Arsip pikeun Désémber, 2008

Enam Seniman Raih Anugrah Budaya 2008

ENAM seniman Kota Bandung, dua lingkung seni, dan dua lembaga lainnya yang bergerak dalam bidang pemeliharaan seni dan budaya, serta pengelolaan perpustakaan di Kota Bandung, meraih Anugerah Budaya Kota Bandung 2008 dari Pemerintahan Kota Bandung. Penghargaan itu berupa piagam dan uang masing-masing senilai Rp 10 juta. Penghargaan diberikan oleh Wakil Wali Kota Bandung Ayi Vivananda di Hotel Savoy Homann, Jln. Asia Afrika, Bandung, Jumat (26/12).

Keenam seniman yang mendapat penghargaan adalah pelantun lagu pop Sunda, Deti Kurnia, pencipta tari jaipongan Gugum Gumbira Tirasonjaya, pelukis Herry Dimyati, musikus sekaligus pencipta lagu Iwan Abdulrahman, aktor film Rachmat Hidayat, dan sastrawan Sunda, Yus Rusyana. Sedangkan dua lingkung seni yang menerima hadiah serupa adalah Teater Sunda Kiwari dan Studio Tari Indra. Selain itu, hadiah tersebut juga diterima oleh Bandung Heritage dan Perpustakaan Doddy Tisnaamidjaya.

Ayi Vivavanda, yang mewakili Wali Kota Bandung H. Dada Rosada mengemukakan, para penerima anugerah tersebut dinilai telah memperlihatkan dan membuktikan daya kreativitasnya selama ini dalam berkarya seni maupun dalam mengangkat citra Kota Bandung sebagai kota seni dan budaya.

Musikus Iwan Abdulrahman yang juga dikenal sebagai pencipta lagu “Melati dari Jayagiri” mengatakan, dirinya malu mendapatkan Anugerah Budaya 2008, sebab merasa belum memberikan apa-apa bagi perkembangan dan pertumbuhan seni di Kota Bandung.

“Apa pun yang telah Abah kreasi selama ini, alhamdulillah mendapat apresiasi yang cukup positif dari Pemkot Bandung. Terima kasih kepada dewan juri yang telah memilih Abah. Mudah-mudahan apa yang Abah terima hari ini jadi pemicu untuk lebih kreatif lagi dalam berkarya seni,” ujar Iwan menjelaskan.

Dalam kesempatan tersebut, Abah Iwan melantunkan beberapa lagu yang dikreasinya. Demikian juga dengan Studio Tari Indra mempertunjukkan beberapa karya tari hasil garapan Indrawati Lukman. Sementara itu, perupa Herry Dimyati yang dikenal dengan panggilan Herry Dim mengatakan, dirinya menyambut baik diselenggarakannya acara Anugerah Budaya 2008.

“Mudah-mudahan acara ini semakin menumbuhkan daya kreatif para seniman Bandung dalam berkarya seni. Pemberian hadiah ini tentu bukan asal-asalan, terlepas setuju dan tidak setujunya cara dewan juri dalam menilai para nomine,” ujar Herry Dim, yang baru saja pulang memamerkan sejumlah karya lukisnya di Markas PBB, Jenewa Swiss.

Hal yang sama juga diungkapkan sastrawan Yus Rusyana. Menurut dia, kegiatan budaya yang terjadi selama ini di Kota Bandung alhamdulillah cukup dinamis. Untuk itu, sudah selayaknya mendapatkan apresiasi serius dari Pemkot Bandung.

Menurut salah seorang dewan juri, Arthur S. Nalan, keenam seniman itu telah menyisihkan 76 nomine lainnya. “Apa pun yang kami pilih pasti ada lebih dan kurangnya. Mudah-mudahan di tahun-tahun mendatang bisa lebih memuaskan lagi,” ujar Arthur.

Selain Arthur, dewan juri lainnya adalah Us Tiarsa (Ketua) dengan anggota Hawe Setiawan, Wahyu Wibisana, dan Etty R.S.

Acara penganugerahan penghargaan semalam, juga dimeriahkan berbagai pertunjukan seni. Antara lain penampilan Sambasunda, Tari Kawung Anten, dan Swara Kania. Pemberian Anugerah Budaya Kota Bandung itu diselenggarakan untuk yang ketiga kalinya, dengan hadiah uang yang nominalnya terus ditingkatkan.

Pairan (2) »

SAYA JUGA ALUMNI BAHASA SUNDA

 *Sepenggal Kisah Persahabatan Prof. Dr. H. Tubagus Abin Syamsuddin Makmun, M.A, dengan Prof. Dr. H. Yus Rusyana.

Prof. Dr. H. Abin Syamsuddin Makmun, M.A

Prof. Dr. H. Abin Syamsuddin Makmun, M.A

Saat ini kebanyakan orang mengenal sosok Prof. Dr. H. Abin Syamsuddin Makmun, M.A, sebagai Guru Besar  UPI dan pakar psikologi. Tapi siapa yang akan menyangka kalau lelaki kelahiran Cililin Bandung 15 Juni 1938 ini dalam sejarah hidupnya pernah mengenyam pendidikan di Jurusan Bahasa Sunda dan berteman akrab dengan Prof. Dr. H. Yus Rusyana yang merupakan pakar Bahasa dan Sastra, yang beberapa waktu lalu tercatat kedalam enam belas tokoh sastra sunda yang paling berpengaruh.

 

Abin mulai berkenalan dengan Yus Rusyana saat masih SGA di SGA Bandung. Kemudian mereka tinggal seasrama di Asrama PARKI selama satu tahun yang terletak di jalan Lengkong Besar –sekarang menjadi Paguyuban Pasundan. Kemudian pindah ke Asrama SGA yang terletak di Jalan Papandayan.

Prof. Dr. H. Abin Syamsuddin Makmun, M.A

Prof. Dr. H. Abin Syamsuddin Makmun, M.A

Di mata teman-teman sekolahnya, kedua sahabat ini dikenal cerdas dan pintar, sehingga tidak jarang mereka harus bersaing dalam pelajaran. Hal itu terbukti pada nilai hasil ujian akhir nilai mereka hanya berselisih satu angka. Abin mendapat nilai 111 sedangkan Iyus 112.

 

Begitu juga dalam hal kesenian mereka sama aktifnya. Baik dalam seni suara, cianjuran dan sebagainya. Meskipun Iyus lebih menyukai bermain angklung daripada seni suara seperti Abin.

“Sudah pasti kalau bermain angklung Iyus pasti memegang nada Sol-Mi-Do dan yang menjadi juru kawihnya adalah Ami Raksanagara dan Hetti Latifah.” Kenangnya.

Abin dan kawan-kawannya sering memainkan angklung di RRI Bandung. Setelah main biasanya mereka tidak menyimpan peralatan angklung ke sekolah, karena dengan alasan suka pulang malam dan otomatis sekolah sudah dikunci. Tapi menyimpannya di gudang belakang rumah Ami yang terletak tidak jauh dari sekolah.

Prof. Dr. H. Yus Rusyana; Sahabat Karib Prof. Abin

Prof. Dr. H. Yus Rusyana; Sahabat Karib Prof. Abin

“Saking seringnya bermain angklung, sepertinya yang mendekatkan antara Ami dan Iyus juga adalah angklung” tambah Ayah lima orang anak, yang pandai bermain suling sunda ini.

 

“Setelah dua tahun, saya dipanggil lagi oleh Pa Adur. Katanya ‘Kamu kuliah itu harus konsentrasi pada satu bidang, di Bahasa Sunda sudah ada Iyus dan Ami, kamu konsentrasi saja di Pedagogik’ ya akhirnya keluar dari Bahasa Sunda dan konsen di Pedagogik”. Ungkap guru besar Psikologi UPI yang aktif menjadi dosen terbang di beberapa perguruan tinggi terkemuka di Indonesia ini.

Meskipun begitu, Abin tetap aktif dalam kegiatan mahasiswa bahasa sunda, karena saat itu dia sudah dekat dengan Hetti Latifah (alm) yang kemudian menjadi istrinya. Malah ia pun ikut mengadakan kegiatan Bende Rancage pertama – sampai saat ini kegiatan tersebut masih diaadakan oleh anak-anak bahasa sunda setiap satu tahun sekali.

“Kalau ada kegiatan, pasti Iyus memberi tahu dan sudah pasti saya ikut. Alasan nya, ya punya tujuan khusus. Menjaga belahan hati, supaya tidak ada yang merebut.” ungkapnya sambil tertawa mengenang masa itu.

Persahabatan Abin dan Iyus memang pantas disebut sebagai persahabatan yang sejati. Mereka selalu saling menolong.Saat akan menikah pun masih sempat-sempatnya mereka berunding tentang waktu pelaksanaan supaya bisa saling membantu. Pernikahannya hanya berselisih satu minggu. Abin dan Hetti menikah pada tanggal 21 Aprill 1965 sedangkan Abin pada tanggal 28 April 1965.

“Kami sengaja melakukan hal itu, supaya acranya tidak bentrok dan bisa saling membantu dan saling manghadiri.” Jelas lelaki yang sekarang menjabat sebagai sekretaris Majelis Wali Amanat UPI dan pernah menjabat sebagai Rektor UNINUS ini.

Bahkan sekarang kedua orang sahabat itupun kini telah sama-sama menjadi orang sukses dan memiliki Jabatan Guru Besar.

Saat ini, Abin pun aktif dalam kegiatn kesundaan seperti Iyus, malah dalam kepengurusan Paguyuban Pasundan, ia dipercaya sebagai seksi Pendidikan dan menjadi dewan pembina Daya Budaya Sunda bersama Wahyu Wibisana

Setelah lulus dari SGA, Abin sempat tidak akan melanjutkan sekolahnya keperguruan tinggi. Namun saat itu dipanggil oleh Adur Raksanagara – ayah dari Ami Raksanagara – yang menjabat sebagai Kepala P & K Jawa Barat, supaya melanjutkan sekolah. Akhirnya ia pun melanjutkan kuliah di PTPG – sekarang UPI – dan kembali sekelas lagi dengan Yus Rusyana, Hetti Latifah dan Ami Raksanagara di Jurusan Bahasa Sunda yang waktu itu masih merupakan Jurusan Bahasa Indonesia seksi Bahasa Sunda. Namun Abin kuliahnya tidak sama dengan teman-temannya yang lain. Selain kuliah di Bahasa Sunda, ia juga kuliah di jurusan Pedagogik.

 “… itu juga karena dalam mata pelajaran menggambar Iyus lebih  unggul, dia mendapatkan nilai tujuh, sedangkan saya enam.” Tambah lelaki yang mearih gelar Master of Art nya di negri kanguru.

 “Saya juga Alumni Bahasa Sunda! Seangkatan dengan Yus Rusyana dan istrinya, Ami Raksanagara. Walaupun saya kuliah di jurusan tersebut hanya dua tahun.” Ungkap Abin, saat asyik bercerita kepada salah seorang mahasiswi Bahasa Sunda tentang pengalaman kuliahnya di Bahasa Sunda.

Pairan (1) »

MENUNGGU UU BADAN HUKUM PENDIDIKAN

anda ingin download UU BHP?, klik tulisan di bawah ini

UU Badan Hukum Pendidikan

Tidak mudah menata dan melaksanakan produk-produk hukum yang diterbitkan oleh UGM demi mewujudkan UGM sebagai PT BHMN dan universitas penelitian. Demikian penuturan Enny Nurbaningsih, S.H., M.Hum selaku Kepala Kantor Hukum dan Tatalaksana (HKTL) UGM. �Program yang sedang dan terus berjalan adalah melakukan telaahan terhadap produk yang telah dikeluarkan universitas, mana saja yang sejalan dan yang tidak. Sesuai di sini maksudnya sinkron/konsisten dengan peraturan tentang PT BHMN dan juga mendorong terwujudnya visi UGM sebagai universitas penelitian�, ujar Bu Enny.

Bu Enny lahir di Pangkal Pinang, Bangka, dan menyelesaikan Pendidikan Sarjana Hukum UGM tahun 1981. Pendidikan Hukum Tata Negara, Program Pascasarjana diselesaikannya di Universitas Padjadjaran Bandung tahun 1995. Berikut adalah pendapatnya tentang kesiapan UGM menuju PT BHMN:

Apa tugas kantor HKTL UGM?

Prinsipnya tugas pokok HKTL, pertama, melakukan penataan produk hukum UGM agar sinkron dengan keberadaan UGM sebagai PT BHMN. Penataan dimulai dari melihat aturan yang tertinggi, Undang-Undang, kemudian setelah UGM Menjadi PT BHMN yang menjadi pegangan saat ini adalah PP 153 tahun 2000, sampai ke Aanggaran Rumah Tangga (ART). Lantas ART dibuat derivasinya, dalam bentuk apa saja, organ mana saja yang seyogyanya membuat, apa saja yang belum dibuat. Jadi, nantinya banyak sekali peraturan lama yang akan berubah. Hal ini wajar, karena UGM sedang dalam masa transisi. Sebagaimana juga dapat kita lihat pada perubahan yang terjadi ketika daerah diberi otonomi, untuk sementara waktu peraturan akan datang silih berganti sampai menemukan bentuk yang tepat.

Kedua, memantau implementasi peraturan UGM. Sejauh mana daya berlakunya dan complain dari civitas akademika. Untuk memudahkan mekanisme kerja ini, kami sedang merumuskan Program Legislasi Universitas.

Apa sih program legislasi itu?

Program legislasi merupakan semacam susunan daftar skala prioritas legislasi atau produk yang akan dikeluarkan UGM berdasarkan hasil telaahan terhadap peraturan yang telah dan sedang berlaku. Di dalamnya tercakup prioritas jangka pendek untuk menyelesaikan masa transisi dan jangka panjang mengingat atas perintah UU Sisdiknas akan diterbitkan UU BHP yang mau tidak mau akan membawa implikasi ini bagian dari menelaah tadi. Bagian menelaah dari seluruh produk yang ada, dimana dalam rangka PT BHMN aturan mana yang tidak sesuai diganti, mana yang sudah sesuai dijalankan.

Kemudian mana yang menimbulkan opini dimasyarakat, misalnya dari masyarakat akademika ada yang mengatakan ini tidak sejalan (karena masa transisi) segera ditinjau kembali, ditelaah kembali. Hal ini, seperti juga dengan kondisi negara dengan penerapan otonomi daerah (otda), sering terjadi seperti itu. Lantas UGM membentuk atau menyusun peraturan yang baru.

Apakah ini program besar?

Sebetulnya tidak juga. Hanya untuk memudahkan mekanisme kerja sehingga tidak terjadi overlapping peraturan, mengingat pada saat yang bersamaan peraturan ditingkat pusat juga sedang banyak perubahan yang mungkin sangat terkait dengan keberadaan UGM sebagai PT BHMN. Terkait dengan keberadaan bidang HKTL yang tidak hanya memproduksi peraturan, tapi juga melakukan layanan hukum dan menegakkan peraturan manakala terjadi kasus. Upaya kami tempuh adalah penyelesaian secara nonlitigasi. Apabila sangat terpaksa baru ditempuh penyelesaian secara litigasi.

Bagaimana aturan tentang PT BHMN?

PT BHMN itu kan semacam mahluk baru dalam khasanah ilmu hokum. Secara konvensional yang dikenal hanya badan hukum tertentu saja, seperti perusahaan terbatas, yayasan. Selama ini kan tidak dikenal Badan Hukum Milik Negara. Dapat dikatakan ini merupakan isu generis yang nantinya akan semakin kuat keberadaannya dengan terbitnya BHP yang diperintahkan oleh UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003. Di situ diatur dengan jelas bahwa kedepan akan disusun UU Badan Hukum Pendidikan (BHP). UU BHP ini akan menjadi kerangka besar penataan organisasi pendidikan dalam jangka panjang. UU BHP sendiri saat ini sedang dalam proses mencari input. Jadi, untuk memperkuat status hukum PT BHMN, ia akan diatur dalam UU BHP. Tidak lagi sekadar dalam PP (wawancara dan penulisan: Agung).

Pairan (6) »

HALIMUN PEUTING

Prof. Dr. Iskandarwassid, M.Pd dan Drs. Elin Sjamsuri, M.Pd

Prof. Dr. Iskandarwassid, M.Pd dan Drs. Elin Sjamsuri, M.Pd

 

Karya  : Iskandarwassid      

    Bulan teh teu caang ngempray, kapulas ku mega bodas. Halimun peuting geus mimiti ngarey, ngayapak kasiring ku angin gunung, ngarunkupan pilemburan, ngarungkupan tatangkalan, dipapay sajumpluk-sajumpluk.

   Bumi alam beuki alum, haleungheum, sepa, jiga pameunteu mojang gering ngareunggeuy. Peuting beuki simpe.

          Nu tarunggu jagong geus teu kadenge heuyah-heuyahna deui, kari sora kokoprakna. Kitu ge kapeung-kapeung, teu patempasan jiga tadi. Durukanana mah ngarelun keneh, pating peledug ti unggal saung, arancal-ancalan di unggal mumungang pasir. Tayohna mah nu tarunggu teh geus ngararingkuk. Atawa mun ngajarentul keneh pasti geus lelenggutan harupeun seuneu durukan.

          Kardana bangun rengkag-rengkog ayeuna mah leumpangna teh. Sakeudeung deui kudu ngaliwatan lembur. Malah geus katinggali runggunukna, najan ngalamuk keneh. Imah Bah iding tea eta teh, saanak – minantu. Lain lembur gede da ukur lima genep suhunan. Teu kudu dipiwegah saenyana mah, da ku dua tilu renghap ge moal burung parat meuntas lembur sagede kitu mah. Tapi tayohna teh manehna ingeteun  keneh, yen Bah Iding teh miara anjing. Liwat kadinya mah tong boroning wayah kitu, magrib keneh ge tara elat digogog. Ana anjing geus kadenge manting, Bah Iding teh tara elat turun, bari ngambang-ngamang bedog ruyung. Da manehna mah sarena teh tara di jero mun teu di tepas – tukangeun saroja – tangtu luhureun kandang munding.

          Kasieun Kardana ge kitu jigana. Sabab mun ku itu tuluy disahakeun, manehna geus tangtu kudu gancang  nembal. Kateuteuri susulumputan ge, ari geus kitu mah. Da saurang geus nyaho mah tangtuna ge tuluy pabeja-beja, yen manehna geus balik deui. Tapi mun teu diwaro, alamat dibetahkeun, da ka nu ngulampreng keneh tengah peuting mah saha nu teu curiga. Rek nguriling, nguriling ka mana. Kukurubutan mipir-mipir lamping mah komo, moal aya nu nyangka jalma bener.

          Tapi sajeroning rengkag-rengkog kitu dak dumadak Kardana diberean caang pikir. Ceuk ingetanana, sieun teuing digareuwahkeun anjing, da anjing mah ngaranna ge anjing. Saratus kali satia ge kadunungan ari keur ceuyah usum jagong kieu mah piraku ngaringkuk wae di golodog. Ninggang nu boga bongoh mah tangtu maling-maling da anjing  mah kabeukina ge jagong ngora.

          Teteg deui Kardana teh sanggeus boga pikiran kitu mah. Leumpangna ngingkig deui jiga tadi. Teurarat-reret. Sup ka lembur. Reup poek, da kalingkup deui ku tatangkalan. Blig, blig sora lengkahna asa malik ngagebringan ka sorangan. Ambekna dipengkek. Angen rantug. Hiliwir angin lirih meuntas lembur. Tatangkalan ngadak-ngadak maroyeg, pating rarigrig jiga jurig ngigel. Keresek, keresek, sada sandal meuntas luhureun kalakaygaring. Kardana ngenca ngatuhu ku juru panonna. Ukur remeng-remeng. Uhu, uhu sora batuk lilir, ti imah  nu itu. Lenyap angen Kardana teh. Ratug, tariking ku reuwas, asa dihoyahkeun ti nu poek. Dengkek deui sora budak ceurik, kawas nu kalesotan susu indung, atawa katindihan lanceukna.

          Gedig, gedig, bray rada caang deui. Plong weh pikiranana ngemplong, bari ngaleupas ambekan. Ngalengkahna beuki kerep. Solendang tasna digilirkeun kana taktak belah katuhu, bari dicekel, ngarah teu ngagokan lengkah.

          Geus moal manggih deui lembur ayeuna mah. Leumapng dangah ge moal sieun ringkang da kenca-katuhueun teh poek ku kebon jagong. Kadangkala paselang jeung huma, kebon hiris, sampeu atawa kebo jeruk. Turug-turug panon teh moal leupas awas, ukur bisa wewelasan lengkah, da halimun teh beuki kandel, ka lengkob ka mumunggan.

          Tapi palebah tangkal randu mah manehna teh ngarengkog deui. Curinghak. Lengkahna diancaan, malah tungtungna mah tuluy ngarandeg. Ti kajauhan kadenge sora nu beluk, hawar-hawar. Sorana kendor tarikan, kasawur ku angin peuting. Ngalaeu, melang-melung, mulas-melis kawas hayang dibaturan keueung.

          Kardana sirikna teu dengdek-dengdek wae ngadengekeunana teh, bangun hayang teges ka nu boga sora. Geus apaleun mah manehna teh meuni ngareketek. Jul-jol lalakon bareto, nyeuit-nyeuit deui kanyerianana. Hate ngenes nu geus pepes, ngadak-ngadak ruhay deui. Leungeuna ngarayap ngarampaan tasna. Porosot cantelna dibuka hiji, tuluy dikodok. Lol hulu balati, disarungan ku perelak bodas, geus dipaut tuluy diselapkeun kana cangkengna, jeroeun kameja.

          “Jadi ayeuna mah!” ceuk gerentes hatena. “Moal deuk dipangejatkeun. Teu panasaran aing nepi ka kudu ngajolor di jalan ge ari pada-pada dikencar mah!”

          Teu mencog sangkanana, memang enya Sasmita nu keur ngalaeu beluk teh. Kulisi desa. Matuh saban peuting ana ngontrol teh manehna mah sok ngelemet. Ana pareng bijil bulan, nya kitu sok bari hahaleuangan. Geus arapaleun sarerea ge. Tayohna liar peuting teh ari dibarengan caang peuting  mah sok nyiptakeun alam lamunan. Bangun mawa waas, mawa kelar. Ngamplang sagara katineung. Rusras kana laku lampah diri. Lalakon bareto asa kamari, baheula asa ayeuna, saliwat-saliwat jiga dina pangimpian. Nenjo langit ngalanglaung, alam teu tinemu tungtung, kuciplak mulang ka diri. Malikan lampah kamari. Boa enya boa lain. Hirup ukur wawayangan. Ana umur tinemu tuntung: jog anjog ka bale pulang, ngalalakon tanceb kayon, carita kari tulisan. Cacap raga, kari kalangkang.

          Sasmita ge enya kitu celak-celukna teh. Melas-melis bangun kahudang ku guguritan. Cenah “… hirup katungkul ku pati, paeh teu nyaho dimangsa…”

          Beuki peuting sorana sok beuki peuyeuh.

          Ari ayeuna melang-melungna teh tereh ngarubuhkeun, kari tilu padalisan deui “…ana kasasar nya lampah, napsu nu  matak kaduhung, badan anu katempuhan.”

          Kakara ge maju tilu lngkah Kardana teh ngarengkog deui, bangun mendag mayong. Napsu nu  geus mimiti hurung ngadak-ngadak lempes deui. Kawas aya panoel nu gaib nitah mulak-malik mikir. Bisina terus narutus, kaasup pangajak setan.

          Enya ari enyana mah manehna kungsi menunang kateungeunang ku kulisi desa teh. Bareto teh basa Kardana geus ditambalung ku reserseu. Sasmita kungsi nyacampah bebeakan, bari  nunjuk-nunjuk hareupeun jalama di bale desa. Pokna, “Sia teh rek ngacowkeun daerah aing? Sia teh rek ngajago? Hayang ngajajal Si Sasmita? Sok! Ku ain moal burung ditande.”

          Caritaan kitu ninggan kana hate nu keur meujeuhna digerihan, nyapuguh teurak pisan. Da harita, pangna Kardana luas mahala jelema ge taya lian tariking ku nyeri, pedah boga pamajikan anu kaacida dipikanyaahna kasmapak keur digadabah batur.

          Tapi da eta mah bareto.

          Ayeuna mah Kardana teh loba deui rus-rasna. Ras kaditu ras kadiri sorangan. Mun tea mah peuting ieu Sasmita nu kudu bobor karahayoan, sok tada teuing anak-anakna. Mangkaning sagenep-genep, turta laleutik keneh. Pantesna teh reang careurik, nenjo bapana digarotong geus jadi layon. Sabalikna, mun manehna nu ninggang di apes. Atuh sasat-sasat jauh panjang gagang. Pangna daek ngulampreng nincak deui lemburna ge apan tariking ku hayang tepung jeung nu jadi anak. Hayang ngarawu, hayang mangku, tina sakitu kalillaan di pangbuangan teu bisa nyacapkeun kasono. Kari-kari ayeuna, sasat kari sagokeun hayoh rek kaolo ku panggosok setan.

          Ingetan kitu nu ngalantarankeun manehna mendag mayong teh.

          Malah geus katinggali pengkolan mah manehna teh sup ka jero kebon, nyalingker tukangeun tangkal muncang. Ceuk pikiranana diteruskeun mah moal henteu geus tangtu amprok jeung Sasmita teh. Panona seukeut ka palebah pidatangeun nu rek liwat.

          Nya bener itunganana teh, da teu kungsi lila, jebul sasmita ti beulah ditu . make baju sarwa hideung. Iketna dibudedkeun, nuruban daun ceuli. Teu sidik beungeutna mah da puguh haleungheum. Ngan bedogna we nu kaciri teh, mani ngangsar.

          Jeung kawas nu terus rasa manehna teh. Leumpangna beuki lila beuki ngendoran, luak-liuk ngenca ngatuhu, siga nu sieun kabongohan. Malah tuluyna mah reg eureun di pengkolan pisan. Hulang-huleng rada lila, bangun bari mikir-mikir, naha mending tuluy mudun, ka kidul, atawa mending mengkol nyimpang ka lemur Lebaksaat.

          Nya mengkol tulusna mah.

          Ungkuy-ungkuy, les leungit kahalangan pager hirup. Teu kungsi lila ngongdeui ngahaleuang lagu liwung. Melas-melis. Tayohna ngarah nu tarunggu hui beulah ditu kahudangkeun. Rek milu siduru, bari nyoro bubuy boled.

          Kardana gancang kaluar tina panyalingkeranana.

          Teu rengkag teu rengkog ayeuna mah leumpang na teh. Ngungkug cepet ngaler. Anakna geus kokolebatan wae. Hatena mah geus miheulaan nepi. Nagarwu mangku, ngagalentoran anakna nu keur meujeuhna cooeun.

          Nu diburu-buru teh imah indungna. Tapi ari geus nepi imahna teh kalah tuluy ngajanteng di buruan. Ngahuleng pirang-pirang lila. Titingalianana asa sagala geus  barobah. Bangun anjog ka lembur anyar pinanggih, sarta bingung nya pilampaheun. Karasaeunana asa narikolot. Reup manehna peureum. Cipanonna murubut teu kaampeuh. Batin-batinna mah sasambat ka Nu Ngayuga, awor jeung rasa bungah, dikadarkeun bisa deui nincak bali geusan ngajadi buruann pangabetah pangulinan ti bubudak.

          “Ma! Ma!” pokna haroshos, bari ngetrokan panto lalaunana.

          Kulutrak. Bray panto muka. Breh paeunteung-eunteung.

          “Ya Allah! Anak aing! Anak Ema!” Indungna mehmeh ngajerit, bari ngagabrug. Kardana dipuntel bari diceungceurikan.

          “Ujang! Anaking! Anak Ema!” pokna, pok deui pok deui, kawas nu euweuh deui pikecapeun.

          Kardana ngarumpuyuk. Sampoyong, brek diuk dina korsi, satengah meubeutkeun maneh. Ngeluk bari ngarahuh. Indungna ge brek tapak deku, kunyam-kunyem, acong-acongan nyembah ka Gusti bari tipepereket mengkek piceurikeun. Karepna mah hayang aluk-alukan ngarah puas, tariking ku nyeri pabaur jeung rasa bungah. Tapi kapikireun, mun kitu teh kuriak matak gareuwah ka tatangga. Da ngadenge nu jejeritan tengah peuting mah tada teuing guyurna, salembur.

          Keur paungku-ungku kitu, kadenge sada nu keketrok ti luar, kana jandela.

          “Bi! Bi! Bi Rahmi!” pokna, Sora lalaki, rada dipegeg.

          “Saha? Amung?”

“Enya!” walon ti luar semu gugu[. “Kade Bi ulah sare teuing. Aya jelema!”

“Jlemea…? Kamana leosna?”

“Kadieu ka lembur urang! Katangenna mah ti kidul keneh, ku Bah Iding, tuluy ngabejaan ka saung. Tapi lebah astana leungiteun cenah!”

“Heug, keun atuh!”

“Kade, Bi! Kuring rek nyusul Mang Kulisi, bisi manehna tuluy ngidul!” obrol ti luar deui haroshos. Blig, blig sora lengkahna.

          Kardana ngarahuh deui. Ngaheruk, bangun cape kabina-bina. Tapi barang nu ngadenge sora nu lilir ti kamar manehna teges meni ngaranjug. Jung nangtung, serelek nyingraykeun hordeng. Breh anakna keur sare bangun tibra.

Rek dirawu, kaburu dihulag ku indungna.

“Keun heulaanan, Jang!” pokna ngaharewos. “Karunya, kakara reup pisan. Ti sore keneh rungsing wae, teu puguh kahayangna.”

Kardana nguat-nguat maneh, tungtungna gek diuk tunjangeun anakna. Pek budak teh diteuteup. Mani camihmil. Parangina marahmay, bangun nu keur genah hate.

“Deudeuh teuing, Geulis!” pokna dumareuda. “Ieu Apa datang, Cu. Moal ayeuna mah, ku Apa moal ditinggal-tinggalkeun deui.”

“Pek embun-embunanana diusapan. Belenyeh budak teh imut, bari tuluy leungeunna dicamplangkeun, nyekel guguling kenca katuhu, kawas nu ulah dipisahkeun.

Kolesad kardana katengah imah deui. Teu kungsi lila sup deui ka kamar bari mawa tas. Eusina dikodkan sarupa-sarupa, sok digoler-golerkeun gigireun anakna. Biskuit sabungkus, roti sabungkus jeung bonbon karesep budak. Panungtungannana, baju sasetel jeung sapatuna. Pek diukur-ukur, meujeuhna. Sok deui gigireunana. Gulipak budak teh malik, siga nu ngahaja rek ngarawu kikiriman bapana.

Bray lampu tempel di tengah imah digedean.

Indungna katembong barintit keneh. Kardana ge can pulang deui dayana, diuk nyangsaya bari ngaheneng. Sor diasongkeun citeh tiis.

“Wegahna mah nataku, Ma, nincak deui lembur teh.” Pokna. “Ngan si Nyai kokolebatan wae, teu  beunang dibangbalerkeun.”

Indungna ngeluk, murubut deui cipanonna.

“Ema ge sok ngarakacak puguh, Jang, ari ngeus ngadenge budak Apa-apaan teh. Asa kaseuit-seuit. Komo ayeuna geus capetang, ana ceurik teh tara elat sasambat, hayang ka Apa, hayang ka Apa, cenah. Tungtungna mah Ema ge sok milu ceurik. Pantes mun di ditu maneh sok mindeng gegebegan ge.”

Kardana ngeluk deui, bari mengkek deui cipanon.

“Asa moal manggih deui siksaan nu leuwih beurat batan kudu papisah jeung anak. Manteng we paneda teh beurang peuting. Sok sieun dikadarkeun bobor karahayon di pangbuangan. Ceuk ingetan teh, mati-mati pondok umur ge hayang diparengkeun bisa tepung heula jeung nu jadi ana. Ayeuna diijabah…”

“Ema mah ngahelasna teh ari ningali budak pareng keur diuk di tepas, sore-sore. Ngalangeu wae cara budak gede, bangun nu jarauh panineungan. Pantesna teh nalangsa, asa teu tuah teu dosa pada naringgalkeun. Ku indung dijauhan. Ngarep-ngarep bapa teu weleh datang. Teu  bdea ti budak pahatu lalis. Mun katinggali kitu teh ku Ema sok gancang dirawu, dibangbalerkeun.”

“Nya indungna nu haramjadah tea mah!”

“Enya, memang salah indungna. Tapi budak mah da puguh budak, teu nyaho nanaon, ana pareng inget mah keukeuh we sok nanyakeun indung.”

“Nya eta sabisa-bisa mah ulah Ma! Ulah nepi ka aya pijalaneun inget ka indung!”

Indung Kardana tungkulteu ngwalon.

“Eta ge kitu.” Pkna deui. “Ema teh nurut we sakumaha papatah hidep bareto. Malah harita keneh budak teh tuluy dicokot ku Ema, teu ngingetkeun nyusu keneh. Sirikna teu pabedol-bedol jeung Nyi Atikah teh, da keukeuh teu mikeun mimitina mah. Najan disungkal  ku halu tujuh ge, moal cenah, ari kudu pukah jeung anak mah. Ngan ku Ema dihantem dileuleuyan. Nya lila-lila mah teu burung ngelehan manehna teh. Budak teh dibikeun dibawa. Rumasa cenah awak geus bau. Kuriak wae mawa sangar ka nu jadi anak. Ngan aya pamentana Atikah teh. Cenah, heug dipasrahkeun, asal meunang ngalongokan. Kaduana hayang ditepungkeun heula jeung hidep, Kar! Ku Ema gancang disanggupan, da pon Mia kabawa. Malah kungsi dianteur ka Banceuy harita teh, tapi hidepna kaburu manten diiangkeun ka Nusakambangan…”

“humayua! Siga nu heueuh nyaah ka anak. Kuring mah teu! Teu hayang nenjo kalngkang-kalangkangna acan. Paralun ulah nepi ka diparengkeun tepung deui jeung si Atikah teh!”

Indungna teu nempas.

“Pantes rek mindeng inget ka indung atuh, ari sok ditembongan wae mah!”

Kardana rada nyereng, bangun nu keuheul ka indungna.

“Nya eta salah Ema, Jang, da tadina kaburu ragrag sanggup tea. Jeung teu tega gegede na mah. Budak teh teu sirikna muntel, ari geus tepung jeung indung teh, puguh tara daek pukah. Bangun sieun ditinggalkeun deui.”

“Enya ari ninggali kitu na mah. Tapi Ema teh kudu inget, apan pangna kuring nepi ka keiu teh, nepi ka kudu ngalaman di bui, taya lian alatan laku lampah si Atikah!”

“Kaharti ku Ema ge.tapi…, tapi kahayang Ema mah bu enggeus mah enggeus we, Jang, da moal aya anggeusna. Tong diinget-inget wae, bisi jadi matak deui!”

“Nya rek kuma bisa poho!” Kardana beuki nyereng, bangun kahudang deui  napsuna. Dirasa-rasa, ray poe ray poe teh bet asa beuki nyeri. Beuki ngenes. Taya bangsana ijid dipangnircakeun ku pamajikan mah. Disertu tujuhkali ge asa moal ka kumbah. Komo ieu digeugeuleuh ku lalaki pantar si Kardayat. Dipisobat kalah  ngala bongoh. Saha nu teu cua. Gemes. Can nepi ka nyasaak mah rarasaan teh can suka ati!

Indungna teu waka ngomong deui, sieuneun anakna katutuluyan kahudang amarah. Ceuk pamikirna, kanyerian ku pamajikan mah da memang euweuh ubarna. Ana geus poek, teu beda ti seuneu hurung dicemplangan minyak bensin. Pudigdig napsu ngagugudug. Matak pantes Kardana nepi ka kapoekan ge. Keur mah balik cape harita teh, nyampak pamajikan busik, urut make batur.

“tapi da napsu mah puguh napsu,” kitu ceuk gerentes indungna. Moal puas ku diumbar. Nu dumuk mah matak nalikung ka diri. Da buktina tina alatan mahala Kardayat teh Kardana nepi ka kudu ngasaan siksa panjara. Ari ayeuna, can keneh puas wae.

Indung anak tuluy paheneng-heneng, nganteur lamunan sorangan.

Di luar, kadenge angin peuting ngaliwat deui. Beuki lila beuki tarik, ngagelebug. Plakplekpok nebakan daun cau, kawas nu kekepok bari liwat. Guprak kenteng murag. Beretek domba patingkorejat di kandang, kawas nu disampeurkeun ajag. Cungungung sora anjing babaung di lemburan peuntas ditu. Ditema ku sora kohkol, hawar-hawar ti bale desa.

Jep deui angin teh leler.

Kardana diuk sila tutug, bari mencetan tarang ku leungeun kenacana.

“Kutan wani ngulampreng keneh di urang Si Atikah teh!” pokna “Kandel kuli beungeut!”

“Nya eta karunya ningali kituna mah ka manehna teh, Kar!” omong indungna luleuy. “Da sanggeus nampa surat talak ti maneh teh Atikah tuluy balik ka lemburna. Tapi ku indung bapana teu ditampa;. Heunteu ari disapa-sapa teu diaku anak mah. Ngan teu meunang nete-nete deui, cenah, bongan ngawiwirang kolot. Nya tuluy disambat ku lanceukna, di Lebakngampar, tapi teu lila, da bejana di ditu teh ngadon direremokeun ka dulur dahuanana. Atikah teu daekeun. Tuluyna ayeuna teh di bibina, bari usaha ngaput…”

“Na sanes teras oleng panganten sareng Si Gejul, cenah!”

“Kateuing. Tapi da Kardayat ge geus teu aya di urang ayeuna mah. Balik ti rumah sakit teh teu kungsi nincak heula lemburna.”

‘Ari eta make hayang tepung jeung kuring, rek naon cenah lelewa Si Atikah teh?”

“Duka, Ari nyaritana ka Ema mah ngan hayang tepung heula we cenah, rek menta dihampura. Pedah baretomeureun teu kaburu nyarita.”

“Kateuteuri. Awewe kitu mah geus euweuh hampuraeunana!”

“Ih ulah ngaleuleuwihi Nu Maha Suci, anaking…!” Indungna lumengis, “Keun wae ari moal ngahampura mah, da itu ge moal maksa meureun. Omat urang ulah boga rasa bener aing ti batur. Da puguh jalma mah bener soteh ari keur bener, ninggang nincak di salah mah tara bener. Urang ge nya kitu. Matak disebut lautan hampura ge nya eta meureun nyirikeun yen hirup teh rea pohona.”

          “Ah, asa can  punah kuring mah!”

“Taya bayana, Kar. Tapi nya muga-muga we, cenah ti urang teun meunang pangampura, atuh mugi-mugi ti Gusti-na. Da Anjeunna mah Maha Murah, turta langkung tingali.”

Kardana ngaheluk, semu lungse.

“Kurng ge lain teu hayang ngahampura, Ma!” omong Kardana, laun, “Tapi hate teh keukeuh wae teu daek merean.”

“Nya keun waeceuk Ema ge. Perkara eta mah peun, nyanggakeun ka Gusti Nu Maha Suci. Bobot pangayon timbang tarajuan mah kari kuma Anjeunna. Da ku saayeuna ge katingalina mah manehna teh geus mehmehan teu tahan, balukar tina boga talajak kitu teh. Ray poe, ray poe, siga nu teu kendat diganggayong.”

Kardana teu nempas deui, kalah nyangsaya bari peupeureuman. Pok deui indungna, “Mani geus ragas awakna teh. Nguluwut tayohna. Unggal kadieu tara elat sumegruk bari nyuuh kana lahunan Ema. Ngageugeuri saban tepung ge. Cenah batin-batina mah geus teu werat kumelendang, tariking ku era. Rungkang-ringkang, luwat-liwat asa napak asa henteu. Ana tepung jeung nu wawuh, cenah mani asa teu beungeutan. Kadieu ge sok poek keneh datangna teh : alik-balik mun geus magrib.”

Indungna ngarandeg heula.

“Sakapeung mah manehna teh bangun geus pondok harepan. Cenah, batan diganggayong keiu mah asa leuwih hade puput umur. Panjang ge ngangandar wirang, hirup geus taya pangaji. Tapi ana ras ka anak, meureun sok leler deui ngagerina teh.”

“Nya bongan sorangan,” Kardana nempas. “Ulah meubeut meulit ka nu lian.”

“Rumasaeun eta ge,” omong indungna deui rada tatag. “Malah tungtungna mah nya kitu nyarita teh. Cenah da geus dumuk teu cageur ku handeueul, ayeuna mah kari ngadago-dago salaki, sugan meunang keneh panghampura. Atuh dina henteuna, cenah ari geus kadenge ku sorangan mah teu panasaran. Gantung tinggi buang jauh pasrah lilah, tarima dikasalahan. Dina dug di mangsa teh moal jadi angen-angen wae.”

“Kuring mah lain nanaon, nyaram ditepungan teh nya eta ngingetkeun pikahareupeun nu jadi anak. Mangkaning budak teh awewe, geura. Sok tada teuing eraeunana mun jaga teh – pareng Mia geus sawawa – cew aya beja kaemper-emper, yen pangna kolotna pepegatan bareto teh cenah meureun, pedah indungna kitu kitu jeung si anu. Pisakumahaeun teuing ngarakacakna hate nu jadi anak. Nanggung wirang saumur-umur alatan perbuatan indung. Piraku teu hareudang hate kuring. Nu matak taya deui jalan iwal ti kudu disapih, ulah nepi ka nyaho dirupa indung!”

Indung Kardana nganjug deui ngadenge caritaan kitu teh. Teu nyangka anakna bakal matok dina gurat batu. Tapi ari pokna mah, “sukur atuh ari hidep geus ngeunteung kahareup mah. Ema moal kudu hese papatah.”

Kardana unggeuk.

“Ema mah peupeujeunh teh, Kar, poma hidep sing rikip nyamunikeun rasiah, mangka wijaksana nyaritana, da najan diulah-ulah ge, sakali  mangsa mah manehna tinangtu bakal nalengteng, nanyakeun indung. Sarebu kali dipinding-pinding, sarebu kali dibuni-buni, awal ahir mah tinangtu tepung. Da puguh aya paribasana, pancuran mah tara poho ka tampian. Tah lebah dieuna mangka wijaksana di urangna!”

“Nyaeta bu matak rek dibawa ge!”

“Dibawa…” Indung Kardana kaciri ngagebegna.

“Enya, rek dibawa!”

Nenjo indungna ceuleumeut, Kardana gancang  neruskeun. Cenah, da geus aya bulanna kaluar ti pangbuangan teh. Sararak-siruruk di kota. Ayeuna geus meunang gawe, di bengkel. Jeung geus boga panyewaan. Niatna geus gilig deuih. Nincak deui lembur teh ngan ukur rek nyokot budak. Ti dinya mah paralun, ulah diparengkeun nete-nete deui. Teu kaduga cenah ari kudu deui pagilinggisik jeung nu wawuh mah. Da sahenteuna geus pada nyaho. Kuriak pada naggap, jadi bahan gogonjakan. Mana mending nyelongkeun maneh di nu rame. Teu ditembongan mah piraku teu paroho.”

Indungna sirik teu nyembah-nyembah, bari ngahinghing.

“Ulah , Jang! Ulah!” pokna. “Jeung saha atuh Ema ari si Nyai dibawa mah! Sing karunga ka…”

Teu didenge tayohna. Da sanggeus ngagayuh ka janari mah regeyeng wae budak nu keur tibra sare teh dirawu ku Kardana. Awakna dibulen ku simbut kandel.

Nenjo kitu indungna bati rampang-reumpeung. Ngok budak teh diciuman bari diusapan. Hulang-huleng teu puguh cabak. Tungtungna top kana boneka, pek ditangkeupkeun ka budak nu keur lulungu teh.

“Bismillah…! doakeun Ma!” omong Kardana.

Jrut ka buruan. Bulan ngempray, belenong. Halimun peuting nyingray kasingkirkeun angin lirih. Alam dunya ngemplang, teu usak-teu usik, cara nu keur sare tibra.

Kardana ngungkug sajeroning mudun. Leungeun nu kencana dipake nahan tongong anakna, bisi ngalenggak teu katande.

Tapi lila-lila mah budak teh lilir. Ret kana beungeut bapana, neges-neges.

“Apa, Cu!” omong Kardana. Ngok dicium.

Leungeun budak teh tuluy meulit kana beuheung bapana bangun pohara sonona. Pek tatanggahan. Panonna nu cureuleuk mureleng mencrong bulan.

“Apa, bulan teh nutur-nutur wae…”

“Muhun.”

“Alim dikantunkeun, nya…!”

“Muhun.”

“Mia ge alim dikantunkeun deui,” omongna bari nagkeup, beuki pageuh.

“Moal, Geulis!” Ngok dicium.

“Saur Mamah, Apa nuju angkat. Bade lami pisan…”

Teu nembal.

“Tapi Mamah ge angkatna lami pisan. Mia bobona sok sareng Nini wae…”

“Muhun”

“Mia mah bobona hoyong di bumi urang deui. Alim di bumi Nini mah.”

“Muhun”

“Di bumi Nini mah Apa teu aya. Mamah teu aya.”

“Muhun. Mia nyaah ka Apa?”

“Nyaah… ka Mamah oge nyaah. Apa oge ka mamah nyaah…?”

Teu nembal.

“Apa oge ka Mamah nyaah…?”

Unggeuk.

Budak teh ngagenggehe kana taktak bapana, ngaramesan kameja, bangun sugema.

“Saur Nini Mamah teu damang…”

Teu nembal.

“Ayeuna mah tos damang?”

“Atos”

Mia mah bobona hoyong sareng Mamah deui…”

Teu nembal.

“Engke bobona bade di bumi urang deui?”

Teu nembal.

“Ayeuna Mamah nuju ngantosan…?”

Teu nembal.

Budak nu keur meujeuhna tetelel teh ari teu diwaro mah, tuluy jempe. Pek cengkat, bari neuteu, neges-neges beungeut bapana.

“Naha Apa nangis…?” pokna, halimpu.

Kardana sirikna teu ngarumpuyuk. Budak teh ditangkeup, bari digalentor. Anakna ge malik nangkeup, bari nyusup, pokna, “Mia ge nyaah ka Apa. Ka Mamah ge nyaah…”

(1973)            

         

Pairan (2) »

Paguyuban Pasundan, Organisasi Tua yang Tetap Eksis

Logo Paguyuban Pasundan

Logo Paguyuban Pasundan

Paguyuban Pasundan (ejaan aslinya Pagoejoeban Pasoendan) adalah organisasi budaya Sunda yang berdiri sejak tanggal 20 Juli 1913, sehingga menjadi salah satu organisasi tertua yang masih eksis sampai saat ini. Selama keberadaannya, organisasi ini telah bergerak dalam bidang pendidikan, sosial-budaya, politik, ekonomi, kepemudaan, dan pemberdayaan perempuan. Paguyuban ini berupaya untuk melestarikan budaya Sunda dengan melibatkan bukan hanya orang Sunda tapi semua yang mempunyai kepedulian terhadap budaya Sunda.

Secara tidak langsung, kelahiran Paguyuban Pasundan dipengaruhi oleh pendirian Budi Utomo pada hari Rabu tanggal 20 Mei 1908, yang dianggap sebagai tonggak awal kebangkitan bangsa Indonesia menggapai kemerdekaan. Pada awalnya, cukup banyak orang Sunda yang bergabung. Cabang-cabang Budi Utomo juga banyak bermunculan di Jawa Barat, seperti di Bandung dan Bogor. Namun beberapa tahun kemudian, keanggotaan orang Sunda dalam Budi Utomo menurun drastis. Hal ini disebabkan karena menurut mereka, dari segi sosial-budaya, organisasi tersebut hanya memuaskan penduduk Jawa Tengah dan Jawa Timur saja.

Atas inisiatif siswa-siswa Sunda di STOVIA (School Tot Opleiding voor Indlandsche Artsen) – sekolah kedokteran jaman Belanda di Batavia (Jakarta), diupayakan pembuatan organisasi untuk orang-orang Sunda. Selanjutnya, para siswa yang berusia sekitar 22 tahun itu, berkunjung ke rumah Daeng Kandoeroean Ardiwinata, yang saat itu sudah dianggap sebagai sesepuh orang Sunda. Dalam kunjungan tersebut, dinyatakan maksud pendirian perkumpulan orang Sunda sekaligus meminta D. K. Ardiwinata untuk menjadi ketua organisasi

Setelah D. K. Ardiwinata menyanggupi, maka di rumahnya di Gang Paseban, Salemba, Jakarta, pada hari Minggu tanggal 20 Juli 1913 diadakan rapat untuk pendirian perkumpulan. Dalam rapat itu disepakati pendirian organisasi yang kemudian dinamai “Pagoejoeban Pasoendan”. Saat itu ditetapkan D. K. Ardiwinata sebagai penasehat dan Dajat Hidajat (siswa STOVIA) sebagai ketua.

Pada tanggal 22 September 1914, pengurus paguyuban meminta izin kepada pemerintah untuk dapat melakukan kegiatannya secara sah. Dengan surat keputusan nomor 46 tanggal 9 Desember 1914, izin tersebut diberikan. Selanjutnya, sampai tahun 1918, organisasi ini lebih sebagai perkumpulan sosial-budaya.

Kiprah Politik

Otto Iskandar di Nata

Otto Iskandar di Nata

Seiring dengan keinginan untuk mengadakan perbaikan dalam bidang sosial dan ekonomi, Paguyuban Pasundan merasa perlu untuk turut berkecimpung dalam bidang politik untuk mencapai tujuan-tujuannya. Untuk itu, sejak tahun 1919, seiring dengan dibentuknya Volksraad, dilakukan upaya untuk mendudukkan wakilnya di lembaga tersebut. Selanjutnya dengan surat keputusan nomor 72, tanggal 13 Juni 1919, pemerintah juga mengesahkan Paguyuban Pasundan sebagai perkumpulan politik.

Sejak Desember 1927, Paguyuban Pasundan masuk menjadi anggota PPPKI (Permoefakatan Perhimpoenan-perhimpoenan Politik Kebangsaan Indonesia). Dengan bergabung dalam federasi itu, paguyuban tidak lagi menjadi perkumpulan lokal dengan perhatian hanya pada Pasundan atau Jawa Barat saja, tapi menjadi perkumpulan nasional dengan tujuan bersama yaitu untuk mencapai kemerdekaan bangsa.

Kegiatan dalam bidang politik semakin kuat saat kepemimpinan Oto Iskandar di Nata, yang dijuluki “Si Jalak Harupat”, seorang kelahiran Bojongsoang, Bandung tanggal 31 Maret 1897. Selain menjadi ketua Pengurus Besar Paguyuban Pasundan, ia juga menjadi wakil organisasi tersebut di Volksraad mulai tahun 1931 sampai 1942.

Kiprah dalam Bidang Pendidikan

Sesuai dengan yang tercantum dalam anggaran dasarnya, salah satu jalan yang ditempuh Paguyuban Pasundan dalam mencapai cita-citanya adalah melalui jalur pendidikan dan pengajaran. Upaya pendirian sekolah dimulai dengan mendirikan Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Pasoendan di Tasikmalaya pada tahun 1922, diikuti pendirian Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Pasoendan, juga di Tasikmalaya, yang medapat bantuan dari pemerintah. Sekolah-sekolah lain terus didirikan, hingga tahun 1941 telah ada 51 sekolah dengan 296 orang guru. Kebanyakan ada di Bandung dan Tasikmalaya, yaitu masing-masing tujuh buah. Sisanya tersebar di 34 tempat lainnya di seantero Jawa Barat.

Untuk mengurus persekolahan tersebut, dalam Kongres Paguyuban Pasundan di Bogor tahun 1931, didirikan Bale Pamulangan Pasundan (BPP), dengan pemimpin pertamanya adalah Ahmad Atmadja. Dengan berdirinya BPP, sekolah-sekolah Pasundan semakin marak. Demikian pula guru dan muridnya semakin banyak.

Pendidikan bagi masyarakat umum, diwujudkan dengan diterbitkannya sembilan media massa selama periode 1914-1942. Salah satunya yang terbesar adalah suratkabar Sipatahoenan yang menjadi corong Paguyuban Pasundan. Semula suratkabar ini diterbitkan Paguyuban Pasundan di Tasikmalaya mulai tahun 1923. Pimpinan redaksi pertamanya adalah Soetisna Sendjaya. Awalnya surat kabar ini terbit seminggu sekali. Namun setelah kepengurusannya diambil alih oleh Pengurus Besar Paguyuban Pasundan tahun 1931, Sipatahoenan bisa terbit harian. Kantornya dipindahkan ke Bandung, tepatnya di Kaca-kaca Wetan, sebelum kemudian pindah ke Banceuy, dan akhirnya di Dalem Kaum.

Kiprah dalam Bidang Ekonomi

Dalam bidang ekonomi, Paguyuban Pasundan dalam kongresnya yang ke 19 di Tasikmalaya tahun 1934, mendirikan Centrale Bank Pasundan, yang berbentuk N. V., dengan pemimpinnya Iyos Wiriaatmadja. Pusatnya berada di Jakarta, sedang di daerah-daerah berdiri cabang-cabangnya.

Kehidupan perkoperasian di lingkungan Paguyuban Pasundan juga cukup marak. Setiap cabangnya mendirikan koperasi yang kebanyakan disebut Koperasi Pasundan. Koperasi-koperasi tersebut bergerak dalam bidang keuangan, perdagangan, ada juga yang khusus menyediakan perabotan untuk para petani. Garapan bidang ekonomi lainnya yang cukup menonjol adalah pendirian Lumbung Padi (Leuit Pare). Pemantauannya dilakukan oleh Puseur Lumbung Pasundan.

Dalam Kongres Paguyuban Pasundan ke 23 di Sukabumi, didirikan badan yang mengelola permasalahan ekonomi yang disebut Bale Ekonomi Pasundan. Pemimpin bale tersebut adalah Raden Soedarna Soeradiredja, yang juga merangkap sebagai Wakil Ketua P. B. Paguyuban Pasundan dan Direktur Centrale Bank Pasundan.

Untuk mengurus masalah pemberdayaan perempuan, di dalam Paguyuban Pasundan didirikan Pasundan Istri (PASI). Sedangkan dalam kepemudaan, pada bulan Desember 1934 didirikan JOP (Jeugd Organisatie Pasoendan) dengan ketuanya yang pertama R. Adil Poeradiredja. Dalam kongresnya yang pertama tahun 1935 kepanjangan JOP diganti menjadi “Jasana Obor Pasundan

Saat suhu politik memanas menjelang Perang Pasifik, didirikan “JOP Brigade” untuk menangkal kejadian-kejadian yang tidak dikehendaki. Beberapa tokoh, diantaranya Jenderal A. H. Nasution turut menyokong, seperti dengan membantu latihan baris berbaris bagi JOP Brigade.

Masa Penjajahan Jepang dan Masa Revolusi Kemerdekaan

Dari tahun 1943 sampai dengan 1945, kegiatan politik berbagai perkumpulan di Indonesia, termasuk Paguyuban Pasundan dibekukan oleh penjajah dari Jepang. Sipatahoenan juga turut dibredel dan sebagai gantinya diterbitkan suratkabar Tjahaja yang dikendalikan Jepang. Namun demikian kegiatan paguyuban dalam bidang lainnya seperti pendidikan, kesenian, dan sosial masih diperbolehkan dan bisa terus berjalan.

Setelah pendudukan Jepang berakhir, Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan maklumat nomor X tanggal 3 November 1945 tentang pembentukan partai-partai politik. Berdirinya partai-partai politik oleh Pemerintah Republik Indonesia dipandang sebagai partisipasi aktif dari kehidupan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara serta dapat memperkuat perjuangan bangsa mempertahankan kemerdekaan. Keluarnya maklumat tersebut menyebabkan partai-partai di Indonesia hidup kembali seperti Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Islam Masyumi, Partai Buruh Indonesia, Partai Rakyat Sosialis, dan sebagainya. Paguyuban Pasundan saat itu tidak langsung aktif kembali. Hal ini terutama disebabkan karena R. Oto Iskandar di Nata, yang dianggap sebagai figur yang dapat memimpin kembali Paguyuban Pasundan, hilang secara misterius bersama beberapa tokoh kemerdekaan lainnya.

Namun kemudian muncul sebuah partai yang konon didalangi Belanda dengan nama Partai Rakyat Pasundan (PRP) yang mempunyai visi yang tidak sejalan dengan Paguyuban Pasundan. Hal tersebut memicu para anggota Paguyuban Pasundan untuk menghidupkan kembali organisasinya. Maka berdirilah kembali Paguyuban Pasundan di Bandung, Yogyakarta, dan Jakarta dalam waktu hampir bersamaan. Selanjutnya Bandung ditetapkan sebagai pusat Pengurus Besar Paguyuban Pasundan dengan ketuanya R. S. Suradiradja.

Dalam kongres Paguyuban Pasundan tanggal 29-31 Januari 1949 di Bandung, diputuskan untuk mengubah nama Paguyuban Pasundan menjadi Partai Kebangsaan Indonesia (PARKI) dengan maksud untuk memperluas perjuangan di bidang politik. Partai tersebut kemudian mengikuti pemilihan umum pertama Republik Indonesia pada tahun 1955. Namun suara yang didapat dalam pemilu tersebut sangat minim. Kekalahan tersebut menimbulkan perpecahan di tubuh PARKI. Akhirnya melalui referendum dalam kongres luar biasa PARKI tanggal 29 November 1959, partai tersebut memutuskan untuk mengubah namanya kembali menjadi Paguyuban Pasundan.

Paguyuban Pasundan Sekarang

Setelah kekalahan dalam pemilu tersebut, kegiatan Paguyuban Pasundan lebih didominasi oleh aktivitas dalam bidang pendidikan dan sosial-budaya. Salah satu tonggak perjuangannya dalam bidang pendidikan adalah dengan didirikannya Universitas Pasundan di Bandung pada hari Senin tanggal 14 November 1960.

Bale Pananjung Pasca Sarjana Universitas Pasundan

Bale Pananjung Pasca Sarjana Universitas Pasundan

Kini Paguyuban Pasundan memiliki 32 kantor cabang dengan 492 anak cabang. Sedikitnya 12.300 orang terlibat dalam paguyuban ini. Pelestarian kebudayaan Sunda di era globalisasi kini menjadi prioritas utamanya. Kantor cabangnya pun bukan hanya berada di Jawa Barat saja namun juga sampai ke Luar Negeri. Bahkan pada awal bulan Desember kemarin secara resmi Ketua Paguyuban Pasundan telah mengesahkan dan melantik pengurus cabangnya di Jepang.

Sekolah-sekolah Pasundan dalam jenjang pendidikan dasar dan menengah bertebaran di wilayah Jawa Barat dan Banten dengan jumlah 94 sekolah. Sedang dalam jenjang pendidikan tinggi, Paguyuban Pasundan memiliki empat perguruan tinggi, yaitu:

· Universitas Pasundan, didirikan tanggal 14 November 1960 di Bandung.

· Sekolah Tinggi Hukum (STH) Pasundan, didirikan tanggal 14 Januari 1964 di Sukabumi.

· Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Pasundan, didirikan tanggal 29 Mei 1986 di Cimahi.

· Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Pasundan, didirikan tanggal 18 Januari 1988 di Bandung.

Dalam kepengurusan, Kongres Paguyuban Pasundan tanggal 19 Juli 2005 telah memilih pengurus untuk periode 2005-2009, yaitu: H. A. Syafe’i sebagai Pupuhu (Ketua) Pengurus Besar Paguyuban Pasundan dan Prof. Dr. H. M. Didi Turmudzi sebagai Sekretaris Jenderal. Sedangkan Prof. Dr. Ir. Ginandjar Kartasasmita terpilih menjadi Ketua Dewan Pangaping. Juga diangkat Dewan Pakar sebagai berikut:

Djuharja S. Pradja

Pakar agama

Miftah Faridh

Pakar agama

Setia Hidayat

Pakar budaya

Nina Herlina Lubis

Pakar budaya

Yus Rusyana

Pakar pendidikan

Abin Samsudin Ma’mun

Pakar pendidikan

Kusnaka Adimihardja

Pakar lingkungan

Rochmin Dahuri

Pakar lingkungan

R. E. Suryaatmaja

Pakar lingkungan

Sutedja

Pakar kesehatan

Sutisna Artawidjaja

Pakar kesehatan

Dadang

Pakar kesehatan

Didin Damanhuri

Pakar ekonomi

Uce K. Suganda

Pakar ekonomi

Yusuf Sukardi

Pakar ekonomi

Busye

Pakar ekonomi

Romly Atmasasmita

Pakar hukum dan HAM

Dedi Diana

Pakar hukum dan HAM

Bana K. Kartasasmita

Pakar kerja sama

Ruchadi Adiwikarta

Pakar pemuda dan olahraga

Sekarang urusan pendidikan di Paguyuban Pasundan ditangani oleh dua yayasan sesuai dengan jenjangnya, yaitu Yayasan Pendidikan Tinggi Pasundan dengan ketuanya Prof. Dr. H. Idrus Affandi S.H. dan Yayasan Pendidikan Dasar dan Menengah Pasundan dengan ketuanya R. H. Tata Gautama Suryawan.

Pairan (4) »