Arsip pikeun Serba-serbi Pelajar di Sekolah

Geng Nero dan Premanisme di Sekolah

Gw copas nie newsnya dari Jawa-Pos online, kebetulan juga nntn berita and Videonya di TV. Waw…entah mesti berkomentar apa, setelah diramaikan dengan kasus grey chicken sebelumnya, rupanya siswi remaja abu-abu ini bahkan dari sejak berseragam putih biru, mempunyai potret lain, suatu bentuk premanisme yang dilakukan siswa perempuan terhadap junior-juniornya dalam sebuah geng yang mereka namakan Geng Nero, silahkan baca beritanya berikut ini :

[ Jum'at, 13 Juni 2008 ] Geng Nero Resahkan Warga Pati, Jawa Tengah

Menurut kabar yang beredar mengenai motivasi Geng Nero, mereka tidak suka bila ada anak perempuan lain yang menyaingi dan melebihi apa yang dimiliki Geng Nero. Misalnya, soal pakaian, gaya rambut, atau penampilan lain. (ris/jpnn/ruk)

Suka Hajar Siswi SMP dan Merekamnya

Sebuah kelompok remaja putri yang menamakan diri Geng Nero menggegerkan Kota Pati, Jawa Tengah. Orang tua yang memiliki anak perempuan yang masih duduk di bangku SMP pun cemas.

Sebab, geng itu disebut-sebut suka menganiaya remaja putri, terutama yang masih SMP, tanpa alasan jelas. Parahnya, penganiayaan tersebut mereka rekam lewat video telepon seluler (ponsel), kemudian disebarkan.

Dalam sebuah rekaman video ponsel yang sudah beredar, terlihat sekelompok remaja putri anggota Geng Nero menampar korbannya berulang-ulang. Dari latar belakang rekaman itu, diduga penganiayaan dilakukan di sebuah gang.

Beberapa korban yang berani mengungkapkan kelakuan Geng Nero adalah WD dan L, keduanya berusia 14 tahun, siswi kelas IX sebuah SMP di Kecamatan Juwana. Saat diwawancarai di rumahnya di kawasan Juwana kemarin, keduanya mengaku tidak tahu alasan dirinya diperlakuan kasar seperti itu. ”Tiba-tiba saja empat orang menggelandang saya. Mereka mengaku dari Geng Nero, kemudian menampar saya berkali-kali,” ungkap WD.

Menurut dia, penganiayaan itu mereka lakukan setelah menggelandang dirinya ke sebuah tambak di Desa Bajomulyo, Juwana. Di tambak itu, keempat anggota Geng Nero menampar bergantian. WD tidak berani menanyakan alasan mereka menampar, apalagi melawan. ”Mereka berempat, sedangkan saya sendirian,” ujarnya.

Setelah kejadian itu, dia tidak pernah bertemu lagi dengan para penganiayanya tersebut. WD pun hanya berani bercerita kepada ibunya. Namun, kisah penganiayaan itu pun akhirnya beredar setelah muncul rekaman video ponsel tersebut.

Korban lain adalah putri LK, warga Desa Growong Lor. Semula, dia tidak tahu bahwa anaknya telah menjadi korban Geng Nero. Salah seorang tetangganya yang justru menceritakan hal itu.

Berdasar informasi tersebut, dia lantas ”menginterogasi” sang anak. ”Awalnya anak saya tidak mau mengaku. Tapi, setelah saya tunjukkan video rekaman yang beredar di ponsel, akhirnya dia mengaku,” katanya kemarin.

Berdasar rekaman tersebut dan pengakuan anaknya, LK melapor ke polisi kemarin. Sejauh ini, belum diketahui pasti pemimpin geng itu dan para anggotanya.

LK menceritakan, awalnya anaknya diundang dua teman sekolahnya ke suatu tempat. Tidak tahunya, dua temannya tersebut sudah dihajar Geng Nero. ”Setelah anak saya menyusul, ganti anak saya dipukul. Begitu saja yang diceritakan. Selebihnya tidak tahu pasti,” ujarnya.

Sabtu, 14 Juni 2008 ] Polisi Tangkap Geng Nero

Seluruh Anggotanya Perempuan, Sebagian Sudah Pindah

PATI – Sehari setelah terekspos media massa, polisi langsung menangkap anggota Geng Nero yang meresahkan warga Pati, Jawa Tengah. Anggota geng yang terdiri atas pelajar putri itu ditangkap di rumah masing-masing. Dari enam anggotanya, hanya empat yang berhasil diamankan. Dua anggota yang lain sudah pindah ke luar kota.

Yang berhasil ditangkap adalah Rt, Yn, My, dan Tk. Keempatnya tercatat duduk di bangku kelas I SMA di Juwana. Penangkapan dilakukan berdasarkan video penganiyaan yang beredar dari telepon seluler.

Sebagaimana diberitakan kemarin, para orang tua, terutama yang memiliki anak remaja putri, resah karena ulah geng tersebut. Geng itu suka menganiaya remaja putri, merekamnya lewat video telepon seluler (ponsel), dan kemudian mengedarkannya.

Berdasarkan laporan warga masyarakat dan rekaman yang beredar itu, polisi memburu para anggota geng tersebut. Empat orang di antara enam anggota geng itu berhasil diringkus.

Seorang anggota geng tadi, Rt, mengaku melakukan penganiayaan karena ada masalah dengan korban. Lantas, dia menceritakan kepada ketiga rekannya sesama anggota Geng Nero.

Atas cerita itulah, mereka lantas menghajar korban. Namun, Rt tidak menjelaskan apa masalahnya dengan korban.

Pelaku menjelaskan, rekaman video dibuat sekitar April lalu di Gang Cinta. Dalam aksi itu, Rt mengaku tidak ikut memukuli korban. Yang menampar ialah Tk dan Yn.

Keempat anggota geng tersebut tidak ingat berapa kali melakukan perbuatan serupa. Mereka juga tidak ingat lagi siapa saja yang menjadi korban. Mereka juga menolak menyebutkan pimpinan geng. Hanya dijelaskan bahwa geng Kapolres Pati AKBP Hilman Thayib melalui Kasatreskrim AKP Sulkhan menerangkan, anggota Geng Nero enam orang. ”Saat ini hanya tinggal empat orang. Dua orang lainnya sudah pindah, ke Bali dan Jogjakarta,” terangnya.
tersebut terbentuk saat mereka duduk di bangku SMP.

Meski telah berkurang dua orang, geng itu tetap beraksi. Namun, baru empat orang korban yang berani melapor polisi. Dan, hingga kemarin, polisi masih memeriksa saksi guna penyelidikan lebih lanjut.

Atas perbuatan itu, pelaku akan dikenakan pasal 170 KUHP tentang Kekerasan. Ancaman hukumannya maksimal tujuh tahun penjara.

H Jamari, anggota komite sekolah di Kecamatan Juwana dan Batangan menjelaskan, nama Geng Nero bukan tanpa arti. Nero berasal dari kata neka-neka dikeroyok (macam-macam dikeroyok). Ketika ada pelajar putri yang dianggap macam-macam oleh geng tersebut, mereka tak segan menculik dan menganiaya.

Menurut dia, pihak sekolah mengetahui kasus itu sekitar sebulan terakhir. ”Pihak sekolah sudah memanggil orang tua para anggota Geng Nero,” jelas Jamari. (ris/jpnn/ruk

Duh bener nie tanda-tanya besar, klo selama ini kita terbiasa disuguhkan berita kekerasan yang dilakukan oknum mahasiswa yaitu di tingkat perguruan Tinggi misal STPDN, STIP dan diduga banyak lagi, ternyata kasus inipun terjadi di tingkat pelajar, perempuan lagi.

Hmm jangan-jangan pencitraan/sifat berdasarkan jenis kelamin ini sudah tak relevan lagi ya secara biasanya wanita identik dengan kelembutan, kepekaan, kasih sayang, ngemong, welas asih ya semacam itulah, tapi serasa agak janggal kalau mereka malah melakukan tindakan premanisme and kekerasan seperti macan betina bahkan dalam usia yang masih bau kencur.

Gejala apa ini, bukannya di rumah atau di sekolah mereka kan diberi pelajaran agama,  budi pekerti, kemanusiaan, apalagi tindak perploncoan ini cuma dipicu oleh hal-hal sepele karena merasa diri lebih superior sebagai senior, persaingan yang ga penting menurut gw, eksistensi seperti bagaimana dan seperti apa yang ingin ditunjukkan mereka pada dunia??

Sudah tak mempankah pelajaran agama dan budi pekerti, sudah longgarkah pengawasan orang tua, kurang kasih sayangkah mereka, atau hanya luapan perasaan frustasi dan putus asa, atau punya masalah kejiwaan atau cuma faktor balas dendam, atau faktor apa ini, sepertinya masalah ini komplek ya entah dari mana harus memulai darimana menguraikannya, siapa yang lebih bertanggung jawab ? siapa yang lebih pantas disalahkan?? bagaimana peran para pendidik, orang tua, lingkungan bahkan negara untuk mencegah dan menanggulangi masalah ini.

Ah gw sungguh bingung, what really happen ?  bagaimana pendapat sodara-sodara )

Pairan (2) »

“Kegagalan Pendidikan Indonesia, Hanya 30% Siswa Yang Lulus UN 2008?”

Atun

Beberapa waktu yang lalu saya membuka home Friendster milik sekolah. Dalam testimonialnya, hampir 80% mereka mempermasalahkan Kebijakan Pemerintah tentang Ujian Nasional 2008. Perbincangan merekapun mengerucut kepada ketidak setujuan terhadap kebijakan tersebut.

Pemerintah plin-plan…!!Masa anak IPS harus ujian Matematika???!!Anak IPS tuh bukan anak exsac!!” “Pasti asyik…loh ujian sekarang banyak dapat uang…Ada banyak kecurangan...Ada banyak korupsi…Ada banyak dosa…Siap-siap ada yang harus rela dicopot lagi jabatannya, jadi lumayan ada lowongan pekerjaan”.

Sebagai seorang pelajar, saya pun berfikir bahwa pemerintah itu betul-betul plin-plan. Mengeluarkan peraturan yang gak konsisten. Mereka seolah-olah tidak memberikan waktu untuk para pelajar supaya beradaptasi dengan nilai UN tahun lalu, dan malah menggonta-gantinya dengan peraturan yang baru layaknya sebuah HP yang bisa digonta-ganti cashingnya.

Kalau toh emang pemerintah ingin memberikan yang terbaik bagi pendidikan, bukan seperti itu caranya. Negara tetangga seperti Singapura dan Malayasia saja bisa melakukan perubahan pembelajaran dengan cara bertahap, dan akhirnya mendapatkan hasil yang maksimal. Sedangkan negara kita sekarang, mendapatkan hasil “nol besar”. Hasil apa yang didapat? Bukannya banyak yang lulus dari UN tapi malah mendapatkan ketakutan akan sistem kelulusan yang “payah”. Jangankan kita sebagai pelajar dapat maju ilmunya, karena untuk maju dan berkembang saja harus takut dulu dengan keputusan pemerintah yang seperti itu.

Gak ada gunanya menetapkan sesuatu hal yang selalu membuat orang lain bingung sendiri untuk melaksanakannya. Yang penting konsisten dalam keputusan pemerintah dalam kelulusan, jangan plin-plan menentukan sistem kelulusan. Sedikit-sedikit ganti sistem, belum sampai setahun ganti lagi. Bagaimana siswa mau berhasil dengan baik kalo gak ada penyesuaian yang maksimal.

Pada tahun sebelumya saja terjadi banyak kescurangan yang tidak terdeteksi dan malah menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang bodoh. Apalagi bila sekarang secara mendesak ditambah menjadi 6 mata pelajaran. Lalu apa kata dunia? bila banyak siswa yang enggak lulus. Bukankah akan sangat memalukan jika di salah satu koran negara tetangga atau koran yang berkaliber internasional nantinya tertulis “Kegagalan Pendidikan Indonesia, Hanya 30% Siswa yang Lulus Ujian”.

Saya akui jika materi yang diujiankan 6 mata pelajaran bisa memberi dampak yang positif dalam bunia pendidikan. Pasalnya selain tidak akan terjadi diskriminasi pelajaran, siswa bisa termotivasi untuk belajar, dan sekolah bisa mengetahui sejauh mana kompetensi dasar lulusannya. Namun ingat hal tersebut bukan sesuatu yang mudah seperti membalikan telapak tangan namun butuh “proses”, dan proses itu sendiri pun tidak bisa langsung begitu saja. Harus ada selang waktu yang lama dengan penelitian yang maksimal agar sumber daya manusia yang di inginkan dapat di dapatkan.

Mohon maaf jika saya berkata kurang sopan dalam tulisan ini. Tapi ini lah unek-unek saya sebagai seorang pelajar yang harus disampaikan kepada pemerintah. Sebab tidak serta-merta segala hal dijadikan sebagai suatu kebijakan, apalagi secara mendesak. Karena semua itu membutuhkan sosialisasi yang harus dilakukan sejak awal.

Pairan (3) »

Kepala Sekolahku Seorang Pemulung

Ajang Eagle Award Documentary Competition 2007 yang diselenggarakan oleh salah satu statsiun TV swasta, dengan tema Hitam Putih Indonesia, telah selesai digelar. Kegiatan tersebut ternyata cukup menyita perhatian dan mendapatkan applause dari berbagai kalangan. Karena ajang seperti itu bukan sekedar adu kreatifitas. Nilai-nilai tentang nasionalisme pun terasa semakin begejolak. Kita jadi lebih tahu apa yang seharusnya kita ketahui. Sisi hitam kepemimpinan dan kepedulian negara bisa terkuak dan terlihat kebobrokannya.

“Kepala Sekolahku Seorang Pemulung”, itulah salah satu film pendek yang menjadi Finalis Eagle Award dan menjadi Film dengan ide Cerita terbaik membuat para penonton merasa teriris hatinya.. Film yang digarap langsung oleh Victor Benedict Doloksaribu dan Justis Arimba yang merupakan Mahasiswa salah satu Universitas Ibu Kota tersebut mengangkat kisah seorang kepala sekolah yang berprofesi ganda menjadi pemulung.

Mahmud yang merupakan tokoh utama dalam film ini adalah Kepala Skolah Madrasah

Tsanawiyah Tsafinatul Husnah di daerah Jakarta Barat. 28 tahun sudah dirinya menjadi guru honorer dengan gaji Rp. 500 ribu, jelas tak mencukupi untuk hidup bersama istri dan ketiga anaknya. Apalagi sang istri kini sedang sakit kanker otak. Memulung ia jadikan sebagai jalan keluarnya. 

Pada awalnya dia mencari penghasilan tambahan dengan memberi les privat. Namun karena  jadwal selalu berbenturan dengan tugas mengajarnya di sekolah, Mahmud meninggalkan les privat. Ia tak mau menelantarkan anak didiknya di sekolah, sehingga memulung barang-barang bekas dijadikannya sebagai pekerjaan sampingan. Tak jarang ketika memulung Mahmud bertemu dengan murid-murid dan para guru saat memulung. Namun ia tak pernah merasa malu. Karena Mahmud berkomitmen kalau selama pekerjaan yang ia lakukan tidak menyimpang dan menggangu tugas pokoknya, kenapa harus malu?.Pilihan sang kepala sekolah itupun untuk menjadi pemulung ternyata menimbulkan pro dan kontra di sekolahnya. Salah seorang guru menyatkan bahwa apa yang dilakukan Mahmud dianggap melecehkan martabat guru. menurutnya guru tidak boleh menyambi sebagai pemulung. 

Lain guru lain murid. Chaidar Ali, salah seorang muridnya mengaku, tak malu kepala

sekolahnya menjadi pemulung. Meskipun ia kerap melihat kepala sekolahnya itu memungut barang bekas, namun ia mengenal bahwa gurunya sebagai guru yang jujur.

Tidak jarang kaum guru mempunyai kehidupan seperti itu, dan mahmud merupakan salah satu contoh kehidupan bahwa sampai saat ini kaum Umar Bakri belum menemukan dan mendapatkan kesejahetraan. Jadi entah bagai mana masa depan kehidupan beribu-ribu Oemar Bakri selanjutnya? Seharusnya pemerintah Harusnya pemerintah, yang mungkin masih tertutup mata dan tersumbat pikirannya, merasa tertampar. Tamparan yang sangat pedas!

Bagaimana negara bisa maju jika keadaan para pendidik seperti ini. Padahal guru merupakan sosok yang paling inti dalam pendidikan dan membangun bangsa. Mungkin yang diwariskan dari satu orde ke orde berikutnya hanya kebodohan dan kemiskinan yang semakin menjamur.

Yah, semoga semakin banyak ajang serupa Eagle Award yang mengangkat penderitaan rakyat ke permukaan. Agar kita bisa belajar dari pengalaman, menjadi pribadi yang lebih baik dan negara yang lebih arif.

Tinggalkeun pairan »

SANG PENGINGAT

aku melangkah ke kelas dengan gontainya tampa menggunakan alas kaki. Perasaan kesal, jengkel dan ingin mara begitu bergejolak di dalam hati. Sebab sepatuku kena rajia oleh piket. huuh…. sebal… sebal… padahalkan tuh sepatu cuma ada goresan warna putih sedikit…dasar itu mah gurunya aja yang jutek + sirik mau sepatu ku. Lagian gak masuk akal juga …. kalo ada peraturan semua siswa harus memakai sepatu warna hitam. Oh my God…. Katro banget tuh aturan. Sekolah tu terlalu kolot+ absolut!!!

Tinggalkeun pairan »

Yang “Nyeleneh” dari Upacara Bendera

Biasanya di setiap hari Senin, di sekolah diadakan upacara bendera yang wajib diikuti oleh seluruh siswa-siswi, guru, staf tata usaha, bahkan pegawai lainnya yang berada di sekolah tersebut, walaupun itu sekolah swasta.

Tujuan upacara lazimnya adalah untuk mengingatkan kita atas jasa-jasa para pahlawan, memegang teguh pancasila, dan mensyukuri kemerdekaan kita. Tapi terkadang, tujuan upacara sedikit melenceng dari tujuan utamanya bagi para murid maupun guru, sebagai contoh akan saya jelaskan di bawah ini:

 Para murid: 

1. Ajang untuk saling bercerita dengan teman kelas/teman antar kelas, tentang kegiatan yang mereka lakukan pada malam minggu.

Bila murid cowok bercerita tentang “cewek yang mereka ajak pergi malam kemaren”, maka murid cewek bercerita tentang “apa yang menimpa mereka pada malam minggu kemaren”. Mungkin ada beberapa yang masih mendiskusikan tugas-tugas dan pelajaran-pelajaran,tapi karena kurang menarik, saya malas untuk membahasnya.

2. Tempat untuk berdiskusi untuk menentukan acara sepulang sekolah seperti: dimana? sama siapa aja? naik mobil siapa? eh gua mesti pulang dulu nih ambil baju ganti eh kemaren gua udah nonton film “a”, nanti jangan nonton filn “a” yah! eh jangan ajak si “b” yah, gua lagi bete sama si “b”!.

3. Saat yang tepat untuk saling memamerkan atribut2 yang mereka pakai. Karena disaat ini  seluruh angkatan bertemu, dan disini adalah saat yang tepat untuk memamerkan atribut mereka, antara lain: sepatu nike baru nitip sama ortu/kakak/kerabat dari singapur, ikat rambut yang beraneka ragam, bandana, potongan rambut baru, gelang yang seabrek-abrek dll.

 

Para Guru:

1.Tempat meminta dana kepada murid-murid.Seperti: tambahan dana untuk gedung,

fasilitas sekolah, yang entah dananya benar dipakai untuk keperluan-keperluan tersebut atau untuk menambah aksesori kendaraan pribadinya, biasanya motor.

2.Untuk saat bersenda gurau bersama rekan-rekan guru yang lain,apakah para wali kelas ato guru bidang studi.

Kadang terlihat dari kajauhan, 3 orang guru atau lebih, sedang tertawa-tawa kecil walau pembina upacara sedang memberikan amanat upacara.

3. Saat yang tepat untuk melecehkan siswa/siswi yang berkelakuan buruk pada  minggu kemarin, di depan 3 angkatan atau lebih. Karena tidak ada yang lebih baik mengisengi orang yang mereka kurang sukai, dengan cara membuat mereka malu di depan orang banyak.

 

2.Harapan-harapan Para Murid

Terkadang, upacara bukanlah suatu yang dinanti-nanti oleh para murid. Ini karena upacara terkadang durasinya melebihi waktu yang biasanya. Sekolah juga jarang memikirkan hal-hal di bawah ini:

-Hujan

Hal ini yang paling sering diharapkan ketika para murid sedang tidak “mood” untuk mengikuti upacara, dan hari ini mereka dapat pulang lebih cepat dari biasanya.

-Mati lampu

Bila mati lampu otomatis mic tidak nyala yang berarti pembina upacara tidak dapat berpidato.

-Pidato pembina sebentar

Bila hal ini terjadi, para murid bisa memanfaatkan waktu sisa yang sedikit ini untuk membeli makanan-makanan ringan di kantin.

-Bendera terbalik

Hal ini sering diharapkan, karena bagi para murid, hal ini adalah salah satu penghibur pada saat upacara.

-Pidato pembina panjang

Para murid mengharapkan hal ini terjadi, bila mereka ada ulangan pada jam pertama, dan terkadang ulangan tersebutditunda, karena waktunya terpotong oleh upacara.

-Lain lain

Seperti tersandung, salah berteriak, saling menabrak bagi paskibra. Lupa memberi hormat, memberikan erita-cerita lucu, jatuh dari mimbar bagi pembina upacara (hal ini terkadang dinantikan oleh para murid untuk ditertawakan, ini juga merupakan faktor mengapa bersemangat mengikuti upacara bendera).

Hal-hal yang terjadi pada saat upacara berlangsung beberapa siswi yang pura-pura pingsan atau pingsan beneran karena tidak tahan oleh panasnya terik sinar matahari, dan biasanya ada beberapa siswa laki-laki yg membantu untuk membawanya ke poliklinik (walau terkadang mereka membantu hanya untuk meninggalkan upacara).Siswa senior menggoda para siswi junior yang sedang bertugas menjadi Paskibra, saat mereka sedang berbaris untuk memasang Bendera Merah Putih.

Beberapa barisan yang terdiri dari siswa/siswi yang datang terlambat, lupa membawa dasi, berseragam salah, berisik saat upacara berlangsung. Mereka yang kurang beruntung ini biasanya ditempatkan di tempat-tempat yang langsung terkena sinar matahari.

Pairan (1) »