Arsip pikeun Pendidikan

Jangan Sekadar Sertifikasi Guru

Dr Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta

Dr Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta

Sejak 2005, pemerintah gencar membangun profesionalisme guru melalui program sertifikasi guru. Dengan target rampung pada 2015, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) menunjuk beberapa lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) di Indonesia.

Sudah tiga tahun program tersebut berjalan, tetapi profesionalisme guru  belum menampakkan hasil signifikan. Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Dr Rochmat Wahab, yang ikut terlibat menangani LPTK penyelenggara sertifikasi guru di Rayon 11, meliputi Jawa Tengah (Jateng) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menyampaikan pandangannya kepada wartawan Republika, Yulianingsih.

Ada berapa LPTK di Indonesia yang ditunjuk Depdiknas melakukan sertifikasi guru?

Sebenarnya, yang diminta pertama kali untuk pembinaan dan pembimbingan guru-guru dalam sertifikasi tersebut ada 12 LPTK, termasuk UNY. Kemudian, (universitas serupa) di Jakarta, Bandung, Semarang, Makassar, Menado, Gorontalo, Yogyakarta, dan Singaraja. Beberapa universitas yang memiliki fakultas pendidikan juga ditunjuk. Sehingga, jumlahnya ada 19 perguruan tinggi negeri (PTN). Belakangan ditambah 15 perguruan tinggi swasta (PTS) yang memiliki fakultas pendidikan. Jadi, ada 46 perguruan tinggi yang saat ini menjadi tumpuan Indonesia untuk melakukan sertifikasi bagi guru.

Cukupkah dibandingkan jumlah guru di Indonesia?

Jumlah guru yang relatif memenuhi syarat untuk sertifikasi masih sedikit, 2,7 juta. Yang sudah S1 baru 1,1 juta dan itu menjadi tugas berat LPTK, tidak hanya menyertifikat guru-guru yang sudah S1, tetapi meng-S1-kan dulu yang belum sarjana baru disertifikasi.

Program sertifikasi itu idealnya satu tahun, yaitu S1 ditambah satu tahun. Tetapi, karena untuk efisiensi dan masalah pendanaan, target dalam waktu 10 tahun seperti yang diamanatkan UU Guru dan Dosen bahwa pada 2015 semua guru sudah harus S1 dan bersertifikat, itu berat sekali. Saya tidak tahu mengansumsikan selesai 10 tahun.

Dengan jumlah LPTK saat ini, tampaknya cukup berat. Saya ambil contoh guru SD di Indonesia itu ada 1,2 juta orang, yang S1 itu baru 12 persen pada 2005 atau sekitar 160 ribu guru.Lha, sisanya, kalau ada satu juta lebih guru dibagi dengan 50 LPTK, berarti setiap perguruan tinggi kebagian 20 ribuan guru yang harus di-S1-kan.

Dalam sisa waktu 6 tahun ini, berarti rata-rata setiap perguruan tinggi melakukan S1 terhadap 4.000 guru setiap tahunnya. Bagaimana perguruan tinggi itu mengajar, membimbing skripsinya sehingga untuk mengejar predikat sarjana bagi guru dalam waktu sekian ini, berat sekali.Untuk SD saja berat, belum ditambah guru SMP dan SMA walaupun jumlah mereka yang belum S1, relatif kecil dibandingkan guru SD. Sehingga, kalau dipaksakan, aspek kualitasnya dikorbankan.

Peran UNY sendiri sejauh mana?

Kami tidak terlalu ambisius dalam penerimaan jumlah mahasiswa. Meski kesempatannya tinggi, kami sengaja tidak akan menambah kuota mahasiswa baru. Tetap dua kelas setiap program studinya. Ini harapan kami untuk memberikan lulusan yang berkualitas.

Termasuk, melalui seleksi mandiri (SM) yang kita lakukan. Walaupun peminatnya 14 ribu lebih calon mahasiswa, tetapi yang kita terima tetap 2.250 mahasiswa saja dari jalur ini. Sedangkan sisanya, dari kuota 6.000 mahasiswa baru, melalui jalur lainnya. Jadi, kami tetap kendalikan untuk sesuai dengan kuota dan tidak menerima mahasiswa S1 sebanyak-banyaknya. Dengan begitu, kami punya waktu untuk mengakomodasi guru-guru yang belum S1 dalam jabatannya.

Sebagai Koordinator Rayon 11 Jateng dan DIY, sudah berapa guru yang disertifikasi oleh UNY?

Pada 2006/2007, kami melakukan sertifikasi terhadap 12.771 guru di Jateng dan DIY, pada 2008 sekitar 12.500 guru, dan pada 2009 kami mendapat kuota untuk 8.215 guru di DIY saja.Pada 2006/2007 dan 2008, kami masih dipercaya untuk menggandeng tiga PTS sebagai mitra, yaitu Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Universitas Sarjana Wiyata (UST), dan Universitas Sanata Dharma (USD). Dengan tiga PTS tersebut, kami melakukan sertifikasi terhadap guru di 14 kabupaten dan kota di wilayah Jateng dan DIY. Pada 2009 ini, kita tetap melakukan sertifikasi di Rayon 11, tetapi tidak lagi dengan tiga PTS karena USD menjadi rayon baru.

Kendala utama sertifikasi guru itu apa?

Sebenarnya, kalau mau profesional, para guru itu juga harus mengikuti pendidikan intensif. Tetapi, karena mereka tidak mungkin pergi ke kampus, akibatnya banyak bermunculan pendidikan jarak jauh dan sebagainya yang mereka ikuti. Dan, itu susah dikendalikan. Memang ada yang serius, tetapi saya tetap menduga sebagian besar memakai cara-cara lama, yang penting memperoleh ijazah atau sertifikat saja.

Jadi, untuk meningkatkan kualifikasi itu tidak mudah. Kalau saya sih tidak optimistis dalam waktu 10 tahun sudah tuntas semua, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Secara kuantitatif, dilihat dari kemampuan perguruan tinggi jelas tidak bisa dipaksakan dalam waktu yang singkat. Dari segi kualitas, jelas juga tidak bisa dipenuhi jika kemudian dipaksakan untuk sekadar melakukan pembelajaran.

Berarti sertifikasi saja belum cukup untuk membangun profesionalisme guru?

Sebenarnya, idenya itu bagus. Tetapi, dalam implementasinya ternyata ada kendala itu. Kendala pelaksanaan program profesi itu tidak semudah yang kita bayangkan.

Seharusnya bagaimana?

Dari sisi waktu, seharusnya tidak dipaksakan untuk selesai pada 2015, tetapi tenggatnya cukup panjang untuk 2020 atau 2025. Kita juga harus memanfaatkan jasa-jasa informasi teknologi (IT) untuk menjangkau wilayah-wilayah unlimited atau jauh. Sehingga, mengoptimalkan proses pembelajaran.

Bisa dibayangkan memang guru-guru tidak bisa dibawa ke kampus semua. Tetapi, bagaimana kita juga membuat senter-senter bagi guru agar tetap belajar. Sehingga, mereka bisa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan serta bisa meningkatkan kualifikasi akademik dan profesionalismenya.

Peran pemerintah sendiri?

Saat ini banyak chanel televisi (TV) di Indonesia, bahkan yang swasta jauh lebih banyak. Di TV itu pun, menurut pengamatan saya, banyak acara yang  duplicated. Semua acara berita sama, semua infotainment sama. Mengapa tidak, jika kemudian semua TV itu diminta keterlibatannya dengan menyisihkan setengah atau satu jam siarannya, untuk berkontribusi dalam peningkatan kualitas guru, baik melalui penyampaian materi pembelajaran yang bervariasi atau acara edukatif lainnya. TV kan jauh lebih mudah diterima daripada media lainnya.

TV yang mau menyiarkan atau berkontribusi untuk itu, nanti diberikan diskon pajak oleh pemerintah. Misalkan, 20 persen atau berapa sebagai kompensasi. Barangkali itu bisa dilakukan pada TV-TV besar daripada mereka hanya menanamkan bisnis-bisnis yang kadang berlebihan dan jauh dari makna pendidikan. Saya kok melihat itu peluang bagi guru untuk meng-update ilmunya dan kita tidak terpancang pada pelatihan-pelatihan di satu tempat yang harus didatanginya.

Dengan itu, apakah bisa banyak membantu untuk membuat guru menjadi profesional?

Kalau mau jujur, profesional itu kan enggak bisa take for granted (habis dapat terus selama-lamanya). Sebuah profesi itu harus dijaga sehingga implementasinya harus dievaluasi secara periodik.

Sertifikasi itu jangan hanya dibiarkan dan tidak pernah kita lihat bagaimana mereka di lapangan. Ini yang sebenarnya secara periodik harus dinilai, apakah yang bersangkutan masih berhak memegang sertifikat itu dan pantas dihargai sesuai dengan profesinya?

Dalam pandangan saya, jika sudah selesai semua program sertifikasi ini, harus dinilai apakah itu lima tahun sekali atau berapa tahun sekali. Thailand itu lima tahun sekali, Korea delapan tahun sekali.

Mereka harus kita nilai, apakah ada perbaikan atau tambah turun. Seperti juga, kita melihat bagaimana yang terjadi pada profesi yang lain, kalau melanggar atau menurun, kita cabut. Misalnya, kita jumpai guru itu melakukan perbuatan amoral dan tidak bisa menjaga profesionalismenya, ya (sertifikasinya) kita cabut.

Seberapa besar sertifikat ini menjamin profesionalisme guru?

Sepanjang asosiasi profesi itu ikut menjaga saya kira, iya. Tetapi, yang penting, kode etik guru itu harus segera dimantapkan atau disusun ulang dan dijadikan pegangan untuk mengawal perilaku guru di lapangan. Sehingga, sertifikat profesi itu pun harus dikawal oleh organisasi profesi itu sendiri melalui landasan kode etik yang ada.

Dewasa ini banyak bermunculan pelatihan pemberdayaan guru yang terkadang hanya dijadikan lahan bisnis semata. Bagaimana tanggapan Anda?

Kita juga harus menyadarkan masyarakat untuk membuat pilihan secara cerdas. Jangan sampai sekarang, ketika guru membutuhkan kegiatan yang memiliki nilai tertentu, dimanfaatkan oleh beberapa pihak. Kita menghargai itu, tetapi jika ujung-ujungnya hanya mengeksploitasi guru, rasanya tidak pas lah.

Karena itu, kita tidak hanya menuntut pemerintah. Tetapi, masyarakat juga, baik secara personal maupun kolektif, jangan memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari keuntungan pribadi dengan mengeksploitasi guru. Justru, seharusnya kita memberikan sesuatu agar guru-guru semakin tercerahkan.

Masyarakat harus selalu mengingatkan melalui berbagai kesempatan agar guru tetap berpegang pada profesi yang disandangnya. Seperti halnya khatib dalam shalat Jumat, yang harus mengingatkan jamaah untuk selalu bertakwa dan bertakwa. Artinya, imbauan moral harus selalu dilakukan, termasuk kepada guru. Sangat mungkin guru itu lengah dalam melaksanakan tugas sehingga masyarakat harus melakukan imbauan tersebut. Kalau begitu sering diingatkan, itu akan menjadi ikon.

Terkait ini, apa yang dilakukan UNY?

Kita tidak pernah berhenti melakukan advokasi pada guru, baik terhadap institusi pendidikan maupun masyarakat sendiri. UNY terus berkomitmen untuk mengawal pendidikan di Indonesia, salah satunya dengan membentuk moralitas bagi lulusan kami. Sebab, sekali kita membentuk lulusan yang bermoral, saya yakin akan memberi kontribusi positif terhadap masyarakat Indonesia, baik sebagai pendidik maupun profesi lainnya. Advokasi terhadap guru kami lakukan dengan membina dan membimbing para guru melalui berbagai kegiatan ilmiah, baik mereka kita undang ke kampus maupun kita datangi mereka di sekolah-sekolahnya.

Penghargaan bagi guru yang dilakukan UNY?

Tahun ini kami memberikan Guru Award, yaitu penghargaan bagi para guru berprestasi dan berdedikasi tinggi. Untuk sementara, penghargaan ini baru dilakukan bagi guru di Jateng dan DIY, tetapi ke depan tidak menutup kemungkinan untuk guru-guru di seluruh Indonesia.

Itu merupakan penghargaan kami bagi guru. Kita tidak hanya memperoleh portofolionya, tetapi juga melakukan cross check di lapangan, apakah guru yang bersangkutan memang layak atau tidak.

Cross check yang kita lakukan hingga wawancara dengan lingkungan para guru itu sendiri. Sehingga, yang menerimanya memang benar-benar layak. Itu penghargaan bagi mereka bahwa guru sekarang ini telah terbangkitkan martabatnya. Dengan ini juga, kita imbau agar mereka tidak menjatuhkan martabatnya dan menggugah kembali apa yang harusnya mereka berikan pada bangsa dan negara ini. Kita juga lakukan advokasi terhadap organisasi guru, baik PGRI maupun yang lainnya, melalui pembinaan dan pendampingan untuk peningkatan lesson study.

Dicopy dari Surat Kabar Republika Edisi Rabu, 17 Juni 2009.


Biodata
Nama
: Dr Rochmat Wahab MA
Lahir : Jombang, 10 Januari 1957
Istri : Anna Rosyana Abdullah
Anak :
1. Erna Ashlihah Rochmat
2. Muh Faishal Rahman Rochmat
3. Muflihatul Baroroh Rochmat

Pendidikan :
- SDN Karangprabon, Blimbing, Kesamben, Jombang, Jawa Timur (1971)
- MI Islamiyah Blimbing (1972)
- PGA 4 Tahun Pancasila Kesamben (1975)
- PGA 6 Tahun Mojokerto, Jatim (1977)
- S1 PLB IKIP Bandung (1983)
- S2 Bimbingan dan Konseling IKIP Bandung (1987)
- S2 Elementary Education University of Iowa (1995)
- S3 UPI (2003)

Karier/Jabatan :
- Dosen jurusan PLB IKIP Negeri Yogyakarta (sejak 1985)
- Kepala Perpustakaan UNY (1999)
- Konsultan di Depdiknas (1996-2006)
- Konsultan Ditjen Pendidikan Islam Depag (2005-2006)
- Ketua Pelaksana Sertifikasi Guru Rayon 11 (2007-2008)
- Pembantu Rektor I UNY (2006-2008)
- Rektor UNY (2008-2012)

Selain berkiprah di dunia pendidikan, Rochmat Wahab aktif di organisasi keagamaan dan kemasyarakatan di DIY. Alumnus program master University of Iowa (AS) ini juga tercatat sebagai pengurus aktif Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DIY, Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY, Ikatan Dai Indonesia DIY, dan beberapa ormas keagamaan lainnya. Selama menjabat sebagai Rektor UNY, Rochmat berhasil mengukuhkan UNY dalam jajaran perguruan tinggi yang siap bersaing di dunia global. Hal itu dilakukan melalui penataan kelembagaan di lingkungan UNY agar berstandar internasional.
Sedikitnya, ada 11 lembaga di bawah UNY yang berhasil menyabet sertifikat ISO 9001 sebagai acuan standardisasi pelayanan 2009

Pairan (4) »

“Prihatin téh Nimat” : Biografi Prof. Dr. H. Endang Sumantri, M.Ed

Prof. Dr. H. Endang Sumantri, M.Ed

Prof. Dr. H. Endang Sumantri, M.Ed

Hirup téh henteu salawasna kudu jadi patani baé. Aya jalan séjén pikeun lumampah di alam pawenangan. Éta anu jadi pangjurung laku Prof. Dr. Endang Sumantri, M.Ed dina milampah udagan hirupna.

Lamun téa mah baheula ngandelkeun warisan kolot, sawah anu teu sabaraha legana, tuluy jadi patani, pastina ogé hirup téh bakal monoton. Ulukutek di dinya, ngahasilkeun mobilitas horizontal,” ceuk Endang basa ditepungan ku Cahara di kantorna.

Lahir 15 Juli 68 taun ka tukang, ieu juru atik kahot téh pituin urang Karang Gedang, Kabupatén Ciamis. Anak bungsu ti H. Nawawi jeung Sutinah, kulawarga patani biasa. Ti leuleutik geus dipuuk ku kaperih-kaprihatin. Komo basa nincak umur salapan taun, Endang geus jadi yatim piatu, sarta kudu cicing di imah emangna. Sanajan kitu, éta kaayaan téh henteu ngareuntaskeun sumangetna pikeun terus sakola. Buktina, sabada lulus ti SR 2 Ciamis, Endang neruskeun ka SGB I Ciamis, nepi ka jununna.

Lulus ti SGB taun 1957, Endang narima Surat Kaputusan jadi Guru SR. Ditempatkeun di SR Cibedug, anu jarakna kurang leuwih lima Km ti Ciawi, Bogor. Ari gajihna anu munggaran, teu kurang teu leuwih: Rp.150,-.

Jaman harita, di urang keur meujeuhna harénghéng. Malum atuh jaman goromboloan. Mangkaning daérah Cibedug harita, katotol sayangna gorombolona. “Masih kénéh kabayang, lamun rék indit ka sakola téh kudu nékad, nyieuhkeun kahariwang jeung kasieun,” pokna. “Anu matak pikeun jaga-jaga, Bapa asup ka paguron silat Cimandé,” ceuk ieu bapa ti lima anak jeung aki ti 11 incu téh.

Lantaran gorombolan di daérah Cibedug beuki mahabu, dununganana ngarasa prihatin, Endang dipindahkeun tugasna ka Kantor Inspektorat Kacamatan Ciawi. Nya di dinya Endang mimiti diajar ngurus masalah manajemen dina dunya atikan jeung kaorganisasian téh, anu engkéna baris ngagedékeun ngaranna. Jaba ti ngajalankeun kawajibanana, Endang ogé bari nuluykeun sakola di SGA Bogor deuih.

Sétan Gedor

Henteu pugag nepi ka dinya. Taun 1963 Endang neruskeun kuliah ka IKIP Bandung, anu saméméhna PTPG, Jurusan Civic Hukum. Endang kaasup mahasiswa entragan munggaran IKIP Bandung. Salila jadi mahasiswa, Endang kaasup mahasiswa anu aktif di sawatara organisasi. Di antarana baé Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonésia (KAMI). Kungsi jadi Ketua Mahasiswa Umum (KMU) Fakultas Keguruan dan Ilmu Sosial (FKIS), Ketua Bidang Organisasi Dewan Mahasiswa I BEM Universitas. Malah ku aktif-aktifna dina organisasi, ti dosén jeung babaturanana Endang meunang jujuluk “Sétan Gedor”. Ari sababna, Endang mindeng idek-liher di Gedung Olahraga (Gedor), anu harita mah mangrupa puseur kagiatan mahasiswa. “Lamun ditanya, naon alesanana Bapa loba aktif dina organisasi? Salian ti pikeun nambahan pangalaman téh, anu utamana mah, lamun aya kagiatan bisa meunang dahareun haratis,” pokna bari seuri, nyoréang pangalamanana ka tukang.

Prof. Dr. H. Endang Sumantri, M.Ed dan keluarga

Prof. Dr. H. Endang Sumantri, M.Ed dan keluarga

Bari kuliah, Endang ogé henteu poho kana kawajibanana, nya éta ngajar. Endang jadi guru SR Sukarasa 2 Gegerkalong Hilir. Lamun jadwal kuliah bantrok jeung jadwal ngajar, biasana sok silihtitipkeun kelas jeung babaturanana.

Sabada lulus Sarjana Muda, taun 1967, Endang diangkat jadi Asistén Dosén di almamaterna. Dua taun ti harita, 30 Agustus 1969, pruk baé ngadahup ka Dra. Énih Rohaénih, M.Pd., adi tingkatna waktu kuliah. Rumah tanggana kawilang lulus-banglus, runtut-raut tug nepi ka kiwari.

Sakitu taun malang-mulintang di IKIP Bandung, Endang meunang kasempetan tina Program Bank Dunia, pikeun nuluykeun kuliahna dina Program Pendidikan Luar Sekolah di University of Massachuset, Amérika Serikat. Lulus taun 1988 sarta meunang gelar Master of Education. Ti dinya, meunang deui beasiswa pikeun nuluykeun S3-na dina widang Moral of Education, masih kénéh di University of Massachuset.

Karir Endang beuki nyongcolang. Taun 1990 diangkat jadi Pembantu Réktor II IKIP Bandung. Dina taun 1998 Endang milu marajian gelarna Universitas Galuh, Ciamis, nu asalna mangrupa STKIP. Endang deuih anu jadi réktorna anu munggaran di Universitas Galuh, masa bakti 2002-2004. Kungsi nyangking kalungguhan Ketua Dewan Pendidikan Ciamis deuih, anu gédé jasana ngayakeun Program Pasca Sarjana Universitas Galuh.

Ceuk Endang, geus mangrupa takdir Illahi, inyana bisa hirup tina ladang dunya atikan. Sabab cenah, lamun ngandelkeun ti kolot mah taya harepkeuneunana. Tapi najan kitu, Endang percaya yén ku ayana rasa prihatin bisa nimbulkeun rasa hayang terus usaha.

Prihatin téh nimat, sabab optimisme lahir tina rasa prihatin,” pokna tandes.

Ayeuna Endang geus hasil ngahontal cita-citana jadi guru, bari némbongkeun préstasi mobilitas vertikal di kulawargana. Di antarana ku nyangking rupa-rupa kalungguhan anu teu éléh pentingna dina dunya atikan.

Lamun baheula henteu neruskeun sakola, meureun ayeuna téh moal jadi Ketua Senat Akademik, moal bisa ngalegaan sawah warisan deuih. Tapi meureun ayeuna téh keur macul ngurus sawah anu teu sabaraha legana, pungkasna bari seuri.* (Yatun)

dicopy tina Majalah Sunda Cahara Bumi Siliwangi Edisi II

Pairan (1) »

Guru Ngan Pikeun Jalma Cerdas jeung Boga Bakat (?)

Atun rada ja'im he hehe

Atun rada ja'im he hehe

Mairan masalah Undang-Undang Guru dan Dosen (UUGD). Mentri Pendidikan Nasional, Bambang Sudibyo, kungsi ngungkabkeun yén ku ayana UUGD, ka hareup mah profesi guru téh bakal ngondang jalma-jalma cerdas sarta boga bakat pikeun jadi guru. Nu jadi pertanyaan, naha kiwari guru di Indonésia téh lain jalma-jalma anu cerdas jeung ngabogaan bakat?

Luareun ti éta, hasil studi nu kungsi dilakukeun Bahrul Hidayat jeung Yahya Umar (1999) nyindekkeun yén pangaweruh guru kaayaanana pikahariwangeun. Hartina kamampuh guru bidang studi dina ngawasa materi pangajaran téh masih minim. Bahrul niténan niléy rata-rata nasional tés calon guru PNS di SD, SLTP, SLTA jeung SMK taun 1998/1999 pikeun widang studi matématika ngan 27,67 tina interval 0-100. Hartina ngan ngawasa 27,67% tina matéri nu samistina. Satuluyna, pikeun widang studi nu séjénna nya éta Fisika (27,35), Biologi (44,96), Kimia (43,55), jeung Basa Inggris (37,57). Niléy-niléy di luhur pastina ogé jauh tina wates idéal, nya éta minimum 75% pikeun hiji guru sangkan bisa ngatik jeung ngadidik muridna kalayan hadé. Hal nu leuwih matak prihatin, hasil panalungtikan ti Konsorsium Ilmu Pendidikan (2000) nuduhkeun yén 40% guru SMP jeung 33% guru SMA ngajar widang studi di luar kaahlianana. Bisa dibayangkeun upama guru widang studina ogé henteu ngawasa matéri, komo deui anu lain widang studina. Ku kamampuh pangaweruh nu kawatesan jeung kréativitas nu minimum tinangtu leuwih hésé pikeun guru nerapkeun pola pengajaran KTSP anu kiwari dijalankeun.

Ti pihak séjén, Guru Besar UPI Prof. Dr. H. Nanang Fattah, M.Pd, dina acara Seminar Pendidikan Nasional nu diayakeun ku Disdik Ciamis (2006) nyebutkeun sabagian gedé guru geus teu layak ngajar. Pikeun SD aya kana 49,3% atawa 605.217 guru anu teu layak ngajar, SMP 35,9% atawa 75.684 guru, SMA 32,9% atawa 75,684 guru jeung SMK 43,3 atawa 63.961 guru. Hartina, tina 2,7 juta guru 40,35% teu bisa ngatik jeung ngadidik nu bener. Lamun ieu bener-bener mangrupa kanyataan, jelas dunya atikan di Indonesia miboga masalah daria, nya éta ngaronjatkeun ajén-inajén guru.

Lobana guru anu teu layak ngajar, nimbulkeun patalékan, nepi ka mana tarékah paguron luhur bisa ngahasilkeun guru-guru anu miboga kualitas. Atawa bisa jadi ku lobana program pendidikan guru ngalantarankeun henteu kakontrolna kualitas lulusan calon guru? Pikeun ngajawab éta patalékan, aya alusna upama nempo mangsa ka tukang, mangsa lahirna para guru anu bisa disebutkeun kaseléksi sacara alami.

Ngan Nu Cerdas?

Dina éra ’60-’80-an profési guru jadi simbol masarakat nu maju pisan, intelék jeung terhormat. Ampir unggal kulawarga nu miduli kana atikan, miharep anakna sangkan jadi guru. Profési guru ogé jadi inceran kalolobaan masarakat anu ngabogaan budak cerdas.

Éta alesanana loba lulusan SD atawa SMP nu nuluykeun ka sakola guru saperti SGB, SGA, SPG, SGO jeung lianna. Tapi ngan budak-budak nu cerdas atawa ngabogaan réngking di kelasna anu wani abus ka sakola guru. Katambah deui harita mah para lulusan sakola guru téh geus pasti diangkat jadi guru, minimal di SD.

Jadi guru ogé mangrupa simbol suksésna kulawarga. Ari sababna, status guru di masarakat dipikaajrih, dipikahormat jeung dipikabutuh. Guru kaasup kana golongan ménak jeung cendikia. Guru lain ngan saukur dipikahormat masarakat tapi ogé jadi panutan muridna.

Ngan ti mimiti taun ’90-an sakola guru satingkat SPG dipupus, tuluy diganti ku Program PGSD (D-2). Minat kuliah program guru masih luhur sabab masih aya jaminan kapastian, para lulusan PGSD/MI/PGAI dijanjikeun bakal diangkat PNS. Tapi kanyataanana mah henteu kitu. Nasib lulusan PGSD/MI/PGAI loba nu nganggur atawa ngan boga status guru sukwan. Pamaréntah mikabutuh guru loba, tapi teu bisa ngangkat guru saluyu jeung nu dipikabutuh. Di sisi séjén, loba paguron luhur swasta anu muka program keguruan nepi ka daérah-daérah, malahan mah muka kelas jauh di kacamatan-kacamatan. Minat pikeun kuliah ieu program ogé henteu deui husus pikeun jalma nu ngarasa cerdas jeung ngabogaan bakat jadi guru. Sabangsaning budak ngora di daérah, lulusan SMA leuwih réa nu milih program guru di daérahna sorangan. Ieu sababna, anu matak asup ka FKIP swasta rélatif leuwih babari dibandingkeun jeung asup ka IKIP Negri nu kudu ngaliwatan jalur PMDK atawa SPMB. Katambah deui aya program UPI Cabang, UT, tuluy ayana program Akta IV pikeun lulusan umum – nu ayeuna mah geus dipupus – atuh beuki loba waé calon guru téh. Jaman kiwari ditambahan deui ku lobana prakték sukwan, jadi can lulus ogé geus ngalajar. Ieu hal téh umumna dilantarankeun ku lobana sakola nu kakurangan guru, salian ti boga anggapan ku lobana jam terbang sukwan, bakal boga peluang gedé pikeun lulus tésting CPNS atawa meunang perhatian pamaréntah.

Sacara kuantitatif mahasiswa jeung alumni program guru ngaleuwihan kamampuh pamaréntah pikeun ngangkat guru PNS, tapi sacara kualitatif hésé pisan pikeun diukur. Faktor kacerdasan mémang lain hiji-hijina kritéria guru idéal. Tapi aya faktor lain nu kudu dipikaboga saperti kapribadian, aspék sosial, kompeténsi profésional, kompeténsi pédagogik, jeung sajabana.

Kualifikasi jeung kompeténsi saperti kitu geus diamanatkeun ku UUGD, tapi nu jelas sabab guru ngabogaan tugas nyerdaskeun anak didikna, geus sawadina upama guru kudu cerdas jeung ngabogaan bakat ngatik katut ngadidik.

Nu jelas lahirna UUGD ngalantarankeun program keguruan jadi jurusan primadona. Minat jadi guru bakal beuki gedé. Ngan aya bahayana, upama paguron luhur ngan saukur ngajadikeun éta hal téh sawates asét pikeun “kamamuran” lembagana.

Geus tilu taun UUGD disahkeun ku pamaréntah. Naha UUGD ngadorong lahirna hiji sistem anyar seléksi calon guru nu ngabogaan kualitas? Atawa ngan sanggup ngadegkeun pabrik-pabrik guru jeung produk nu euweuh ajénna? Pikeun ngajawab éta hal, bisa diajén gumantung kana pamanggih séwang-séwangan.

Yatun R. Hasbullah

*Mahasiswi Jurusan Pendidikan Bahasa Daérah UPI, angkatan 2008

dicopy dari Majalah Sunda “Cahara Bumi Siliwangi” Edisi II

Tinggalkeun pairan »

Dari Pangcalikan Siliwangi ke Bumi Siliwangi

Biografi Prof. Dr. H. Sunaryo Kartadinata, M.Pd; Rektor Universitas Pendidikan Indonesia

Prof. Dr. H. Sunaryo Kartadinata, M.Pd di depan Villa Isola, kantor Rektorat UPI

Prof. Dr. H. Sunaryo Kartadinata, M.Pd di depan Villa Isola, kantor Rektorat UPI

Sepintas dilihat dari namanya semua orang pasti akan mengira bahawa dia adalah peranakan jawa. Padahal kalau ditelusuri lebih jelas ia merupakan orang sunda asli. Dialah Prof. Dr. H. Sunaryo Kartadinata, M.Pd., Rektor Universitas Pendidikan Indonesia.

Awalnya tidak ada yang mengira bahawa lelaki kelahiran Desa Cigintung, Kecamatan Kawali Ciamis 21 Maret 57 tahun silam ini begitu nyunda, hal itupun terbukti pada saat acara launching Majalah Cahara Bumi Siliwangi dan Ronggeng Gunung di UPI dengan fasih Sunaryo memberikan sambutan dalam bahasa sunda yang begitu ngentep seureuh. Bahkan para inohong Sunda yang hadir saat itu, begitu terkejut dengan ucapan dan sikap sunaryo yang kental dengan adat kesundaan.

Saya tidak menyangka ia begitu kental adat kesundaanya, dalam berbicara memang ia pun begitu ngentep seureuh dan dalam menggunakan undak-usuk basa pun sangat fasih,” ujar Karna Yudibrata, salah seorang inong Sunda yang hadir saat itu.

Belajar bahasa sunda memang dari kecil, semenjak SD sampai sekolah SPG di Ciamis,” jawab putra sulung dari empat bersaudara pasangan H. Sukarta dan Hj Surliah ini, saat ditanya akan hal tersebut.

Kehidupan Sunaryo tidak langsung sukses begitu saja, dengan memegang jabatan penting seperti saat ini. Tetapi ia memulai semuanya dari nol.

Sunaryo mengawali pendidikan formalnya pada tahun 1957 di SDN 2 Talagasari. Hidup sebagai anak petani dilewatinya dikampung halaman tercinta. Masih terbayang dalam benaknya bagai mana waktu itu, meskipun masih kecil ia harus ikut membantu orangtuanya membajak sawah dan mengembala kambing yang merupakan mata pencarian utama keluarga.

Saat menempuh jalur pendidikan di SMP 1 kawali tahun 1963, Sunaryo memiliki tradisi yang sangat unik. Bila berangkat ke sekolah ia tidak pernah menggunakan alas kaki alias nyeker, dan barulah setelah sampai kesekolah ia pergunakan sepatunya.

Jarak dari rumah ke sekolah kan lima kilometer dilalui dengan berjalan kaki, jadi supaya sepatunya awet, ya biasanya jarang dibawa pulang. Suka disimpan saja, di titipkan di Ibu pemilik warung sekolah, dan digunakan hanya saat sekolah saja. Selain itu juga biasanya kalau mau pergi ke sekolah saya selalu mebekal karung di tas. Kan biasanya sambil pulang sekoal itu sambil ngala rumput untuk kambing. ” kenangnya.

Meskipun tergolong dari keluarga yang pas-pasan, tapi hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus bersekolah. Malah hal tersebut dijadikan Sunaryo sebagai motivasi agar kelak menjadi orang sukses dan dicontoh oleh adik-adiknya. Hal itu ia buktikan setelah lulus dari SPG Ciamis tahun 1970 dengan melanjutkan ke jurusan Bimbingan Penyuluhan IKIP Bandung.

Kesempatan untuk meraih cita-cita sebagai seorang guru mulai terbuka tatkala lulus pogram diploma ia dipercaya untuk menjadi asisten dosen di almamaternya sendiri sembari melanjutkan kuliah diprogram sarjana.

Karikatur Prof. Sunaryo Kartadinata

Karikatur Prof. Sunaryo Kartadinata

Semasa kuliah, Sunaryo dimata teman-temanya sebagai sosok yang begitu pintar dan berprestasi. Hal itulah yang menjadikan modal utamanya untuk mempersunting teman sekelasnya sendiri, yang bernama Dra. Euis Misyeti, M.Pd.

Kami teman sekelas, ya biasanyakan dia (Euis–red) suka kesiangan kalau kuliah. Nah biasanya, saya itu selalu menyiapkan kursi kosong disamping saya khusus buat dia, ya karena sering begitu Dosen pun akhirnya pada tahu ‘itu kursi buat Euis ya’. Dan teman-teman sekelas suka mneggosipkan kami. Dia awalnya agak marah dengan keadaan itu. Tapi ya lama kelamaan takluk juga ,” jelasnya sambil tertawa terkenang masa lalu, tatkala menceritakan pengalaman masa mudanya bersama sang istri.

Karir akademik Sunaryo berawal pada tahun 1978 saat dipercaya menjadi Sekretaris Jurusan BP FIP IKIP dan kemudian menjadi ketua Jurusan BP FIP IKIP. Hal itu ia lakukan sambil melanjutkan kuliah diprogram pascasarjana. Namun, beberapa tahun kemudian ia berhenti karena harus konsentrasi melanjutkan kuliah di Program S3 Bimbingan konseling yang saat itu lulus masuk tanpa tes.

Saat menempuh pendidikan S3 merupakan momen yang paling berharga bagi Sunaryo karena dengan program sandwich mengharuskannya menempuh beberapa SKS di State University of New York. Saat itulah untuk pertamakalinya Sunaryo bisa mengunjungi Amerika yang sejak dulu diimpikannya.

Selama enam bulan ia berada di Amerika untuk menimba ilmu dan harus rela meninggalkan istri tercinta yang saat itu sedang mengandung anak ke-3.

Saat anak ketiga lahir, saya tidak berada disamping istri, menyaksikan kelahirannya karena berada di Amerika,” ungkap ayah dari tiga orang anak yang juga merupakan kakek dari empat cucu ini.

Prof. Dr. H. Sunayo Kartadinata, M.Pd bersama keluarga

Prof. Dr. H. Sunayo Kartadinata, M.Pd bersama keluarga

Sepulang dari Amerika, karir Sunaryo semakin bertambah dengan dipercaya sebagai Pembantu Dekan I Fakultas Ilmu Pendidikan dan beberapa bulan kemudian, tepatnya pada tanggal 13 September 1988 ia lulus program doktoral dengan nilai cum laude.

Saat mengemban amanah sebagai Pembantu Rektor II, pada bulan Agustus 1996 Sunaryo dikukuhkan sebagai Guru Besar Psikologi dan Bimbingan Konseling dengan judul orasi ”Pendekatan psikologi dalam bimbingan konseling”.

Tahun 2005 merupakan puncak karir bagi Sunaryo dengan mendapatkan amanah menjadi “nakhoda” Universitas Pendidikan Indonesia masa bakti 2005-2010. Ia merupakan Rektor UPI BHMN pertama yang dipilih oleh stike holder-nya.

Perjalan dari Kawali ke Bumi Siliwangi, begitu benar-benar dinikmati oleh Sunaryo. Baginy komitmen yang paling penting dalam hidupnya bahwa ia harus terus berusaha dan memberikan yang terbaik.

kiat suksesnya sih, ya terus berusaha, berdo’a dan bersyukur. Kemudian jangan lupa motivasi yang paling utama dan kuat adalah dari istri. Mungkin saya tidak akan menjadi seperti sekarang ini kalau tidak didukung oleh motivasi dan dorongan istri saya” pungkasnya.

(Yatun R. Awaliah / ganesha)

dicopy dari Tabloid Pendidikan Ganesha

Pairan (1) »

Cibadak, Rancabadak, dan Tempat Badak Berkubang

Oleh : T. Bachtiar*

 

HASIL penelitian Stehn dan Umbgrove tahun 1929, di gawir Ci Tarum (kini terendam Danau Saguling), dilaporkan adanya fosil vertebrata besar, seperti badak, gajah, kerbau, dan rusa. R.W. van Bemmelen dan Th. H.F. Klompe, seperti yang dikutip JA. Katili menyatakan bahwa di Cekungan Bandung ada hippopotamus (kuda nil). Fosil vertebrata besar itu mati lemas terkubur material dari letusan Gunung Sunda.

Walau tinggal hanya 50 ekor lagi, badak cula tunggal (Rhinoceros sundaicus) masih tetap hidup melewati seleksi alam dan keserakahan manusia. Badak itu kini hidup alami di Taman Nasional Ujung Kulon, Provinsi Banten.

Dalam catatan orang Eropa, sampai tahun 1700-an, di Bandung juga masih terdapat badak. Masyarakat masih sering menyaksikan jejak badak, paling tidak tempat berkubangnya. Oleh karena itu, jangan heran bila banyak nama tempat yang memakai kata badak, seperti Cibadak, Rancabadak, Kawah Pangguyanganbadak, Rawabadak, Lapangan Badakputih, dan lain-lain.

Bukan hanya dijadikan nama tempat, badak pun banyak digunakan sebagai simbol yang menunjukkan kekuatan. Kata badak pun terdapat dalam perbendaharaan kata dalam bahasa Sunda, seperti: ngaladog (bermain jauh). Ladog nama lain untuk badak. Badak disebut juga gandol atau menur. Ada juga sebutan ngabadak (ngabaladah, mencangkul membuka sawah), hamperubadak, ceulibadak, letahbadak (nama tumbuhan), badakheuay (arsitektur bangunan yang tidak memakai wuwungan), heuaybadak (lubang asap di atas dapur), babadak (bambu yang diiris besar, dianyam membentuk bronjong, berguna untuk membendung sungai atau untuk menahan uruk/longsor). Atau, siga badak Cihea (seperti badak Cihea), untuk menggambarkan orang yang jalannya menyeruduk.

Bahkan, anak-anak di Pameungpeuk, Kabupaten Garut, sampai tahun 1960-an, kalau memanggil teman-temannya untuk bermain itu, pastilah dengan cara melagukan:

 

Rombongan A:

“Euleung, euy, euleung, barudak urang ka jami!”

“Hai teman-teman, yu kita main ke tegalan!”

 

Rombongan B:

Embung, euy, embung, sieun badak nu kamari!”

“Ga mau, ah, ga mau, takut badak yang kemarin!”

 

Rombongan A:

“Euweuh, euy, euweuh, geus ditembak ku si Jendil!”

“Ga ada, teman, sudah ditembak oleh si Jendil!”

 

Rombongan A jeung B:

“Dil dil long, dil, di long, si Jendil di rawu kelong!”

“Dil dil long, dil, di long, si Jendil diambil kelong!”

Saat melagukan “Dil dil long, dil, di long, si Jendil di rawu kelong!” anak-anak dari dua kelompok itu sambil pakaleng-kaleng, berjalan melingkarkan tangan di pundak kawannya, dan terus bermain. Biasanya bermainnya bukan ke lapangan, ke mana saja sesuka hatinya, apakah mandi di sungai, bermain perang-perangan di sawah dengan cara saling lempar lumpur, atau mengambil bambu seukuran telunjuk untuk main bedil-bedilan.

 Hewan bercula ini telah memengaruhi pola pikir masyarakat saat menentukan atau memilih tempat, karena tempat berkubangnya menjadi ciri suatu kawasan yang dinilai baik sebagai tempat untuk manusia. Ketika Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels ngotot untuk memindahkan ibu kota Kabupaten Bandung dari Karapyak di pinggir Ci Tarum (Dayeuhkolot sekarang) ke dekat jalan raya pos, jalan yang dibangun sejak 1809 yang menghubungkan kota-kota di Pulau Jawa dari Anyer hingga Panarukan sepanjang 1000 km. Tujuan pemindahan itu untuk memudahkan kontrol dari penjajah, sehingga tugasnya untuk mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris dapat dikendalikan.

 Keinginannya itu ditegaskan kembali saat meresmikan jembatan Ci Kapundung di timur alun-alun sekarang. Jembatan itu diresmikan oleh Daendels yang bergelar Maarschalk, oleh masyarakat dipelesetkan menjadi Mas Galak, rajanya galak, bersama Bupati Bandung R.A. Wiranatakusumah II. Setelah berjalan melewati jembatan ke arah timur, Daendels yang sudah ingin segera memindahkan Ibu kota, lalu berhenti dan menancapkan tongkat, berkata setengah mengancam, “Coba usahakan, bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota”. Tempat ini sekarang menjadi kilometer nol Bandung/Provinsi Jawa Barat.

 Maka secara terencana ada usaha untuk memindahkan ibu kota dari Karapyak ke sekitar jala raya pos. Patih Batulayang, Rd. Djajakusumah menulis, “Pada tahun 1809, Bupati Bandung R.A. Wiranatakusumah II beserta sejumlah rakyatnya pindah dari Karapyak ke daerah sebelah utara dari bakal Ibu kota. Konon, penentuan Ibu kota Bandung pun dipilih di sekitar alun-alun saat ini karena di sana ada tempat berkubangnya badak.

 Bukan hanya itu, bagian-bagian dari tubuh badak pun dipercaya mempunyai khasiat dalam pengobatan, sehingga orang selalu berusaha untuk memburu satwa yang sudah terdesak ke pojokan Pulau Jawa di Ujung Kulon. Umumnya orang memburu badak hanya untuk diambil culanya. Tawaran dan iming-iming mendapatkan imbalan puluhan juta rupiah, telah melupakan segala risikonya, termasuk dipenjara, seperti yang terjadi pada bulan Agustus 1987 di Ujung Kulon.

 Djahari, namanya, ditemani Apid dan Sukariyah, setelah menjelajahi Ujung Kulon berhari-hari, akhirnya sampai di Blok Keusikluhur. Terlihat ada jejak badak menuju sungai. Djahari terdiam, lalu memanjatkan jampi-jampi:

 Dewi Sang Sara Ratu

Dewi Mantajaya

Maya sing ilang Satu

Ing tar ir pada sujud

Pada nyembah marina Nabi Sulaeman

Salebihan jebul putri para muti sajawa

Naon badak aprak rek dua rek tilu

Da eta nu diwudah

Jauh deukeut-deukeutkeun

Wawahna wani

Wawahna ojeg

Wawahna.

 

Dengan tiga kali tembakan, terkaparlah badak di pinggiran sungai itu. Peristiwa yang sama terjadi pada 1985, telah mengantarkan Djahari masuk penjara. Karena iming-iming mendapatkan uang Rp 50 juta itulah Djahari dan kawan-kawan nekat untuk memburu badak. Sebelum uang puluhan juta itu didapat, penjara mendahuluinya.

 Cula badak yang sesungguhnya merupakan kumpulan rambut yang kemudian mengeras ini, telah lama dipercaya berkhasiat, sehingga laris diperjual-belikan. Perdagangan cula badak dunia telah melampaui rasa takut manusia. Hong Kong, Singapura, Taiwan, menjadi tujuan perdagangan gelap berkuintal-kuintal cula badak.

 Cula, sesungguhnya berarti gunung. Jadi bagian kerucut yang tumbuh di kepalanya itu menyerupai gunung, menyerupai cula yang mencuat. Maka disebutlah cula badak.

*(Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung)

Pairan (2) »