Ada hal yang menarik dan patut diperhatikan dari rubrik Teras Tribun Jabar yang hadir setiap hari Minggu. Sudah satu tahun lebih rubrik tersebut selalu hadir dengan menjadikan Babasan dan Paribasa Sunda sebagai judulnya. Seperti halnya pada hari Minggu (24/4) Cecep Burdansyah, penulis tetap pada rubrik tersebut menyajikan judul “Lir Durukan Huut,” isinya membahas mengenai teror-teror bom yang sedang marak di Indonesia.
Di setiap awal tulisannya seperti biasa Cecep membahas mengenai isu-isu yang ramai diperbincangkan di masyarakat baik itu masalah ekonomi, pendidikan, politik atau masalah sosial. Setelah itu baru kemudian ia menyeret sebuah babasan atau paribasa Sunda yang sesuai dan dapat mewakili isu tersebut dan mengartikan kata demi kata sehingga membentuk satu kesatuan arti dari paribasa itu.
Dengan wawasan yang dimiliki penulis mengenai babasan dan paribasa Sunda kemudian selalu update dengan isu-isu yang ramai diperbincangkan, sudah pasti rubrik Teras menjadi rubrik favorit yang ditunggu kehadiranya setiap hari Minggu. Hal itu terbukti, di rumah ayah saya yang merupakan seorang pengsiunan pada setiap Minggu pagi saat loper koran datang, pasti yang pertama ia tanyakan adalah “paribasa apa yang muncul di Tribun Jabar Minggu ini?” Hal seperti itu bukan hanya terjadi di rumah tetapi juga pada teman-teman seprofesi di tempat kerja. Saat senggang mereka akan memperbincangkan paribasa dan isu yang muncul dalam rubrik tersebut.
Menulis esai yang sarat dengan kemampuan berbahasa dan harus update dengan isu-isu sepeti itu memang dibutuhkan ketelatenan yang luar biasa. Upaya yang dilakukan oleh Cecep patut diacungi jempol karena dalam tulisannya ia bukan hanya memberikan informasi mengenai isu-isu yang sedang terjadi kepada si pembaca tetapi ia juga layaknya seorang guru yang sedang mentransfer wawasan mengenai babasan dan paribasa Sunda dengan contoh-contoh yang mudah dipahami oleh si pembaca. Secara tidak langsung Cecep mengajarkan bahasa Sunda dengan sederhana dan mudah dicerna pembaca.
Namun sayang, pembelajaran bahasa Sunda secara sederhana dan mudah dicerna seperti yang didapatkan oleh ayah saya dan teman-teman di kantor itu tidak sama halnya dengan apa yang di dapatkan salah satu keponakan saya di bangku sekolah, Ade adalah siswa kelas VII di salah satu SMP favorit di Kota Bandung. Beberapa bulan yang lalu saat ia mengikuti ujian semester di sekoahnya ia memiliki masalah dengan pelajaran bahasa Sunda.
Saat SD Si Ade disekolahkan di sekolah swasta yang menerapkan sistem internasionalisasi pendidikan yang belakangan kami merasa kecewa karena semenjak memasuki bangku kelas satu sampai kelas enam semester pertama, ternyata di sekolah tersebut tidak ada mata pelajaran bahasa Sunda, dan baru diajarkan saat kelas enam semester dua itu pun hanya dijadikan persiapan untuk menghadapi ujian. Tentu saja saat memasuki bangku SMP ia merasa kesulitan mempelajarai bahasa Sunda di kelas.
Dari latar belakang keluarga ibu si Ade merupakan orang Sunda asli dan ayahnya orang Jawa, namun meskipun begitu orang tuanya berharap si Ade bisa mengerti mengenai budaya dan bahasa Sunda sehingga di rumahnya menggunakan dwi bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Sunda. Ade juga terbilang anak yang pandai dalam bidang kebahasaan, ia sangat mudah mempelajari bahasa Inggris dan bahasa Spanyol yang dipelajari dari gurunya, namun sayang saat mempelajari bahasa Sunda ia terkadang merasa kesulitan dan kalau ditanya masalah itu ia selalu berkilah “bahasa Sunda itu sulit sekali, aneh, lebih baik mempelajari bahasa Inggris.”
Saat menjelang UAS kemarin akhirnya saya meminta tolong kepada salah seorang teman yang kebetulan merupakan mahasiswa jurusan bahasa Sunda di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung untuk memberikan les private kepadanya. Saat diberi tahu permasalahannya dia tidak terlalu terkejut, malah menjawab: “kemarin juga habis memberikan kursus bahasa Sunda untuk persiapan UAS di tempat lain, hebat ya bahasa Sunda sekarang, orang Sunda aslinya pun harus kursus bahasa Sunda segala”
Ketika membuka buku catatan si Ade saya merasa terkejut karena sudah mempelajari aksara Sunda, dan ia mengaku bahwa gurunya memang sudah mengajarkannya. Memang aksara Sunda harus dipelajari oleh siswa hanya untuk sekedar diketahui, tapi sepertinya belum pantas kalau diajarkan untuk anak SMP semester pertama, lebih baik sewajarnya di sekolah diajarkan mengenai bahsa Sunda sehari-hari yang sering digunakan sebagai alat komunikasi.
Keterkejutanpun tidak berakhir dalam masalah itu saja, namun juga dalam masalah buku teks yang dijadikan sebagai buku sumber belajar. Bahasa yang digunakan oleh bukunya terhitung bahasa yang sulit dipahami oleh anak SMP. Dilihat dari buku ajar saja sepertinya para penyusun belum bisa memilah-milah materi mana yang cocok diajarkan dan disajikan untuk anak SD, SMP, atau SMA, hal itu terlihat dari beberapa materi ajar yang belum layak dipelajari oleh anak SD, SMP, atau bahkan SMA.
Seperti masalah ilmu kebahasaan, menurut saya materi itu tidak perlu diajarkan dulu, lebih baik materi tersebut diajarkan nanti di sekolah menengah atas atau bahkan di universitas, yang penting sekarang yang harus diberikan kepada siswa adalah pembelajaran bahasa Sunda yang ringan-ringan saja yang bisa membuat siwa senang mempelajarinya tanpa merasa memiliki beban dan takut salah oleh sebuah aturan. Sekolah harus bisa membuat siswa senang menggunakan bahasa Sunda sebagai alat komunikasi, bukan sebagai bahasa ilmu. Sebab yang menjadi masalah bagi mereka yaitu kurangnya perbendaharaan kata yang dimiliki dalam berkomunikasi, bukannya tata bahasa. Padahal dalam pembelajaran dasar seluruh bahasa baik itu bahasa Inggris, bahasa Spanyol atau pun bahasa asing lainnya yang pertama diajarkan adalah perbendaharaan kata, barulah setelah itu masalah tata bahasa.
Memang saat ini banyak orang yang ingin menaikan harkat dan derajat bahasa Sunda supaya lebih dihargai dan digunakan sebagai alat penutur oleh masyarakatnya, namun sayang sepertinya di sisi lain dunia pendidikan khususnya di sekolah-sekolah malah membenamkan bahasa Sunda ke dalam sebuah sistem yang sulit dipahami.
Dari permasalahan si Ade setidaknya mungkin kita bisa melihat, apa yang menjadi alasan siswa di sekolah sulit mempelajari bahasa Sunda. Apakah penyebab utama masalah tersebut adalah kurikulum yang belum layak? Guru salah mengaplikasikan kurikulum yang ada? Ataukah karena salahnya pemilahan materi ajar dalam penyusunan buku ajar? Itulah yang menjadi pekerjaan rumah bagi para praktisi pendidikan khususnya pendidikan bahasa Sunda untuk menyelesaikan masalah tersebut. Supaya jangan ada anggapan bahwa bahasa Sunda penjajah di wilayah sendiri karena dianggap sulit dan rumit untuk dipelajari.*
Bahasa Sunda Penjajah di Wilayah Sendiri
16
Méi

daddy palgunadi
1 12011pUTC06bUTCMon, 27 Jun 2011 18:34:21 +0000 at 10.20
para penerus nusantara sudah lupa kepada nenek moyang sendiri seperti si malinkundang yang lupa pada ibunya, dan akhirnya di kutuk menjadi batu, padahal hidup mati makan minum menghirup udara mencari rizki menikah memiliki keturanan menikmati keindahan alam dan segala isinya seharusnya kita menjadikan tanah ibu pertiwi sebagi tanah pusaka atau tanah suci