika saja lokasi film bisa mendapatkan Oscar, Selandia Baru akan memenangkannya.”

Tetapi Selandia Baru tidak melulu soal lokasi pengambilan film dan bungy jumping (yang, ngomong-ngomong, merupakan tradisi suku Kiwi). Negara termuda dunia ini masih kental dengan kekayaan alam dan aset wisata lainnya yang menjadikannya sempurna sebagai tempat berlibur.

Pemandangan Danau Wanaka.


Dengan ruang terbuka yang sangat luas, lanskap pegunungan, pantai-pantai menawan, iklimnya pun hangat serta pemandangan alam yang indah. Dengan segala kesempurnaan ini, para pasangan baru yang ingin berbulan madu, penikmat petualangan sampai keluarga yang berlibur bisa pergi ke negeri ini, karena Selandia Baru bisa membuat terbuai.

Kota wisata Queenstown adalah salah satu dari lebih 150 lokasi tempat sutradara Peter Jackson melakukan syuting film Hollywood-nya. Di kota ini terdapat danau empat musim kebanggaan New Zealand dan tempat penginapan pegunungan. Terletak di tepi Danau
Wakatipu, tempat ajaib ini akan membawa imajinasi Anda melayang, meningkatkan gairah hidup dan semangat Anda.

Sejarah kawasan ini terkait dengan emas. Pada 1862, dua orang pencukur domba ’ketiban rezeki’ emas di tepi Sungai Shotover. Kemudian, kota yang hidup karena penambangan emas itu diberi nama Queenstown karena “..cocok untuk Ratu Victoria.”

Kegiatan petualangan seperti olahraga di salju, bungy jumping, perahu jet, berkuda dan arung jeram. Anda juga dapat memanjakan diri saat berlibur sambil mencicipi makanan dan anggur, berperahu di danau, perawatan spa, belanja di butik dan bermain golf.

Queenstown penuh dengan restoran, klub malam dan kafe dan petualangan lainnya, serta penuh dengan aktivitas semangat. Selama bertahun-tahun, kota ini telah cukup banyak melakukan perluasan di bidang pariwisata lain, termasuk perkebunan anggur, galeri seni, kesenian jalanan dan program menantang dari olahraga golf.

Hotel tua di Arrowtown, Selandia Baru. Kredit foto: Tourism New Zealand Image Library

Hotel tua di Arrowtown, Selandia Baru. Kredit foto: Tourism New Zealand Image Library


Kendurkan Otot Anda

Makan malam mungkin sebuah hal yang biasa di negara lain, tapi istimewa jika Anda sedang berada di Queenstown. Ada lebih dari 100 restoran cita rasa tinggi di sini – mulai dari restoran berkelas, kafe stylish, restoran keluarga, bar sushi, tempat wine … Anda bisa pilih sesuai selera.

Selama musim panas dan musim gugur, biasanya penduduk lokal senang menyantap makan malam mereka di kafe pinggir jalan, seperti restoran taman, sambil menikmati makanan dan segelas anggur. Anda bisa menikmati semua itu di kala hawa sedang hangat sementara matahari terbenam pada pukul 10 malam. Saat musim dingin, perapian yang menyala serta makanan hangat yang khusus dibuat oleh restoran siap untuk disajikan dengan segelas anggur untuk menghangatkan tubuh Anda.

Queenstown merupakan bagian dari wilayah Central Otago. Anggur setempat telah sering mendapat penghargaan. Setiap saat adalah waktu yang tepat untuk berkunjung ke Central Otago yang terkenal dengan anggur jenis Pinot Noirs. Ada 45 kebun anggur di Central Otago dan anggur-anggur itu terus berkembang pesat hingga terkenal di selurh dunia. Pinot Noirs dari wilayah itu sangat diakui dan dicari, meskipun jenis anggur lainnya berhasil tumbuh juga dengan kualitas tinggi – ditanam di atas tanah shaly dengan iklim keras yang dipercaya sangat kondusif untuk produksi anggur.

Danau di Queenstown tampak makin indah dengan warna-warna musim gugur. Kredit foto: Tourism New Zealand Image Library/Bob McCree

Danau di Queenstown tampak makin indah dengan warna-warna musim gugur. Kredit foto: Tourism New Zealand Image Library/Bob McCree


Jika berminat, Anda bisa ikut tur mengenai anggur atau bisa menyewa mobil dan mengunjungi kebun anggur di Gibbston Valley, kawasan utama penghasil anggur di Queenstown. Gibbston Valley Wines, kebun anggur komersial pertama di Queenstown, terkenal dengan jamuan makan siangnya dan mencoba rasa anggur. Anda juga bisa melakukan tur ke gua anggur dan pabrik keju.

Berpengalaman melayani pengunjung selama lebih dari satu abad, Queenstown telah mengembangkan infrastruktur akomodasi di setiap pasar. Terdapat lebih dari enam perwakilan hotel internasional di sini. Banyak hotel dan resor yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki dari pusat kota sambil menikmati pemandangan. Beberapa penginapan mewah menampilkan gaya arsitektur yang indah dengan furnitur serta pelayanan yang luar biasa. Tempat penginapan biasanya berukuran kecil, melayani hanya cukup 4-6 orang, dan biasanya termasuk dengan pelayanan yang mewah.

Selain itu, Anda juga bisa menikmati olahraga golf. Queenstown memiliki empat program, termasuk Millbrook. Anda bisa meluangkan waktu sehari dan memanjakan diri Anda di spa, atau menghabiskan waktu di pagi hari dengan berbelanja di butik yang tersedia di Queenstown.

Pelangi yang indah bisa Anda lihat di Danau Wakatipu. Di sana, Anda bisa menangkap ikan tawar pelangi, ikan tawar berwarna coklat dan quinnat salmon sepanjang tahun. Izin bisa didapatkan di kota dan pemandu bisa membawa Anda ke tempat pemancingan
terbaik.

 Bersepeda di sekitar Danau Wakatipu. Kredit foto: Tourism New Zealand Image Library/Holly Wademan

Bersepeda di sekitar Danau Wakatipu. Kredit foto: Tourism New Zealand Image Library/Holly Wademan


Jika Anda ingin bepergian ke danau, Anda bisa menyewa kapal pesiar, yang disesuaikan untuk individu atau kelompok. Jika Anda ingin menyendiri, Anda bisa bepergian dengan kapal pesiar dari Queenstown kemudian berteduh di kawasan pegunungan, terutama di Danau Wakatipu.
Saatnya Bertualang

Jika Anda seorang petualang, Queenstown adalah tempat yang cocok untuk menguji adrenalin Anda. Tempat ini dijuluki sebagai “Adventure Capital of the World” – ibukota petualangan di dunia. Sebuah julukan yang dibuat oleh para pencari sensasi, yang berani memainkan adrenalin mereka, dan bertualang di lingkungan liar.

Aksi bungy jumping yang menakutkan ternyata berasal dari negeri ini. Ada segudang aktivitas yang bisa Anda lakukan disini, seperti: sky diving, mendaki gunung, arung jeram, kayak, memancing, berkuda, bersepeda, berjalan di hutang, terbang indah, berlayar, berselancar, jet boat, meluncur dan bungy Nevis! Di musim dingin, pegunungan diselimuti oleh kabut putih yang membuat tempat itu menjadi tempat yang bagus untuk melakukan ski, snow car, snowboard, heliski dan parapent.

Naik lift menuju pegunungan sebelum meluncur di salju. Kredit foto: Tourism New Zealand Image Library/Lake Wanaka Tourism

Naik lift menuju pegunungan sebelum meluncur di salju. Kredit foto: Tourism New Zealand Image Library/Lake Wanaka Tourism


Wanaka

Wanaka terletak di balik pegunungan Southern Alps di South Island, Selandia Baru. Tempat ini sangat damai, hanya sekitar satu jam jika Anda berkendara dengan mobil dari Queenstown. Dekat dengan Mount Aspiring National Park, kawasan ini adalah surga alam yang terletak di sebelah danau yang indah.

Hiruk-pikuk kehidupan di Wanaka jauh lebih tenang daripada di Queenstown, namun kawasan itu juga menawarkan kegiatan yang sama. Jadi, jika Anda ingin melakukan paralayang, perahu jet atau rap jumping dalam suasana yang lebih tenang, Wanaka adalah tempat yang cocok.

Sebelum melakukan heliboarding, Anda akan dibawa ke ketinggian ekstrim. Kredit foto: Tourism New Zealand Image Library/Miles Holden


Terdapat pula restoran dengan cita rasa yang baik dan beberapa bar. Banyak rumor yang menyebutkan, kue wortel terbaik bisa didapatkan di kafe-kafe tepi danau di Wanaka.

Danau Wanaka terletak tepat di tengah danau-danau lainnya. Ia merupakan pintu gerbang menuju Mt. Aspiring National Park, yang terkenal dengan gletsernya dan tempat mendaki. Gunung-gunung di sekitar danau adalah surga bagi pecinta ski. Kota itu sendiri memiliki sebuah desa untuk berbelanja dengan berbagai macam suasana untuk bersantai, makan dan minum.

Perlambat langkah dan hayati suasana sekitar. Anda tidak akan bisa merasakan suasana tempat itu sebelum menjelajahinya dengan berjalan kaki.

Eely Point Walk adalah aktivitas berjalan kaki di samping Danau Wanaka. Anda bisa mencapainya dalam waktu 15 menit. Terlindung dari angin, Eely Point adalah kawasan terkenal untuk berperahu dan piknik. Kemudian, hanya butuh waktu lima menit untuk melanjutkan perjalanan ke Bremner Bay, teluk yang dangkal yang sangat populer untuk tempat berenang keluarga.

Dublin Bay di Wanaka, Selandia Baru. Kredit foto: Tourism New Zealand Image Library/Gilbert van Reenen

Dublin Bay di Wanaka, Selandia Baru. Kredit foto: Tourism New Zealand Image Library/Gilbert van Reenen


Dari Bremner Bay, jalur ini akan mengikuti garis pantai Danau Wanaku hingga ke Pantai Penrith, yang menampilkan pemandangan indah danau dan gunung sekitar. Dengan mengikuti jalan dari Penrith Beach, Anda bisa menikmati Lake Outlet Walk.

Waterfall Creek Walk dimulai dari sebelah kiri Roys Bay – yang merupakan pantai utama di Danau Wanaka. Tempat itu mengikuti garis pantai hingga ke bagian Wanaka dari Damper Bay. Wanaka Station Park, di sebelah kiri dekat Waterfall Creek Walk, adalah tempat yang cocok untuk piknik. Rute itu terus berlanjut ke sepanjang jalan di depan Edgewater Resort Hotel dan Rippon Vineyard hingga ke Waterfall Creek. Kemudian terus hingga ke puncak tertinggi, yang menawarkan pemandangan indah dari Wanaka Township dan danau.

Arrowtown

Salah satu pemukiman yang paling indah di New Zealand adalah Arrowtown yang berada di sepanjang Sungai Arrow, yang dulunya merupakan tempat mendulang emas. Kota itu mempertahankan nilai sejarahnya dengan lebih dari 60 bangunan yang dibangun kembali dari abad ke-19. Pesona emas itu bisa Anda lihat di sepanjang jalan (meski Anda masih bisa mengambil emas di sungai).

Hanya 20 menit jika Anda berkendara dari Queenstown, Arrowtown adalah pusat perkebunan anggur terbaik, galeri artis, lapangan golf, memancing dan daerah ski. Anda juga bisa menjelajahi pemukiman para penambang Cina, dan berkunjung ke Museum Distrik Danau, bermain di lapangan golf lokal yang menantang atau mencoba perjalanan 4WD hingga ke Macetown, sebuah kota hantu yang hanya dapat diakses oleh jalur kereta. Arrowtown memiliki berbagai macam kafe, restoran dan toko-toko yang menarik.

Warna-warna musim gugur di Arrowtown, Selandia Baru. Kredit foto: Tourism New Zealand Image Library

Warna-warna musim gugur di Arrowtown, Selandia Baru. Kredit foto: Tourism New Zealand Image Library


Cuaca saat musim dingin dan rindang di musim semi menggantikan hari-hari musim panas yang panjang dan musim gugur yang menakjubkan. Perubahan musim merupakan cerminan terbaik dari sejarah pepohonan yang berjajar di pinggir jalan. Festival musim gugur menampilkan para fotografer handal dan artis yang bisa memberikan inspirasi.

Glenorchy

Sekitar 40 menit dari Queenstown, terdapat sebuah kota pedesaan di Glenorchy, ujung barat Danau Wakatipu, dengan latar belakang hutan milik penduduk asli dan pegunungan yang tertutup salju.

Surga di Glenorchy. Kredit foto: Kredit foto: Tourism New Zealand Image Library/Ian Brodie.

Surga di Glenorchy. Kredit foto: Kredit foto: Tourism New Zealand Image Library/Ian Brodie.

Tempat ini dikenal sebagai pintu gerbang menuju Routeburn, Caples, Greenstone, Rees dan rute jalan Dart Valley. Selain itu, bisa juga jadi lokasi bermain perahu jet dan kayak di Dart River. Anda bisa menghubungi otoritas setempat jika Anda merencanakan untuk berjalan di salah satu trek. Menunggang kuda juga sangat disarankan. Kota ini juga memiliki berbagai macam penginapan, satu hotel dan beberapa kafe. Ide yang bagus untuk membeli perlengkapan mendaki dekat Queenstown.

 
1 Comment

Posted by dina 1 12011pUTC05bUTCMon, 16 May 2011 17:47:57 +0000 in Tidak terkategori

 

Bahasa Sunda Penjajah di Wilayah Sendiri

Ada hal yang menarik dan patut diperhatikan dari rubrik Teras Tribun Jabar yang hadir setiap hari Minggu. Sudah satu tahun lebih rubrik tersebut selalu hadir dengan menjadikan Babasan dan Paribasa Sunda sebagai judulnya. Seperti halnya pada hari Minggu (24/4) Cecep Burdansyah, penulis tetap pada rubrik tersebut menyajikan judul “Lir Durukan Huut,” isinya membahas mengenai teror-teror bom yang sedang marak di Indonesia.
Di setiap awal tulisannya seperti biasa Cecep membahas mengenai isu-isu yang ramai diperbincangkan di masyarakat baik itu masalah ekonomi, pendidikan, politik atau masalah sosial. Setelah itu baru kemudian ia menyeret sebuah babasan atau paribasa Sunda yang sesuai dan dapat mewakili isu tersebut dan mengartikan kata demi kata sehingga membentuk satu kesatuan arti dari paribasa itu.
Dengan wawasan yang dimiliki penulis mengenai babasan dan paribasa Sunda kemudian selalu update dengan isu-isu yang ramai diperbincangkan, sudah pasti rubrik Teras menjadi rubrik favorit yang ditunggu kehadiranya setiap hari Minggu. Hal itu terbukti, di rumah ayah saya yang merupakan seorang pengsiunan pada setiap Minggu pagi saat loper koran datang, pasti yang pertama ia tanyakan adalah “paribasa apa yang muncul di Tribun Jabar Minggu ini?” Hal seperti itu bukan hanya terjadi di rumah tetapi juga pada teman-teman seprofesi di tempat kerja. Saat senggang mereka akan memperbincangkan paribasa dan isu yang muncul dalam rubrik tersebut.
Menulis esai yang sarat dengan kemampuan berbahasa dan harus update dengan isu-isu sepeti itu memang dibutuhkan ketelatenan yang luar biasa. Upaya yang dilakukan oleh Cecep patut diacungi jempol karena dalam tulisannya ia bukan hanya memberikan informasi mengenai isu-isu yang sedang terjadi kepada si pembaca tetapi ia juga layaknya seorang guru yang sedang mentransfer wawasan mengenai babasan dan paribasa Sunda dengan contoh-contoh yang mudah dipahami oleh si pembaca. Secara tidak langsung Cecep mengajarkan bahasa Sunda dengan sederhana dan mudah dicerna pembaca.
Namun sayang, pembelajaran bahasa Sunda secara sederhana dan mudah dicerna seperti yang didapatkan oleh ayah saya dan teman-teman di kantor itu tidak sama halnya dengan apa yang di dapatkan salah satu keponakan saya di bangku sekolah, Ade adalah siswa kelas VII di salah satu SMP favorit di Kota Bandung. Beberapa bulan yang lalu saat ia mengikuti ujian semester di sekoahnya ia memiliki masalah dengan pelajaran bahasa Sunda.
Saat SD Si Ade disekolahkan di sekolah swasta yang menerapkan sistem internasionalisasi pendidikan yang belakangan kami merasa kecewa karena semenjak memasuki bangku kelas satu sampai kelas enam semester pertama, ternyata di sekolah tersebut tidak ada mata pelajaran bahasa Sunda, dan baru diajarkan saat kelas enam semester dua itu pun hanya dijadikan persiapan untuk menghadapi ujian. Tentu saja saat memasuki bangku SMP ia merasa kesulitan mempelajarai bahasa Sunda di kelas.
Dari latar belakang keluarga ibu si Ade merupakan orang Sunda asli dan ayahnya orang Jawa, namun meskipun begitu orang tuanya berharap si Ade bisa mengerti mengenai budaya dan bahasa Sunda sehingga di rumahnya menggunakan dwi bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Sunda. Ade juga terbilang anak yang pandai dalam bidang kebahasaan, ia sangat mudah mempelajari bahasa Inggris dan bahasa Spanyol yang dipelajari dari gurunya, namun sayang saat mempelajari bahasa Sunda ia terkadang merasa kesulitan dan kalau ditanya masalah itu ia selalu berkilah “bahasa Sunda itu sulit sekali, aneh, lebih baik mempelajari bahasa Inggris.”
Saat menjelang UAS kemarin akhirnya saya meminta tolong kepada salah seorang teman yang kebetulan merupakan mahasiswa jurusan bahasa Sunda di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung untuk memberikan les private kepadanya. Saat diberi tahu permasalahannya dia tidak terlalu terkejut, malah menjawab: “kemarin juga habis memberikan kursus bahasa Sunda untuk persiapan UAS di tempat lain, hebat ya bahasa Sunda sekarang, orang Sunda aslinya pun harus kursus bahasa Sunda segala”
Ketika membuka buku catatan si Ade saya merasa terkejut karena sudah mempelajari aksara Sunda, dan ia mengaku bahwa gurunya memang sudah mengajarkannya. Memang aksara Sunda harus dipelajari oleh siswa hanya untuk sekedar diketahui, tapi sepertinya belum pantas kalau diajarkan untuk anak SMP semester pertama, lebih baik sewajarnya di sekolah diajarkan mengenai bahsa Sunda sehari-hari yang sering digunakan sebagai alat komunikasi.
Keterkejutanpun tidak berakhir dalam masalah itu saja, namun juga dalam masalah buku teks yang dijadikan sebagai buku sumber belajar. Bahasa yang digunakan oleh bukunya terhitung bahasa yang sulit dipahami oleh anak SMP. Dilihat dari buku ajar saja sepertinya para penyusun belum bisa memilah-milah materi mana yang cocok diajarkan dan disajikan untuk anak SD, SMP, atau SMA, hal itu terlihat dari beberapa materi ajar yang belum layak dipelajari oleh anak SD, SMP, atau bahkan SMA.
Seperti masalah ilmu kebahasaan, menurut saya materi itu tidak perlu diajarkan dulu, lebih baik materi tersebut diajarkan nanti di sekolah menengah atas atau bahkan di universitas, yang penting sekarang yang harus diberikan kepada siswa adalah pembelajaran bahasa Sunda yang ringan-ringan saja yang bisa membuat siwa senang mempelajarinya tanpa merasa memiliki beban dan takut salah oleh sebuah aturan. Sekolah harus bisa membuat siswa senang menggunakan bahasa Sunda sebagai alat komunikasi, bukan sebagai bahasa ilmu. Sebab yang menjadi masalah bagi mereka yaitu kurangnya perbendaharaan kata yang dimiliki dalam berkomunikasi, bukannya tata bahasa. Padahal dalam pembelajaran dasar seluruh bahasa baik itu bahasa Inggris, bahasa Spanyol atau pun bahasa asing lainnya yang pertama diajarkan adalah perbendaharaan kata, barulah setelah itu masalah tata bahasa.
Memang saat ini banyak orang yang ingin menaikan harkat dan derajat bahasa Sunda supaya lebih dihargai dan digunakan sebagai alat penutur oleh masyarakatnya, namun sayang sepertinya di sisi lain dunia pendidikan khususnya di sekolah-sekolah malah membenamkan bahasa Sunda ke dalam sebuah sistem yang sulit dipahami.
Dari permasalahan si Ade setidaknya mungkin kita bisa melihat, apa yang menjadi alasan siswa di sekolah sulit mempelajari bahasa Sunda. Apakah penyebab utama masalah tersebut adalah kurikulum yang belum layak? Guru salah mengaplikasikan kurikulum yang ada? Ataukah karena salahnya pemilahan materi ajar dalam penyusunan buku ajar? Itulah yang menjadi pekerjaan rumah bagi para praktisi pendidikan khususnya pendidikan bahasa Sunda untuk menyelesaikan masalah tersebut. Supaya jangan ada anggapan bahwa bahasa Sunda penjajah di wilayah sendiri karena dianggap sulit dan rumit untuk dipelajari.*

 
1 Comment

Posted by dina 1 12011pUTC05bUTCMon, 16 May 2011 17:36:41 +0000 in Bahasa, Bahasa dan sastra, Urang Sunda

 

Bahasa Halus Dalam Bahasa Indonesia

Oleh Ajip Rosidi

Ajip Rosidi

Ajip Rosidi

Dalam setiap bahasa ada kata-kata yang khusus diperuntukkan buat orang yang dihormati atau untuk Tuhan Yang Maha Esa. Dalam bahasa Inggris yang egaliter sekali, ada istilah “Thou” yang hanya digunakan untuk Tuhan atau orang yang dihormati, sedangkan untuk orang biasa digunakan kata “you”. Akan tetapi, jumlah kata-kata demikian tidak banyak. Dalam bahasa Melayu kita mengenal kata-kata yang khusus digunakan untuk Tuhan atau orang-orang yang berkuasa seperti raja atau sultan seperti “berfirman” (berkata), “beradu” (tidur), “bersemayam” (tinggal), “menitahkan” (mengatakan atau menyuruh), “bersantap” (makan), dan beberapa lagi.
Kata-kata seperti itu pada dasarnya tidak boleh digunakan oleh orang biasa. Akan tetapi, karena sejak mendirikan negara, bangsa Indonesia menetapkan demokrasi sebagai dasar sosialnya, kata-kata itu ada yang kemudian hanya menjadi sinonim dari kata-kata lain yang biasa digunakan oleh orang kebanyakan, misalnya kata “bersantap” sekarang sering digunakan untuk orang-orang yang bukan raja atau sultan walaupun dihormati.
Akan tetapi pada masa Demokrasi Terpimpin — kemudian dilanjutkan secara lebih intensif dalam pemerintahan Orde Baru — bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu yang egaliter itu di lingkungan tertentu, terutama di kalangan pemerintahan, mulai disusupi dengan bahasa halus, yaitu suatu tingkat bahasa yang terdapat dalam bahasa Jawa dan bahasa Sunda yang mengenal tingkat-tingkat bahasa yang disebut sebagai unggah-ungguhing bhasa (Jawa) atau undak-usuk basa (Sunda).
Bahasa Jawa dan Sunda pada asalnya tidak mengenal unggah-ungguhing bhasa atau undak-usuk basa. Bahasa Jawa mulai mengenal unggah-ungguhing bhasa pada masa Sultan Agung yang menjadi Sultan Mataram merasa malu karena mempunyai nenek moyang petani, yaitu Ki Ageng Pamanahan. Untuk membedakan diri dan kaumnya yang menjadi ningrat dari masyarakat lain yang dianggap rendah seperti petani dan pedagang, diciptakanlah unggah-ungguhing bhasa yang menetapkan penggunaan kata-kata sesuai dengan kedudukan orang yang bersangkutan dalam masyarakat. Kata-kata untuk masing-masing lapisan masyarakat itu tidak boleh dipertukarkan. Orang yang mempertukarkannya dianggap sebagai orang yang tidak terdidik, tidak tahu sopan santun, tidak beradab, sehingga harus mengalami hukuman sosial.
Kebiasaan menggunakan unggah-ungguhing bhasa itu kemudian ditiru oleh para menak Sunda, terutama oleh para dalem (bupati) yang setiap tahun harus tinggal selama beberapa bulan di ibu kota Mataram sambil menghaturkan upeti dari pihak yang dijajah. Selama itu mereka mempelajari kebudayaan Jawa yang feodal untuk dibawa pulang dan diterapkannya di tempat asalnya. Dengan demikian, unggah-ungguhing bhasa juga diterapkan dalam bahasa Sunda terutama di lingkungan padaleman, dan aturan tersebut dinamakan undak-usuk basa, artinya tingkat-tingkat basa. Ada hukuman sosial yang akan diterima oleh orang yang keliru mempergunakan kata-kata yang sudah ditetapkan aturan undak-usuk basa. Mereka yang melakukannya dinamakan orang yang tidak tahu sopan santun, teu nyakola, urang kampung bau lisung, jauh ka bedug, dan lain-lain.
Meskipun dalam tulisan-tulisan dan pidato-pidatonya sewaktu muda, Bung Karno menganjurkan demokrasi dan mengutuk feodalisme, namun ketika menjadi Presiden dalam masa Demokrasi Terpimpin (1959—1966), ternyata dia ingin diperlakukan sebagai raja Jawa. Sebutan “Paduka Yang Mulia” dihidupkan kembali. Sebutan “Bung Karno” yang sangat populer pada masa revolusi kemerdekaan, tidak terdengar lagi diganti dengan “Paduka Yang Mulia Presiden Sukarno”.
Pemerintah Presiden Sukarno yang disebut sebagai “Orde Lama” pada 1966 diganti dengan pemerintah “Orde Baru” di bawah Presiden Suharto. Berlainan dengan Sukarno Muda yang banyak mempelajari berbagai alam pikiran modern dari Barat, Suharto muda kelihatannya tidak suka membaca. Sejak muda dia terjun ke dunia militer, menjadi bintara dalam KNIL – tentara Hindia Belanda. Pada masa pendudukan Jepang sempat belajar kemiliteran sebagai Peta (Pembela Tanah Air). Ketika menjadi presiden Republik Indonesia (selama 32 tahun!), yang menonjol adalah kegemarannya mengutip kearifan orang Jawa yang dianggap sebagai ajaran yang utama dalam hidup seperti “menang tanpa ngasorake” (menang tanpa mengalahkan musuh), “mendem jero” (menguburkan dalam-dalam keburukan atau aib orang tua atau keluarga), “mikul dhuwur” (yang muda berkewajiban mengharumkan nama baik orang tua serta keluarga), “ngono ya ngono ning aja ngono” (begitu ya begitu tapi jangan begitu), “aji mumpung” (memanfatkan kesempatan semaksimal mungkin), “jer basuki mawa bea” (setiap kebaikan memerlukan pengorbanan), dan lain-lain.
Bersamaan dengan kegemaran Presiden Suharto itu, masuk pula usaha untuk berbicara dengan unggah-ungguhing bhasa dalam bahasa Indonesia. Misalnya kata “anak” dianggap kasar diganti dengan “putra”, sehingga orang bertanya “Sudah punya berapa putra sekarang?” tidak lagi “Sudah punya anak berapa?”
Karena dalam bahasa Melayu tidak ada (atau sedikit sekali) kata-kata yang tersedia untuk dijadikan kata-kata halus (kromo inggil), banyak kata bahasa Jawa yang digunakan misalnya “dhalem” (rumah), “rawuh” (datang), “dhahar” (makan), “kondur” (pergi atau pulang), dan lain-lain. Pendeknya, pada masa Suharto, semua hendak dijawakan yang dianggap berperadaban amat halus dan sangatlah mengherankan bahwa orang-orang yang berasal dari daerah yang terkenal bersifat kasar dan keras seperti orang Batak juga bersedia menyesuaikan diri dengan kehalusan peradaban Jawa. Apalagi, orang Sunda yang pernah lama dijajah Jawa Mataram yang feodalistis.***

 
Leave a comment

Posted by dina 1 72011pUTC05bUTCSun, 15 May 2011 23:09:05 +0000 in Tidak terkategori

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.