Arsip pikeun Januari, 2009

Ahli Waris Villa Isola Kunjungi Villa Isola

Cucu pemilik Vila Isola, Andre Kofman berkunjung ke Vila milik neneknya di kampus UPI, Bandung, Selasa (30/12). Andre merasa bangga dengan keutuhan bangunan walaupun menemukan adanya ketidaksesuaian asli bangunan (dicopy dari detik.com)

Cucu pemilik pertama Vila Isola, Andre Kofman berserta istri dan kedua anak melakukan kunjungan ke Vila Isola milik neneknya D.W Berretti.
Cucu pemilik pertama Vila Isola, Andre Kofman berserta istri dan kedua anak melakukan kunjungan ke Vila Isola milik kakeknya D.W Berretti.
Setibanya di Vila Isola, Andre Kofman beserta keluarga diajak berkeliling kawasan Vila Isola.
Setibanya di Vila Isola, Andre Kofman beserta keluarga diajak berkeliling kawasan Vila Isola.
Andre Kofman beserta keluarga dan Rektor UPI foto bersama di depan Vila Isola
Andre Kofman beserta keluarga dan Rektor UPI foto bersama di depan Vila Isola
Perbincangan antara Andre Kofman dengan Prof. Sunaryo tentang rencana Isola yang akan dijadikan Musium
Perbincangan antara Andre Kofman dengan Prof. Sunaryo tentang rencana Isola yang akan dijadikan Musium
Villa Isola ini dibangun oleh Kakeknya Andrew kofman, DW Baretti pada tahun 1933
Villa Isola ini dibangun oleh Kakeknya Andrew kofman, DW Baretti pada tahun 1933

Dalam kunjungannya tersebut, Andre merasa bangga dengan keutuhan bangunan walaupun menemukan adanya ketidaksesuaian asli bangunan tersebut.
Kedatangan Andre bersama Istrinya, Agnes Kofman, serta kedua anak dan menantunya disambut oleh Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Sumaryo Kartadinata dan pengurus Bandung Heritage. Saat tiba Andre beserta keluarga langsung diajak untuk berkeliling kawasan Vila Isola.
“Saya pikir ini bagus walaupun ada beberapa bagian yang seingat saya tidak sepeti ini,” kata andre sewaktu melakukan peninjauan yang didampingi pemandu dari dosen pengajar Arsitektur UPI Dadang Ahadiyat.
Dia mencontohkan pada bangunan kolam yang berada tepat di depan muka bangunan yang kini sudah menghilang, ditambah dengan rumput-rumput liar yang memenuhi bekas kolam Vila Isola.
Cucu pertama pemilik Vila Isola ini pun sempat terkejut dengan sampah yang berserakan saat ia melakukan peninjauan di sekitar Vila. Andre sempat mengerutu mengenai perilaku orang-orang yang denganmudahnya membuat kotor kawasan Vila.
“Hei kenapa banyak sekali sampah di sini? gampang sekali orang-orang di sini buang sampah,” ketus Andre kepada rombongan yang membawanya berkeliling.
Andre pun tadi menyempatkan diri untuk berkeliling di University Centre untuk melihat denah rencana pengembangan Isola yang akan dilaksanakan pada tahun 2009 mendatang.
Dadang Ahadiat, guide yang juga dosen arsitektur UPI mengatakan pengembangan Vila Isola yang dimaksudkan adalah mengembalikan fungsi dan bagian bangunan seperti sedia kala.
“Rencananya memang kita akan kembalikan kawasan Isola seperti yang sebenarnya. Karena memang ada beberapa bagian-bagian yang fungsinya tidak seperti dulu,” kata Dadang.
Dengan demikian, lanjutnya, bangunan yang saat ini digunakan oleh rektorat UPI ke depannya setelah pengembangan cagar budaya dipastikan tidak akan ditempati oleh pihak rektorat.
“Di sini kita banyak punya bangunan baru, jadi kalau nanti pindah tinggal dipikirkan saja pindah ke sebelah mana,” ujar Kabag Aset Upi, Yahya Sudarja.

Villa Isola dibangun pada tahun 1933, milik seorang hartawan Belanda bernama D.W. Berrety. Nenek dari Andre Kofman in hanya menempati satu tahun di vila tersebut. Kemudian, bangunan mewah tersebut dijual dan menjadi bagian dari Hotel Savoy Homann. Dan sampai saat ini difungsikan sebagai gedung rektorat UPI Bandung
Pada masa pendudukan Jepang, Gedung ini sempat digunakan sebagai kediaman sementara Jendral Hitoshi Imamura saat menjelang Perjanjian Kalijati dengan Pemerintah terakhir Hindia Belanda di Kalijati, Subang, Maret 1942. Gedung ini dibangun atas rancangan arsitek Belanda yang bekerja di Hindia Belanda C.P. Wolff Schoemaker.

Pairan (3) »

Jabar Akan Miliki Kawasan Seni Budaya

ENAM seniman asal Jawa Barat, satu grup musik, dua lembaga yang bergerak dalam bidang seni, satu kampung adat, hotel, dan tiga tokoh yang bergerak dalam bidang kuliner dan pariwisata, Rabu (31/12) malam mendapat Anugerah Budaya 2008 dari Pemprov Jabar. Anugerah berupa uang dan piagam itu, diberikan secara langsung oleh Gubernur Jabar Ahmad Heryawan di Gedung Merdeka, Jln. Asia Afrika, Bandung, dalam acara kilas balik pembangunan seni, budaya, dan pariwisata di Jawa Barat sepanjang tahun 2008.

Para penerima anugerah tersebut adalah Achdiat Kartamihardja, Wahyu Wibisana (sastrawan), Yayasan Rancage, Selasar Seni Sunaryo, Grup Musik Bimbo, T. Wahyudin (pelestari ibing tayub, Sumedang)), Biranul Anas (perupa), Nomir Ismail (pelestari topeng, Bekasi), almarhum Mang Koko (tokoh karawitan Sunda), Kampung Adat Naga, Safari Ganden Puncak (hotel), almarhum A. Hawadi (pendiri Aktripa), H. Yahya Machmoed, S.E. (pendiri Asita), dan H. Ato Hermanto (pengusaha Dodol Picnic Garut) .

Mereka yang menerima Anugerah Budaya 2008 itu dinilai telah memberikan kontribusi yang besar dalam pembangunan seni budaya dan pariwisata di Jawa Barat, sehingga Jawa Barat dikenal sebagai daerah yang hidup dan kaya dengan potensi alam dan seni budaya.

Sayangnya, acara pemberian Anugerah Budaya 2008 yang berlangsung di Gedung Merdeka pada malam tahun baru itu kalah meriah dibandingkan dengan pelaksanaan serupa tahun 2007. Setahun lalu, acara penganugerahan banyak diisi dengan pertunjukan seni tradisional sehingga penyair Rendra dibuat kagum.

Pada penganugerahan kali ini, hanya diisi pertunjukan tari tradisional yang dikreasi oleh salah satu lingkung seni dari kaki Gunung Manglayang, Kab. Bandung, yang antara lain dipimpin oleh Bah Kawi. Selain itu, juga diisi oleh pertunjukan musik arumba dari Saung Angklung Udjo, serta pertunjukan nasyid dari D’Fikr.

Untung saja acara tersebut terangkat dengan pertunjukan grup musik Bimbo, yang dibawakan oleh Sam dan Jaka minus Acil, setelah para tamu undangan dibuat jenuh menyaksikan tayangan film kilas balik yang tanpa narasi dalam potongan film yang tampak asal edit itu.

Potongan-potongan film yang diandaikan sebagai gambaran dari pembangunan Jawa Barat dalam bidang seni dan budaya itu, tidak menjelaskan apa pun selain mencoba memberikan gambaran bahwa di Jawa Barat antara lain pernah ada acara pesta pesisiran dan pertunjukan-pertunjukan seni lainnya, baik berskala nasional maupun lokal.

Terlepas dari persoalan tersebut, dalam sambutannya Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengatakan bahwa Pemprov Jabar mempunyai perhatian yang cukup serius dalam upaya membangun seni dan budaya di Jawa Barat. Berkait dengan itu, pihaknya akan membangun kawasan seni dan budaya yang representatif dan berskala internasional.

Gubernur juga mengemukakan, program pelestarian bahasa, sastra, dan aksara daerah pun mendapatkan perhatian yang serius untuk ditindaklanjuti pembangunannya.

Sam Bimbo menuturkan, diberikannya Anugerah Budaya 2008 oleh Gubernur Jabar kepada para seniman yang masih hidup adalah tradisi yang pantas untuk dilanjutkan. Sebab, adakalanya pemberian anugerah ini banyak diberikan setelah senimannya meninggal dunia.

Menurut Sam, Sunda memiliki karya seni dan budaya yang demikian tinggi. Untuk itulah, baik pemerintah maupun para senimannya harus bahu-membahu dalam menjalankan pembangunan kesenian di jawa Barat.

“Siapa yang tidak kagum dengan karawitan Sunda, seperti kacapi atau angklung? Kalau bukan kita yang menghargai dengan sungguh-sungguh, lalu siapa? Jangan sampai kita baru ngeh bila hasil karya seni tersebut sudah diambil oleh orang. Seperti kasus angklung oleh Malaysia!” ujar Sam disambut tepuk tangan.

Seusai memberikan Anugerah Budaya 2008, Ahmad Heryawan didampingi Wakil Gubernur Jabar Dede Yusuf dan Wali Kota Bandung H. Dada Rosada mengendarai sepeda yang sudah disediakan di depan Gedung Merdeka, Jln. Asia Afrika Bandung.

Hal itu dilakukan menjelang detik-detik pergantian tahun. Ketiganya berharap pada tahun 2009, nasib bangsa dan negara ini bisa lebih baik lagi dari tahun-tahun sebelumnya.

(dicopy dari Pikiran Rakyat 2 Januari 2009)

Pairan (2) »

Cibadak, Rancabadak, dan Tempat Badak Berkubang

Oleh : T. Bachtiar*

 

HASIL penelitian Stehn dan Umbgrove tahun 1929, di gawir Ci Tarum (kini terendam Danau Saguling), dilaporkan adanya fosil vertebrata besar, seperti badak, gajah, kerbau, dan rusa. R.W. van Bemmelen dan Th. H.F. Klompe, seperti yang dikutip JA. Katili menyatakan bahwa di Cekungan Bandung ada hippopotamus (kuda nil). Fosil vertebrata besar itu mati lemas terkubur material dari letusan Gunung Sunda.

Walau tinggal hanya 50 ekor lagi, badak cula tunggal (Rhinoceros sundaicus) masih tetap hidup melewati seleksi alam dan keserakahan manusia. Badak itu kini hidup alami di Taman Nasional Ujung Kulon, Provinsi Banten.

Dalam catatan orang Eropa, sampai tahun 1700-an, di Bandung juga masih terdapat badak. Masyarakat masih sering menyaksikan jejak badak, paling tidak tempat berkubangnya. Oleh karena itu, jangan heran bila banyak nama tempat yang memakai kata badak, seperti Cibadak, Rancabadak, Kawah Pangguyanganbadak, Rawabadak, Lapangan Badakputih, dan lain-lain.

Bukan hanya dijadikan nama tempat, badak pun banyak digunakan sebagai simbol yang menunjukkan kekuatan. Kata badak pun terdapat dalam perbendaharaan kata dalam bahasa Sunda, seperti: ngaladog (bermain jauh). Ladog nama lain untuk badak. Badak disebut juga gandol atau menur. Ada juga sebutan ngabadak (ngabaladah, mencangkul membuka sawah), hamperubadak, ceulibadak, letahbadak (nama tumbuhan), badakheuay (arsitektur bangunan yang tidak memakai wuwungan), heuaybadak (lubang asap di atas dapur), babadak (bambu yang diiris besar, dianyam membentuk bronjong, berguna untuk membendung sungai atau untuk menahan uruk/longsor). Atau, siga badak Cihea (seperti badak Cihea), untuk menggambarkan orang yang jalannya menyeruduk.

Bahkan, anak-anak di Pameungpeuk, Kabupaten Garut, sampai tahun 1960-an, kalau memanggil teman-temannya untuk bermain itu, pastilah dengan cara melagukan:

 

Rombongan A:

“Euleung, euy, euleung, barudak urang ka jami!”

“Hai teman-teman, yu kita main ke tegalan!”

 

Rombongan B:

Embung, euy, embung, sieun badak nu kamari!”

“Ga mau, ah, ga mau, takut badak yang kemarin!”

 

Rombongan A:

“Euweuh, euy, euweuh, geus ditembak ku si Jendil!”

“Ga ada, teman, sudah ditembak oleh si Jendil!”

 

Rombongan A jeung B:

“Dil dil long, dil, di long, si Jendil di rawu kelong!”

“Dil dil long, dil, di long, si Jendil diambil kelong!”

Saat melagukan “Dil dil long, dil, di long, si Jendil di rawu kelong!” anak-anak dari dua kelompok itu sambil pakaleng-kaleng, berjalan melingkarkan tangan di pundak kawannya, dan terus bermain. Biasanya bermainnya bukan ke lapangan, ke mana saja sesuka hatinya, apakah mandi di sungai, bermain perang-perangan di sawah dengan cara saling lempar lumpur, atau mengambil bambu seukuran telunjuk untuk main bedil-bedilan.

 Hewan bercula ini telah memengaruhi pola pikir masyarakat saat menentukan atau memilih tempat, karena tempat berkubangnya menjadi ciri suatu kawasan yang dinilai baik sebagai tempat untuk manusia. Ketika Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels ngotot untuk memindahkan ibu kota Kabupaten Bandung dari Karapyak di pinggir Ci Tarum (Dayeuhkolot sekarang) ke dekat jalan raya pos, jalan yang dibangun sejak 1809 yang menghubungkan kota-kota di Pulau Jawa dari Anyer hingga Panarukan sepanjang 1000 km. Tujuan pemindahan itu untuk memudahkan kontrol dari penjajah, sehingga tugasnya untuk mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris dapat dikendalikan.

 Keinginannya itu ditegaskan kembali saat meresmikan jembatan Ci Kapundung di timur alun-alun sekarang. Jembatan itu diresmikan oleh Daendels yang bergelar Maarschalk, oleh masyarakat dipelesetkan menjadi Mas Galak, rajanya galak, bersama Bupati Bandung R.A. Wiranatakusumah II. Setelah berjalan melewati jembatan ke arah timur, Daendels yang sudah ingin segera memindahkan Ibu kota, lalu berhenti dan menancapkan tongkat, berkata setengah mengancam, “Coba usahakan, bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota”. Tempat ini sekarang menjadi kilometer nol Bandung/Provinsi Jawa Barat.

 Maka secara terencana ada usaha untuk memindahkan ibu kota dari Karapyak ke sekitar jala raya pos. Patih Batulayang, Rd. Djajakusumah menulis, “Pada tahun 1809, Bupati Bandung R.A. Wiranatakusumah II beserta sejumlah rakyatnya pindah dari Karapyak ke daerah sebelah utara dari bakal Ibu kota. Konon, penentuan Ibu kota Bandung pun dipilih di sekitar alun-alun saat ini karena di sana ada tempat berkubangnya badak.

 Bukan hanya itu, bagian-bagian dari tubuh badak pun dipercaya mempunyai khasiat dalam pengobatan, sehingga orang selalu berusaha untuk memburu satwa yang sudah terdesak ke pojokan Pulau Jawa di Ujung Kulon. Umumnya orang memburu badak hanya untuk diambil culanya. Tawaran dan iming-iming mendapatkan imbalan puluhan juta rupiah, telah melupakan segala risikonya, termasuk dipenjara, seperti yang terjadi pada bulan Agustus 1987 di Ujung Kulon.

 Djahari, namanya, ditemani Apid dan Sukariyah, setelah menjelajahi Ujung Kulon berhari-hari, akhirnya sampai di Blok Keusikluhur. Terlihat ada jejak badak menuju sungai. Djahari terdiam, lalu memanjatkan jampi-jampi:

 Dewi Sang Sara Ratu

Dewi Mantajaya

Maya sing ilang Satu

Ing tar ir pada sujud

Pada nyembah marina Nabi Sulaeman

Salebihan jebul putri para muti sajawa

Naon badak aprak rek dua rek tilu

Da eta nu diwudah

Jauh deukeut-deukeutkeun

Wawahna wani

Wawahna ojeg

Wawahna.

 

Dengan tiga kali tembakan, terkaparlah badak di pinggiran sungai itu. Peristiwa yang sama terjadi pada 1985, telah mengantarkan Djahari masuk penjara. Karena iming-iming mendapatkan uang Rp 50 juta itulah Djahari dan kawan-kawan nekat untuk memburu badak. Sebelum uang puluhan juta itu didapat, penjara mendahuluinya.

 Cula badak yang sesungguhnya merupakan kumpulan rambut yang kemudian mengeras ini, telah lama dipercaya berkhasiat, sehingga laris diperjual-belikan. Perdagangan cula badak dunia telah melampaui rasa takut manusia. Hong Kong, Singapura, Taiwan, menjadi tujuan perdagangan gelap berkuintal-kuintal cula badak.

 Cula, sesungguhnya berarti gunung. Jadi bagian kerucut yang tumbuh di kepalanya itu menyerupai gunung, menyerupai cula yang mencuat. Maka disebutlah cula badak.

*(Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung)

Pairan (2) »